Hikayat Bunga Kemuning

 

Pada masa dahulu hiduplah seorang raja dengan sepuluh orang anaknya. Bisa dibayangkan hidup dengan sepuluh orang anak, yang mana kesemua anaknya  perempuan.       Amat sangat disayangkan, bahwa Raja telah kehilangan Permaisuri untuk selama-lamanya. Peristiwa yang membawa duka nestapa ini tidak membuat Raja dirundung kesedihan dalam kurun waktu lama. Kesepuluh putrinya itulah yang membuat Raja, kembali menemukan hidupnya. Apalagi terhadap putri bungsu, Raja menaruh perhatian lebih padanya. Hal itu bukan hanya dikarenakan wajah Putri Bungsu serupa dengan Permaisuri, tapi akhlak dan budi pekertinya bagai batang pinang terkelupas kulitnya, halus tanpa cela.

Kesepuluh putrinya masing-masing diberi nama sesuai dengan nama warna. Putri Sulung bernama Putri Jambon, sedangkan adik-adiknya bernama Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah, Putri Putih, Putri Biru dan yang bungsu bernama Putri Kuning. Nama-nama yang diberikan oleh  Raja kepada putri-putrinya ini bukan tanpa sebab, namun mengandung banyak makna. Kesepuluh putri Raja juga selalu menggunakan baju berwarna yang sama dengan namanya. Semua dimaksudkan sebagai pengingat, agar Raja tidak salah atau tertukar terhadap satu dan  lainnya.

Sebenarnya hampir semua paras Sang Putri cantik rupawan, tapi di balik rupawan wajah tersebut, Putri Raja  memiliki sifat  yang kurang baik kecuali Putri Bungsu. Padahal, baik Raja maupun Permaisuri memiliki akhlak mulia. Terbukti, dalam menjalankan titahnya sebagai seorang pemimpin, Raja dikenal sebagai Raja yang dihormati dan disegani oleh Raja-raja dari kerajaan lain. Bukan hanya bijaksana, Raja juga dikenal sebagai Raja yang adil dan selalu mementingkan urusan rakyat. Dikisahkan bahwa  Raja kerap kali berkeliling ke luar Istana dengan maksud ingin mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya. Bahkan tidak segan  Raja membawa bahan pokok dan diberikan pada rakyat, tanpa diketahui oleh rakyatnya karena Raja selalu menyembunyikan jati dirinya.  Raja yang lebih banyak berbuat daripada hanya berdiam diri di singgasana nan agung itu sangat dicintai oleh rakyatnya.

Perilaku Raja ini membuahkan hasil pada kejayaan dan kemasyuran kerajaannya. Banyak kerajaan-kerajaan lain mencontoh Raja, bagaimana cara memakmurkan rakyat dan menjaga kewibawaan kerajaan. Dengan senang hati Raja pun membagikan ilmu pada raja-raja lain. Menurut Raja, sudah seharusnya rasa empati seperti itu muncul dalam diri seorang pemimpin. Selain karena keturunan, tahta kerajaan  merupakan amanah dari  Penguasa Jagat Raya.

Sayangnya perilaku Raja yang bijaksana ini tidak menurun pada putri-putrinya, kecuali Putri Bungsu. Sebenarnya jauh sebelum Permaisuri meninggal, para putri raja memiliki sifat terpuji. Akan tetapi setelah Permaisuri meninggal, pengasuhan para putri raja dilanjutkan oleh Pengasuh Istana. Rasanya tidak mungkin jika Raja melakukan pengasuhan putri-putrinya seorang diri. Mengingat tugas dan tanggung jawab kerajaan amat berat. Entah apa sebabnya setelah diasuh oleh Pengasuh Istana, perilakunya berubah meski tidak seratus delapan puluh derajat. Kesembilan Putri Raja itu menjadi putri yang manja dan malas.

Mereka lebih suka memerintah Pengasuh Istana daripada mengerjakannya sendiri. Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk bermain, bersolek dan bersantai ketimbang belajar. Pengasuh Istana yang  menjalankan tugas atas titah Raja juga tidak bisa berbuat apa-apa.  Perilaku mereka jauh dari cerminan seorang putri Raja. Padahal sejatinya kepada merekalah kelak tahta ini diturunkan. Sungguh, Pengasuh Istana tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika kelak Putri Sulung menjadi Ratu di kerajaan ini. 

“Oh…Penguasa Yang Maha Agung,  kembalikan jati diri mereka semula,”begitu do’a Pengasuh Istana melihat perilaku putri-putri Raja.

Sungguh begitu, hati Pengasuh Istana masih sedikit terhibur, karena  perangai Putri Bungsu tidak seperti kakak-kakaknya. Selain memiliki kecantikan, Putri Bungsu juga memiliki perilaku terpuji. Lemah lembut, penyabar dan penuh kasih sayang pada siapapun, termasuk pada hewan dan tumbuhan. Kelebihan lain dari Putri Bungsu adalah dia sangat penurut terutama atas titah Ayahandanya. Hormat pada Ayah yang tidak lain seorang Raja, pun dengan pengawal, tabib istana, penjaga kebun, perawat kuda, dan pengasuhnya. Putri Bungsu yang bernama Putri Kuning ini, sangat sopan santun, tutur katanya halus dan pandai dalam segala hal. Kepandaiannya ini didapat dari pembelajaran demi pembelajaran. Rasa keingintahuannya terhadap ilmu pengetahuan juga sangat besar. Putri Kuning sangat suka belajar dan selalu tidak berpuas diri. Oleh karena itu dia selalu mencari ilmu untuk memperdalamnya lagi.

Kebijaksanaan Raja tidak terbatas hanya pada rakyatnya saja, kepada semua putri-putrinya Raja juga bersifat adil dan bijaksana. Kalaupun Raja sedikit perhatian pada Putri Kuning itu lantaran Putri Bungsunya menyimpan kemiripan wajah pada mendiang Permaisuri. Lagi pula Putri Bungsu tidak merasakan kasih sayang dari Permaisuri, karena tak berapa lama Putri Bungsu lahir Permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya. Jadilah Putri Bungsu tidak mengenyam asuhan  Ibunya bahkan mengenal wajahnyapun tidak. Sepertinya perlakuan Raja yang seperti itu sangatlah beralasan.

Pada suatu hari, Raja hendak melakukan perjalanan mengunjungi kerajaan lain. Sebelum berangkat, Raja memanggil kesepuluh putri-putrinya. Bertempat di ruang khusus berkumpul, para putri raja sudah duduk di kursinya masing-masing. Seperti kebiasaan pada jamuan makan, Putri Sulung duduk di sebelah kanan Raja, sedangkan Putri Bungsu berada di sebelah kiri.

“Wahai putri-putriku, bukan tanpa sebab Ayah memanggil kalian semua,”kata Raja penuh wibawa.

“Ada apakah gerangan Ayah memanggil kami ?”tanya Putri Sulung.

“Hmmm… putri-putriku, ketahuilah lusa Ayah akan mengunjungi Kerajaan di Wilayah Selatan. Kemungkinan Ayah akan pergi dalam waktu cukup lama,”demikian ujar Sang Ayah.

“Ayah minta agar kalian saling membantu satu sama lain.   

Lakukan tugas sehari-hari,”lanjut Ayahnya lagi.   

“Dan Engkau Putri Jambon, sebagai Putri Sulung, jaga adik-adikmu dengan baik.    

 “Selain itu Ayah juga ingin menanyakan sesuatu pada kalian,”terdengar kembali suara  Raja.      

 Rajapun terdiam sejenak.       

“Apakah itu Ayah ?”tanya Putri Hijau nampak bingung.

Suasana sedikit agak kaku. Para putri saling berpandangan satu sama lain. Mereka mengira-ngira apa yang hendak dikatakan oleh Sang Ayah.

“Dalam perjalanan nanti Ayah akan singgah di beberapa kota kerajaan. Ayah ingin memberikan hadiah pada kalian. Kalian boleh meminta apa saja yang kalian inginkan, sebutkan saja apa yang kalian inginkan,”terdengar jelas suara Sang Ayah.

Hanya dalam sesaat, suasana yang tadi nampak kaku, tiba-tiba mencair seketika. Semua putri-putri itu tersenyum lebar. Wajahnya merona, bak bunga mawar yang baru saja merekah. Mereka saling menoleh, kegaduhan mulai terdengar. Dan disaat semua putri raja meluapkan kegembiraannya, agak berbeda dengan Putri Kuning. Tidak ada semburat gembira apalagi rona bahagia di wajahnya. Putri Bungsu  hanya diam tertunduk. Matanya yang bulat dibiarkan menatap lantai. Hatinya sedikit gundah menyaksikan perilaku kakak-kakaknya.

“Hmmm…,”terdengar suara Sang Ayah kembali.                                                                                           “Baiklah mulai dari Putri Jambon, hadiah apa yang kau inginkan.”

Raja langsung memalingkan wajah ke arah Putri Jambon. Menunggu Putri Sulungnya mengatakan hadiah apa yang diinginkannya.  

“Aku ingin giwang bertahta berlian Ayah,”suara Putri Jambon terdengar sangat bahagia.    

 Lalu, berikutnya Raja menanyakan pada putri keduanya Putri Jingga.      

 “Aku ingin Ayah membelikan kain bersulam emas,”kata Putri Jingga.  

Raja lalu menanyakan pada putri berikutnya, sampai akhirnya tibalah pada Putri Bungsu.   

“Nah, kau Putri Kuning. Hadiah apa yang kau inginkan. Katakanlah wahai putriku.”                                 

Semua mata kakak-kakaknya tertuju pada dirinya. Dipandangi oleh Sembilan orang kakaknya membuat Putri Kuning jadi rikuh.

“Sebelumnya aku minta maaf Ayah,”suara Putri Kuning mulai terdengar meski agak terbata-bata.

Sang Ayah mengerutkan dahinya.     

“Aku takut permintaan ini tidak berkenan di hati Ayah.    

Mendengar hal tersebut, kakak-kakaknya saling berpandangan. Semua menunjukkan ketidaksukaannya pada Putri Kuning. Mereka menduga bahwa Putri Kuning akan meminta hadiah yang lebih mahal daripada mereka. Bahkan beberapa orang kakaknya ada yang mencibir. Semua menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Putri Kuning, termasuk Sang Ayah. Mereka nampak tidak sabar menunggu permintaan Putri Bungsu. Karena mereka semua tahu, bahwa betapa sayangnya Ayah pada Putri Kuning, jadi apa saja yang diminta Putri Kuning bukan mustahil akan dikabulkan.

“Ng…ng…ng…aku mau, aku mau…,”sampai di sini Putri Kuning tidak melanjutkan kata-katanya.

Sebenarnya dia tidak ragu menyampaikan keinginannya. Hanya saja sikap kakak-kakaknya itu membuatnya sedikit takut. Justru sekarang dia mulai menengadahkan wajahnya. Dipandangi kakak-kakaknya satu persatu. Kemudian…            

“Aku mau Ayah pulang dengan selamat,”ujarnya lembut.   Itulah hadiah yang aku inginkan, Ayah. Karena tidak ada hadiah yang lebih berharga selain keselamatan Ayah,”ujar Putri Kuning panjang lebar.

Perkataan Putri Kuning  membuat kakak-kakaknya cukup terkejut.

Mereka semua tidak menyangka kalau permintaan adik bungsunya  sedemikian rupa. Demikian pula dengan Sang Ayah. Dipandangi wajah putri bungsu  dengan penuh cinta kasih. Jauh di dalam lubuk sanubari, beliau ingin sekali memeluk putri bungsunya itu.  Dan, tiba-tiba saja selintas Sang Raja teringat oleh mendiang Pemaisuri. Beliau merasa bahwa Putri Bungsunya seperti duplikat dari Permaisuri.

Hari yang dinanti tiba, setelah segala sesuatunya siap  Raja pun berangkat dengan diantar oleh kesepuluh putrinya. Perjalanan kali ini memang terasa sangat berat. Setelah sekian lama sejak Permaisuri meninggal baru sekarang Raja bepergian jauh dalam kurun waktu lama. Akan tetapi Raja harus melakukan semua ini, semata-mata agar putri-putrinya belajar mandiri. Sebab berdasarkan laporan dari Pengasuh Istana, kesembilan putri Raja memiliki tabiat kurang baik. Satu-satunya putri raja yang berperilaku baik hanyalah Putri Bungsu. Namun dalam tahta kerajaan, Putri Sulunglah yang lebih berhak menerima gelar Ratu, setelah Raja nanti mangkat.

Laporan Pengasuh Istana membuat Raja berpikir, mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut. Maka diputuskanlah oleh Raja, untuk pergi mengunjungi kerajaan sahabatnya. Selain untuk menjalin persahabatan, Raja juga hendak mencari pengalaman bagaimana mempersiapkan seorang putri jika kelak dirinya mangkat.

Sepeninggal Sang Ayah, para putri raja melakukan kegiatannya masing-masing. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, tabiat buruk dari kesembilan putri raja kembali muncul. Bahkan sejak Sang Ayah pergi sifat malas dan manja kesembilan putri raja diperlihatkan dengan terang-terangan. Perilaku ini tentu saja menyulitkan Pengasuh Istana. Perilaku berbeda justru ditunjukkan oleh Putri Kuning. Di saat kakaknya bermalas-malasan, Putri Kuning justru banyak membantu Pengasuh Istana. Seperti pada sore hari itu, Putri Kuning sedang menyiram bunga di taman belakang Istana. Taman bunga ini adalah taman kesayangan Sang Ayah. Oleh sebab itu, Putri Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.

Sedang asyiknya Putri Kuning menyiram bunga, tiba-tiba dia mendengar seseorang berteriak.  

”Hei…lihat ada tukang kebun baru tuh !”teriak Putri Hijau mengejek.        

Mendengar Putri Hijau berteriak membuat putri-putri yang lain berlari menghampiri. Mereka ingin melihat siapa tukang kebun yang dimaksud. Akan tetapi setelah mereka melihat Putri Kuning yang sedang menyiram bunga, merekapun tertawa terbahak-bahak. Putri Kuning menoleh, menyaksikan kakak-kakaknya yang sedang mengejeknya. Semua itu diterima oleh Putri Kuning dengan penuh kesabaran.

“Ha…ha…ha…eh Kuning, kalau sudah selesai menyiram bunga, buatkan kami teh hangat tanpa gula. Ingat ya ! Tidak pakai gula !”teriak Putri Merah. “Oh…ya  setelah itu jangan lupa bawakan baju kami yang sudah rapi,”tambah Putri Kelabu.  

Begitulah perilaku kakak-kakaknya pada Putri Kuning. Sejak Sang Ayah pergi, Putri Kuning menjadi bulan-bulanan  mereka. Bukan sekali saja Putri Kuning mendapat perlakuan seperti itu. Selain memerintah, Putri Kuning pernah beberapa kali mendapat perlakuan kasar. Pernah sekali waktu rambut Putri Kuning yang sedang digerai, ditarik. Putri Kuning terhuyung, untung saja tangan Putri Kuning langsung meraih pilar Istana. Jika sampai telat maka Putri Kuning bisa jatuh dan terbentur lantai.

Setelah puas memperlakukan Putri Kuning, kakak-kakaknya kembali bersantai dan bersolek, sedangkan Putri Kuning tetap melanjutkan pekerjaannya. Kesabaran Putri Kuning membuat iba para penghuni istana lainnya. Seharusnya mereka tidak pantas melakukan hal itu pada adik bungsunya. Perbuatan kakak-kakaknya sudah di luar batas seorang putri. Entah apa sebabnya mereka berlaku demikian terhadap Putri Kuning. Padahal mereka adalah saudara sekandung. Jadi mereka tidak memiliki alasan untuk berbuat jahat pada adik bungsunya.

“Kuniiiiiiiiiiiiiing…mana teh nya,”teriak Putri Merah. Cepat bawa ke sini,”perintah Putri Merah mulai marah.   

Tak berapa lama kemudian, Putri Kuning datang dengan tergopoh-gopoh sembari membawa baki berisi teh. Belum sampai teh itu diletakkan di meja,  Putri Kuning terjatuh. Baki berisi teh terlepas dari tangannya. Lalu terdengar bunyi gelas pecah berserakan ke mana-mana. Kali ini Putri Kuning mendapat perlakuan jahat dari Putri Biru. Ternyata kaki Putri Kuning dihalangi pada waktu melangkah. Sampai akhirnya Putri Kuning jatuh tersungkur. Melihat Putri Kuning terjatuh semua kakaknya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka senang melihat adik bungsunya berada dalam kesulitan.

Untung saja Pengasuh Istana cepat datang, membantu Putri Kuning membersihkan pecahan gelas.

“Makanya kalau disuruh jangan terlalu lama, rasakan sendiri akibatnya,”maki Putri Biru dengan mata melotot.

Lalu merekapun meninggalkan Putri Kuning yang masih termenung. Melihat kejadian itu Pengasuh Istana merasa kasihan dengan Putri Kuning. Sepeninggal mereka Putri Kuning berkata lirih.

“Mengapa mereka seperti itu ya emban ?”tanya Putri Kuning menahan tangis. Apa salah ku ? Bukankah aku ini adik kandung mereka ?

Putri Kuning terus menerus bertanya. Apalah daya Pengasuh Istana tidak bisa menjawab, karena memang dia sendiri tidak tahu menahu mengapa Putri Kuning sangat dibenci oleh kakak-kakaknya.

Setelah genap tiga puluh hari Sang Ayah pergi, akhirnya hari kepulangan pun tiba. Tentu saja hal ini membuat semua putri-putri Raja gembira, tanpa kecuali Putri Kuning. Kedatangan Ayahnya ini memang sangat ditunggu-tunggu. Berbeda pada kesembilan kakaknya, yang menantikan hadiah, Putri Kuning justru merasa sangat rindu pada Ayahnya.

Tidak berbeda pada saat kepergian, maka keesokan harinya seluruh putri-putri raja sudah berhias diri dan mengenakan gaun indah sesuai dengan warnanya. Mereka bersiap menyambut kedatangan Ayahnya. Begitu pula dengan seluruh penghuni Istana, jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu demi menyambut Raja mereka. Kesembilan putri raja sudah bersiap menyambut kedatangan Raja di depan Istana. Tapi Putri Kuning belum nampak. Lalu Putri Jambon si kakak sulung membisikkan sesuatu pada Putri Biru.

Setelah itu tampak Putri Biru keluar dari barisan menuju tangga Istana.

Tok…tok…tok. “Kuning…kuning…buka pintunya,”terdengar suara Putri Biru.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Cepat turun, Ayah sudah sampai di perbatasan, sebentar lagi tiba,”perintah Putri Biru. “Oh…ya, jangan menceritakan apa-apa kepada Ayah. Kalau sampai Ayah tahu, maka kau rasakan akibatnya,”ancam Putri Biru.

Karena merasa diancam, Putri Kuning menuruti perintah Putri Biru dan bergabung bersama kakak-kakaknya yang lain.

Setibanya di Istana, Raja meminta putri-putrinya untuk berkumpul di ruang tempat biasa berkumpul. Seperti biasa putri-putrinya sudah siap duduk di tempat masing-masing dan siap menerima hadiah pesanan mereka.

“Ayah, apakah Ayah membawakan pesananku ?”tanya Putri Jambon tidak sabar. “Ya…Ayah, apakah pesananku juga ada ?”tanya yang lain bersahutan.

Sang Ayah lalu memerintahkan Pelayan Istana untuk mengambil koper miliknya.  Dan atas perintah Raja pula, Pelayan itu mengeluarkan benda-benda dari dalam koper. Melihat begitu banyak hadiah yang dibawa, mata putri-putri raja terbelalak dibuatnya.

“Oh…Ayah, aku hampir tak percaya, semua seperti mimpi,”seru Putri Jambon. “Semua hadiah ini begitu indah,”timpal Putri Orange riang.

Tak lama kemudian Raja memberikan hadiah kepada putri-putrinya berdasarkan  pesanan  masing-masing. Pada saat kesembilan kakaknya sibuk dengan hadiahnya, Putri Kuning mencari kesempatan untuk bicara pada Ayahnya.

“Selamat datang kembali di Istana Ayah,”kata Putri Kuning. Syukurlah Ayah telah kembali dengan selamat,”lanjutnya lagi. “Terimakasih putriku,”balas Raja. Maafkan Ayah. Ayah tidak menemukan hadiah yang pantas buatmu. Ayah hanya membawakan kalung ini untukmu,”ujar Raja. “Terimakasih Ayah. Melihat Ayah kembali dalam keadaan selamat sudah membuat aku bahagia,”ucap Putri Kuning.

Putri Kuning lalu menerima kalung pemberian Ayahnya dengan suka cita. Sebelum Raja meninggalkan ruangan itu, Raja kembali berkata,“Wahai putri-putriku, besok malam kita adakan jamuan makan bersama. Untuk acara itu, Ayah minta kenakanlah hadiah kalian masing-masing,”perintah Raja pada putri-putrinya.

Keesokan harinya, Raja menggelar acara jamuan makan bersama. Acara ini bukan hanya untuk kalangan keluarga saja. Beberapa penghuni Istana juga diundang. Maksud dari diselenggarakannya acara jamuan ini adalah untuk lebih mengakrabkan putri-putrinya dengan seluruh penghuni Istana. Raja paham betul, bahwa dirinya tidak boleh melakukan acara sekehendak hatinya. Raja tidak mau terus menerus berpesta pora sementara masih banyak rakyatnya yang hidup susah. Raja selalu berpikir ulang bila ingin melakukan sesuatu. Akan tetapi kali ini, setelah beberapa tahun Istana tidak pernah lagi menggelar acara jamuan, diadakanlah acara tersebut.

Seperti yang sudah diperintahkan oleh Raja kepada putri-putrinya,  dalam acara tersebut semua putri Raja mengenakan hadiah pemberian Ayahnya. Begitu pula dengan Putri Kuning, dia memakai gaun berwarna kuning dan kalung pemberian Ayahnya. Hanya saja ada yang berbeda pada kalung itu. Bandul yang terdapat pada kalung tersebut berwarna hijau, bukan berwarna kuning seperti namanya. Hal ini pasti akan menjadi pertanyaan para tamu yang hadir nanti, demikian pula dengan Putri Hijau. Bukankah sebenarnya kalung itu diberikan kepada Putri Hijau ?

Kepolosan Putri Kuning ditambah lagi rasa hormat pada Ayahnya membuat dia tidak ragu-ragu memakai kalung itu. Lagipula tidak ada yang salah dengan kalung tersebut. Kalaupun bandulnya berwarna hijau lantaran Ayah tidak menemukan bandul berwarna kuning. Baginya kalung itu adalah pemberian dari Ayah tanpa dia harus memintanya. Tidak seperti kakak-kakaknya yang lain, Putri Kuning tidak mau merepotkan tugas kerajaan Sang Ayah. Karena dia tahu betul, bahwa Ayahnya pergi bukan untuk senang-senang tapi menjalankan tugas kerajaan. Tugas Ayah sebagai seorang Raja sangat berat, di pundak Ayah semua beban dan tanggung jawab rakyat berada.

Sebagai seorang anak, dia merasa harus membantu tugas Ayahnya tersebut meskipun Putri Kuning  tahu bahwa dirinya tidak berhak atas tahta Sang Ayah. Kakak Sulungnyalah yang lebih berhak atas tahta kerajaan jika Sang Ayah nanti mangkat. Namun walau bagaimanapun dia juga merupakan bagian dari kerajaan ini.  Pemikiran Putri Kuning sungguh luar biasa, jauh berbeda dengan kakak-kakaknya. Sementara mereka lebih senang bermain, bersenda gurau dan bersolek  Putri Kuning justru sudah memikirkan masa depan kerajaannya. Bagaimana menyejahterakan rakyat dan menjaga sikap agar dapat adil serta bijaksana. Diam-diam semua dipelajarinya, mulai dari kitab-kitab milik Ayahnya atau banyak bertanya pada beberapa punggawa Istana.

Acara jamuan sebentar lagi dimulai, para undangan sudah berdatangan. Seperti biasa, kakak-kakak Putri Kuning juga sudah hadir di ruangan tempat acara jamuan digelar. Akan tetapi, Putri Kuning belum nampak hadir di antara mereka. Kemanakah gerangan Putri Kuning ? Menyadari bahwa Putri Kuning belum hadir,  mereka lalu saling berbisik. Sampai pada akhirnya, semua mata tertuju pada tangga Istana nan megah itu.  Di atas tangga, mereka melihat Putri Kuning sedang menuruni anak tangga setahap demi setahap. Mereka terkesiap melihat kecantikan Putri Kuning yang terlihat anggun dengan busana berwarna kuning dan tak ketinggalan pula kalung pemberian Sang Ayah.

Sayangnya tidak semua mata yang memandang merasakan kebahagiaan, mereka adalah kesembilan kakak Putri Kuning. Perasaan iri dan dengki mulai bergelayut dalam hati kesembilan kakaknya. Bukan apa-apa, Putri Kuning yang merupakan adik bungsu mereka sudah berhasil menarik perhatian tamu-tamu. Padahal kakak-kakaknya sudah berusaha untuk tampil secantik mungkin.

Belum lagi mata mereka beralih pandang dari Putri Kuning, terdengar suara dari petugas Istana. Petugas Istana mengumumkan pada para tamu untuk berdiri sejenak, karena Raja akan tiba di tempat jamuan. Tak lama kemudian, Raja sudah berada di tempat dan menduduki singgasananya. Petugas Istanapun mempersilakan para tamu untuk duduk kembali. Demikian pula dengan putri-putri Raja, mereka sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Setelah Raja memberikan sedikit kata pembuka, acara dilanjutkan dengan mencicipi makanan.

Pada saat inilah, Putri Hijau melihat kalung yang dikenakan oleh Putri Kuning.

“Loh…kenapa Putri Kuning memakai kalung berwarna hijau ?”tanyanya dalam hati. Bukankah seharusnya kalung itu jadi milikku ? Awas ya ! Kalau besok dia tidak memberikannya padaku, rasakan akibatnya !”ancam Putri Hijau masih dalam hati.

Benar saja, keesokan harinya Putri Hijau yang sudah menghasut saudara lainnya menemui Putri Kuning di kamarnya.

“Hei…Kuning, mengapa engkau memakai kalung yang bukan milikmu ? Bukankah kalung itu sepantasnya menjadi milikku. Kalung bandul hijau itu tidak pantas jadi milikmu ! Sini…kembalikan padaku,”suara Putri Hijau terdengar sangat keras.  

“Jangan…jangan…kalung itu pemberian dari Ayah,”ucap Putri Kuning mulai menangis. 

Tidak ! Kamu pasti mencurinya dari saku Ayah. Ayo, cepat kembalikan !”Putri Hijau kembali memaksa.

Putri Kuning berusaha untuk mempertahankan kalungnya. Sedangkan Putri Hijau ingin merampasnya. Perkelahianpun tak dapat terelakkan lagi.

Amat disayangkan perkelahian itu tidak berimbang. Putri Kuning kewalahan menghadapi kakak-kakaknya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka memukul kepala Putri Kuning. Dan Putri Kuning terjatuh. Pingsan. Perkelahian terhenti. Putri Jingga memeriksa Putri Kuning yang sudah mengeluarkan darah dari belakang kepalanya.

“Astaga ! Dia sudah mati !”teriak Putri Jingga histeris.  Saudara-saudara yang lain pun ikut kaget.

“Kita harus menguburnya,”seru Putri Jambon.

Lalu, mereka bersama-sama mengangkat tubuh Putri Kuning yang sudah tidak bernyawa lagi. Dengan dipenuhi rasa takut mereka mengubur Putri Kuning di kebun belakang Istana.

Beberapa hari kemudian, Raja merasa bahwa beliau tidak melihat Putri Kuning. Raja segera memanggil putri-putrinya yang lain. Satu persatu mereka ditanya kemana Putri Kuning. Semua putri-putrinya hanya bisa menggeleng dan diam seribu bahasa. Karena semua putrinya tidak mengetahui, maka dipanggillah Pengasuh Istana dan seluruh penghuni Istana. Merekapun semua ditanya tentang keberadaan Putri Kuning. Sayang sungguh sayang, mereka semua menjawab tidak  tahu ke mana Putri Kuning. Akhirnya Raja memerintahkan Pengawal Istana untuk mencari Putri Kuning, bahkan sampai ke pelosok negri sekalipun. Namun hasil pencarian itu sia-sia. Putri Kuning juga tidak diketemukan.

Raja sangat sedih kehilangan Putri Kuning, putri kesayangannya.

“Ah…aku ini Ayah yang buruk. Aku tidak bisa mendidik putri-putriku tentang budi pekerti yang luhur. Bukan hanya itu. Aku juga tidak bisa melindungi putri kesayanganku. Kuning…kuning, maafkan Ayah Nak,”ujar Raja penuh penyesalan.

Akhirnya Raja mengirim kesembilan putrinya ke negri yang jauh, untuk belajar budi pekerti dan akhlak yang baik. Raja berharap dengan begitu mereka bisa belajar kemandirian, tidak malas dan tidak manja. Ini adalah jalan terakhir, meskipun dengan berat hati Raja harus melakukannya. Raja ingin supaya kelak jika dia mangkat maka Putri Sulung bisa menjadi Ratu yang adil seperti dirinya. Karena sejak Putri Kuning menghilang, Raja tidak memiliki pilihan lain kecuali mendidik kesembilan putrinya untuk berlaku baik.

Semenjak kepergian putri-putrinya Raja merasa sangat kesepian. Hingga pada suatu sore, Raja sedang berjalan-jalan di taman belakang Istana. Taman yang penuh bunga-bunga ini mengingatkan dirinya pada Putri Kuning. Ya, hanya Putri Kuninglah yang rajin merawat taman ini. Tiba-tiba langkah Raja terhenti, tatkala pandangannya melihat sebuah pohon bunga. Pohon bunga itu memiliki batang yang banyak, daunnya kecil-kecil dan bunganya berwarna putih. Bunganya juga kecil-kecil. Raja semakin penasaran dengan tanaman tersebut. Maka Raja mendekatinya, lalu memetik sekuntum bunga itu. Diciumnya dan…

“Hmmm…aroma bunga ini sepertinya tak asing lagi bagiku,”gumam Raja. Ah…untuk kesekian kalinya Raja teringat pada Putri Bungsunya, Putri Kuning. “Tapi…siapa yang menanam bunga ini ?”tanya Raja masih dalam hati.

Saat itu juga Raja memanggil tukang kebun Istana dan menanyakan apakah dia yang menanam bunga ini. Tukang kebun Istana menggeleng, artinya bukan dia yang menanamnya. Akhirnya Raja menamakan bunga itu Kemuning dan memerintahkan tukang kebun untuk merawatnya. Ya, tanpa sepengetahuan Raja, bahwa tanah tempat bunga Kemuning itu tumbuh adalah tempat jasad di mana Putri Kuning dikubur oleh kakak-kakaknya. Sampai saat ini, Bunga Kemuning masih banyak dijumpai, beberapa bagian pohonnya sangat berguna, sebut saja bisa untuk bahan pembuat bedak, minyak wangi, minyak rambut dan lain sebagainya. Semua ini menandakan betapa mulianya sifat dan sikap Putri Kuning. Bahkan sampai Putri Kuning sudah meninggalpun, segala kebaikannya masih dikenang oleh orang banyak.

T A M A T

Medictrust Wadah Arsip Kesehatan


Tiga tahun terakhir ini, Papieh—panggilan saya ke suami punya jadwal rutin ke dokter, terutama dokter spesialis Orthopedi. Pasalnya tiga tahun yang lalu, Papieh terdiagnosa penyakit HNP atau sering juga disebut Syaraf Kejepit. Dokter yang mendiagnosa memutuskan agar Papieh dioperasi. Sebenarnya saya agak keberatan dengan keputusan dokter, mengingat usia Papieh yang sudah lanjut ditambah lagi dengan penyakit lainnya. Ya, selain diserang HNP, Papieh juga memiliki riwayat asma dan gangguan pencernaan ( sembelit ). Jadi pada saat akan dilakukan operasi, dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Mulai dari jantung, paru-paru, tekanan darah dan tentu saja tulang punggung belakang.

medictrust 6

Kartu konsul ke dokter

Selama tiga tahun itu pula, Papieh rutin dua atau tiga kali ke dokter untuk mengecek kesehatannya. Cek Up rutin ini, tidak jarang membuat saya sering lupa, mau ke dokter siapa, jadwal dokternya dan obat-obatnya. Bahkan beberapa kali pernah terjadi, saat sudah konsul dengan dokterpun masih aja ada berkas yang lupa dibawa atau bahkan hilang. Kalau sudah kejadian begitu biasanya kami diminta untuk menunggu di luar sampai file yang dibutuhkan sudah ada.

Medictrust 7

Hasil laboratorium

Berobat secara rutin selama 3 tahun membuat file medis Papieh menumpuk. Biasanya bila saya punya waktu, maka saya akan membereskannya. Dibuang ? Oh tidak, file medis tidak boleh dibuang karena ini menyangkut riwayat penyakit, diagnosa dan obat-obatan. Contohnya seperti kejadian baru-baru ini, Papieh kena serangan asma, seperti biasa kalau ada serangan mendadak Papieh langsung minum obat racikan dari dokter spesialis paru-paru. Namun kejadian kemarin itu sama sekali tidak biasa, setelah minum obat plus diuap pun asmanya nggak berkurang.

Karena panik, saya memutuskan membawa Papieh ke UGD rumah sakit langganan. Oleh dokter UGD Papieh diberi pertolongan pertama, tapi tetap saja harus menjalani observasi lebih lanjut alias rawat inap. Setelah ditangani oleh dokter yang biasa merawat, saya diberitahu bahwa asma Papieh sudah mulai akut. Artinya obat yang biasa diminum harus diganti atau dosisnya ditambah.

Medictrust 8

Hasil rontgen yang disimpan dlm disk ( VCD)

Saya jadi tahu, inilah yang dinamakan riwayat penyakit, setiap saat bisa berubah sesuai dengan kondisi pasien. Makanya saya disarankan agar file medis jangan dibuang, tapi harus tetap disimpan. Karena file itu bisa jadi acuan dokter, para perawat juga bilang kalau mengandalkan dokumen dari rumah sakit prosesnya akan lama. Jadi bisa dibayangkan selama berobat tiga tahun itu, file medis Papieh sudah menumpuk, apalagi hasil laboratorium dan rotgen. Biasanya selain dirapikan, file medis itu saya simpan dengan cara discan. Saya pikir, cuma itu jalan satu-satunya agar lebih terjaga dari kehilangan atau rusak.

Medictrust 2

Apps Medictrust sudah ada dlm gadget saya

medictrust3

Saya langsung menjadi member Medictrust

Pas saya lagi perlu pas ada terobosan baru yang kekinian, yaitu sebuah aplikasi untuk menyimpan file medis. Terobosan dalam dunia digital ini dapat memudahkan orang terutama saya untuk menyimpan atau mengarsipkan file medis. Lebih canggihnya lagi, aplikasi ini didownload lewat gadget atau smartphone, jadi file medis yang tersimpan bersifat mobile. Dengan kata lain apabila saya sedang mengantar suami konsul ke dokter, saya tidak perlu lagi membawa file medis Papieh yang masih berupa kertas atau disk ( VCD ).

Nama aplikasi ini adalah Medictrust, setelah didownload saya langsung mendaftar jadi member. Data yang saya input adalah data saya, seperti usia, golongan darah dan berat badan. Karena aplikasi ini bersifat pribadi, jadi saya beum bisa menggunakan Aplikasi Medictrust untuk menyimpa file medis suami. Nah, untuk masalah ini saya langsung tanya-tanya sama admin Medictrust di laman Fanpagenya. Saya tanya apakah Aplikasi Medictrust bisa dipakai berdua dengan suami. Jawaban yang saya terima cukup jelas, jadi bila ada pertanyaan seputar penggunaan Aplikasi Medictrust ini, Anda bisa langsung menuju Fanpage Medictrust atau bisa juga berinteraksi via Twitternya.

medictrust 5

Alur penggunaan Apps Medictrust

Aplikasi Medictrust ini simple banget, semua data tentang kesehatan member bisa terupload dengan lengkap. Fitur-fiturnya juga sudah mewakili semua kondisi member. Sejatinya Aplikasi Medictrust ini bukan hanya digunakan untuk member personal saja. Kalau saya lihat, Aplikasi Medictrust bisa juga digunakan oleh pihak rumah sakit atau dokter, terutama dokter yang praktek di luar rumah sakit. Dan satu hal yang paling saya suka yaitu, kehadiran Aplikasi Medictrust ini ikut menjaga kelestarian lingkungan. Karena penggunaan Aplikasi Medictrust ini secara otomatis akan mengurangi penggunaan kertas. Kalau saya lihat file Papieh yang disimpan di rumah sakit, maka saya akan bilang, “Wow… Medictrust is Amazing !”.

medictrust 4

Chat saya di Fanpage Medictrust

Ah, rasanya saya sedikit lega, karena saya sudah tidak pusing lagi ngurusin file medisnya Papieh. Mulai dari jadwal konsul ke dokter, hasil cek laboratorium, resep obat sampai hasil rontgen bisa disimpan dengan baik tanpa takut ketinggalan apalagi hilang. Jadi jika Anda memiliki masalah yang sama seperti saya, nggak usah bingung lagi, langsung download aja Aplikasi Medictrust di gadget Anda. Salam sehat…!

Memorable With Biji Ketapang

Selain kue Kembang Goyang, setiap kali lebaran ibu juga selalu membuat kue yang satu ini. Dalam hati saya waktu itu, ini kue apaan lagi sih, bentuknya aja dah nggak karuan apalagi rasanya, simple dan mudah membuatnya. Karena kue ini mudah membuatnya, maka saya diminta ibu untuk membantunya. Biasanya setelah kue ini diuleni, dipulung-pulung memanjang oleh ibu, maka saya kebagian menggunting. Ibu mencontohkan cara mengguntingnya, yaitu digunting serong, mirip mengiris cabe. Untuk kue yang satu ini, saya juga nggak terlalu banyak komentar, alasannya selain mudah membuatnya, kue ini merupakan kue kesukaan bapak. Ya, ibu senang sekali memanjakan lidah bapak. Buat ibu, bapak adalah mahluk yang paling dihormati sekaligus disayanginya. Pokoknya hormat ibu pada bapak nggak ada yang menandingi sekampung deh.

Setelah kue ini matang, lau kue ini disimpan dalam toples kaca, dan… tidak dibagi-bagikan. Saya pernah bertanya, kenapa bukan kue ini saja yang dibagi-bagikan ke tetangga ? Ibu bilang ini kue kesukaan bapak, lagipula hampir semua orang bisa membuat kue ini. Alasan ibu lagi katanya sih bapak cuma mau kue buatan ibu. Dulu pernah ada yang mengirimi ibu kue yang sama tapi pas dicoba sama bapak, bapak nggak mau. Kata bapak ko kuenya rasanya beda, ini pasti bukan kue buatan ibu. Oh no, ternyata bapak benar-benar menyayangi ibu, buktinya bapak cuma mau kue buatan ibu. Kalau waktu itu saya sudah besar, mungkin saya akan bilang so…sweet…

Jujur saja saya juga kurang suka sama kue ini, tapi karena ini kue kesukaan bapak jadilah saya belajar menyukainya. Kata ibu, salah satu cara menghormati orang, baik itu orang tua ataupun orang lain adalah dengan menghargai apa yang mereka sukai. Perilaku seperti itu akan membuat orang lain senang, kalaupun ingin beda pendapat ungkapankan dengan baik dan sopan, begitulah nasehat ibu. Akhirnya jadilah saya mencicipi kue itu, rasanya manis, gurih dan agak keras. Masih kata ibu, sebenarnya kue itu bisa dibikin lebih empuk tinggal tambah menteganya aja. Tapi bapak lebih suka yang agak keras, jadi ukuran menteganya ibu kurangi, sedangkan gula pasirnya ditambah. Wah…wah…saya jadi mikir bahwa ini kue bapak banget. Oalah…saking hormatnya ibu sama bapak, sampai-sampai selera bapak dituang dalam kue ini.

IMG-20140918-00356

Bapak bersama cucunya

Karena setiap lebaran saya selalu diminta ibu untuk membuat kue itu, maka sayapun jadi hapal resep kuenya. Dan, setelah ibu tiada, bapak selalu meminta saya untuk membuat kue itu, bahkan bapak juga meminta saya rasanya harus persis sama dengan yang dibuat ibu. Entah sengaja atau tidak, sewaktu ibu masih ada, ibu menyuruh saya untuk mencatat resep kue itu. Saya sama sekali tidak memiliki firasat apa-apa tentang hal itu. Tapi setelah ibu tiada, semua jadi terkuak, bahwa ibu mewariskan resep itu pada saya karena ibu akan pergi. Hal itu dilakukan karena firasat ibu, bahwa sebentar lagi ibu tidak bisa mendampingi bapak lebih lama. Dan, saya sebagi anak perempuan satu-satunya harus bisa membuatkan kue itu untuk bapak. Ah, ternyata semua yang ibu ajarkan pada saya adalah pertanda bahwa ibu akan meninggalkan kami selama-lamanya…

( Terus terang sampai di sini saya benar-benar nggak kuat menahan air mata, airmata saya langsung jatuh. Kangen sama ibu dan semua nasehatnya, pelajaran ibu yang paling berharga adalah bahwa seorang istri harus berbakti pada suami, itu merupakan hal terbaik dalam hidupnya. Pahala yang tak ternilai, bahkan syurga sebagai balasannya. Ya… Allah kasihi ibu, sayangi ibu, terima semua kebaikan ibu… Amiiiin…)

Dan tiga hari yang lalu, bapak menelpon saya mengingatkan agar tidak lupa membuatkan kue istimewanya. Padahal saya tahu betul, buat bapak kue itu bukan lagi sekedar makanan lebaran tapi banyak kenangan di dalamnya. Soalnya setiap kali saya mengantarkan kue itu ke bapak, mata bapak langsung berkaca-kaca, teringat sama ibu.

( Ah, lagi-lagi airmata saya menetes, saya nggak tega melihat bapak menagis. Jangankan melihat, membayangkan saja saya nggak kuat. Bapak yang sangat mencintai ibu, dan saya yang sangat mencintai keduanya. Biasanya kalau sudah begini saya langsung memeluk bapak, meringankan beban kerinduannya pada ibu. Sedikit bocoran, sejak ibu tiada bapak tidak mau menikah lagi, sampai sekarang sudah hampir 28 tahun. )

Permintaan bapak memang tidak neko-neko, tapi mengingat saat ini saya agak sibuk, jadinya saya tawarkan ke bapak kalau beli aja. Seperti yang sudah saya duga bapak menolak, sama seperti dulu, bapak nggak mau kue buatan yang lain selain buatan saya. Bapak malah bilang kalau memang repot, saya diminta nginep saja di rumah bapak dengan mengajak anak-anak. Sebenarnya saya juga nggak tega mengatakan semua itu, karena dari dulu saya memang selalu membuatkan kue istimewa itu buat bapak, bahkan tanpa dimintapun saya pasti buatkan. Sebelum bapak menutup telepon saya usul sama bapak, gimana kalu kue itu ditambah keju. Saya jelaskan sama bapak, tentang manfaat keju yang sama dengan minum susu. Karena selama ini bapak kurang suka minum susu. Minuman favorit bapak kopi pada pagi hari dan teh tubruk menjelang sore.

Resep-Biji-Ketapang

Gambar pinjam dari sini

Awalnya bapak menolak, apalagi coba alasannya kalau bukan takut rasanya beda sama buatan ibu. Saya bilang emang agak beda, tapi lebih enak, bukankah bapak harus menjaga kesehatan dengan minum susu ? Pembicaraan terus berlanjut, sampai akhirnya saya bilang sama bapak, ibu pernah berpesan sama saya untuk selalu menjaga bapak termasuk menjaga kesehatan bapak. Sampai di sini bapak kayaknya terdiam, terus saya juga bilang kalau…kalau…ibu nggak mau bapak sakit. Saya mendengar suara bapak samar-samar, bapak mau deh pake keju, kalau emang ibu pernah bilang begitu sama kamu.

Ah, akhirnya rayuan saya mempan juga, lebih tepatnya rayuan dari almarhumah ibu. Yah, semua itu bukti kalau sampai sekarang bapak masih sangat mencintai ibu. Sayapun berjanji, tiga hari sebelum lebaran saya sudah mengantarkan kue permintaan bapak, kue sederhana tapi mengandung makna sangat dalam. Kue yang saya tidak pernah tahu berasal darimana, tapi selalu ada di pelosok-pelosok kampung kecil Jakarta. Kue yang bisa membangkitkan semua kenangan bapak dan ibu dari pahit hingga manis. Kue tanda cinta ibu pada bapak dan sebaliknya, kue itu bernama Biji Ketapang…

Chedar

Dini hari 30 Juni 2015, teriring do’a untuk Almarhumah Ibu Tjaskinah dan do’a kesehatan serta kebaikan buat Bapak Soeparno. Orang tua yang tak pernah kering akan do’a buat anak-anaknya, menantunya dan cucu-cucunya. Takdir seorang anak yang tak pernah bisa memberikan sebanding dengan apa yang sudah Bapak dan Ibu berikan pada kami. Bahkan potongan do’a inipun tidak akan pernah cukup menggantikan limpahan kasih sayang dari Bapak dan Ibu, tidak akan pernah…

doa-orang-tua

Mengulurkan Sedekah Meraih Rezeki

sedekah

Sumber gambar : islamitubaik.blogspot.com

Dalam surah Al-Baqarah [2] ayat 261, disebutkan bahwa barang siapa menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus butir. Allah melipat gandakan bagi mereka yang dikehendakiNya. Bicara mengenai sedekah memang tidak sampai pada teori belaka, tapi harus lebih dari itu. Sedekah merupakan perintah Allah langsung pada hambaNya, karena pahalanya yang berlipat lipat. Berangkat dari sinilah manusia berlomba-lomba untuk bersedekah, sekalipun hanya dengan berupa nasehat. Banyak orang yang terhenyak dengan kedahsyatan sedekah, salah satunya adalah Rd Aldi Ferdian.

Nama Rd Aldi Ferdian memang bukan dikenal pada dunia dakwah apalagi pengurus masjid, karena memang itu bukan jalurnya. Rd Aldi Ferdian lebih sering ditemui pada kebanyakan orang yang memiliki mimpi tapi sulit mewujudkannya. Apakah Rd Aldi Ferdian itu seorang ahli nujum ? Atau tafsir mimpi, bukan, sama sekali bukan bahkan tidak ada kaitannya sama sekali. Daripada kebanyakan mikir, sekarang waktunya seorang Rd Aldi Ferdian tampil untuk memperkenalkan dirinya, apa profesinya dan sepak terjangnya selama ini. Mengapa pula seorang Rd Aldi Ferdian dikait-kaitkan dengan surah Al-Baqarah tersebut di atas, padahal Rd Aldi Ferdian bukan seorang pendakwah apalagi ustadz.

Aldi Ferdian

Alur hidup yang dilalui oleh Rd Aldi Ferdian memang bukan jalan mulus. Banyak jalan terjal bahkan berlubang dan berbatu yang dilaluinya dalam menapaki hidup. Dalam hal profesinya, Rd Aldi Ferdian memulainya dengan menjadi seorang supir antar jemput anak-anak SD. Beruntung setelah itu menjadi seorang Supervisor Entertainment di sebuah Café terkenal di wilayah Bandung. Ketekunan Rd Aldi Ferdian mengantarkannya menjadi seorang marketing bank, dan inilah awal perjalanan karier selanjutnya. Malang melintang di dunia entertainment dan  marketing  terutama   pada   saat  bekerja di kantor, membuat Rd Aldi Ferdian merasa jenuh. Kejenuhan inilah yang menjadi titik baliknya untuk menekuni profesi lain.

Profesi lain yang dilirik oleh Rd Aldi Ferdian yaitu transformasi dalam hal raga dan rasa. Secara garis besar apa yang hendak dilakoni oleh Rd Aldi Ferdian adalah untuk membantu mereka dalam mewujudkan mimpi. Nah, sebagai bentuk dari refleksi ayat tersebut di atas maka Rd Aldi Ferdian memantapkan dirinya untuk menjadi seorang investor. Dimulai dari membentuk sebuah koperasi sampai perusahaan pemberi jasa investor, Rd Aldi Ferdian membantu mereka untuk mewujudkan mimpi. Tentu saja bantuan keuangan yang diberikan oleh Rd Aldi Ferdian ditujukan untuk pengembangan sebuah usaha dalam skala besar. Rd Aldi Ferdian bukan hanya membantu keuangan dalam pengembangan sebuah proyek, tapi juga ikut terjun langsung.

Dengan kata lain Rd Aldi Ferdian menjadi investor sekaligus eksekutor proyek. Keterlibatannya dalam pembangunan dan pengembangan proyek membuat Rd Aldi Ferdian semakin berani dalam menunjukkan dedikasinya pada bidang pendanaan. Misi dan visi pribadinya adalah ingin membantu antar sesama, semakin banyak yang disedekahkan maka semakin banyak pula kebaikannya. Satu hal yang perlu diingat, bahwa sedekah yang dikeluarkan harus semata-mata karena Allah Ta’ala, bukan berharap imbalan materi. Materi hanyalah sisi lain dari penerimaan atas apa yang dikeluarkannya.

Nah, apakah Anda tertarik untuk bergabung dengan Rd Aldi Ferdian ? Atau apakah Anda memiliki mimpi tapi tidak tahu bagaimana mewujudkannya ? Kini saatnya Anda bangun dan merealisasikan mimpi tersebut dengan bijak.

7 Kunci Sukses Marketing

Veronica-2
Tonggak dalam membangun sebuah usaha adalah marketing, apa gunanya memperbanyak produksi kalau tidak bisa menjual. Bukankah modal dan keuntungan akan didapat apabila produk yang dihasilkan sudah terjual ? Oleh karena itu selain mempelajari dan mencari inovasi baru dalam hal produksi, maka langkah ke dua dalam usaha yaitu pemasaran. Bahasa bekennya yang sering kita dengar adalah marketing. Pada masa sekarang ini banyak sekali teori-teori marketing yang bertebaran di mana-mana, baik dari internet maupun buku-buku. Akan tetapi semua teori itu hanya akan menambah beban di kepala saja kalau tidak dipraktekkan. Berdasarkan beberapa nasehat dari para pakar marketing, teori marketing itu juga tidak boleh diuji cobakan tapi harus terus menerus dilakukan. Marketing jauh berbeda dari produksi, kalau produksi bisa dilakukan uji coba berkali-kali sampai menghasilkan sesuatu yang baik.

Saya contohkan begini, untuk memulai usaha makanan, katakanlah donat, diperlukan uji coba berkali-kali sampai hasil produksinya dapat diterima oleh masyarakat. Jika donatnya sudah berhasil, langkah selanjutnya adalah ke mana donat tersebut akan dipasarkan dan siapa saja sasarannya. Misalnya disepakati bahwa donat tersebut akan dipasarkan di sekolah-sekolah, sedangkan yang menjadi sasarannya adalah anak sekolah. Dalam memasarkan donat ini, pengusaha tidak bisa berganti teori, tapi harus maksimal menjalankannya. Caranya yaitu harus tekun dan sabar dalam memasarkan donat tersebut. Bahkan tidak cukup hanya sampai di situ saja, si pengusaha juga harus bisa meyakinkan anak-anak sekolah untuk membeli donatnya. Entah itu dari rasanya, tampilannya sampai pada kemasan atau yang lebih dikenal dengan packaging.

Teori marketing yang saya contohkan di atas adalah teori marketing sederhana, namun berangkat dari situlah, seorang konsultan marketing bernama Veronica Ratnaningrum memulai sebuah usaha yang telah melambungkan namanya. Dalam dunia jasa konsultan marketing, nama Veronica Ratnaningrum telah mensejajarkan dirinya dengan konsultan marketing lainnya di mana rata-rata didominasi oleh kaum adam. Sejak itulah Veronica Ratnaningrum berhak menyandang gelar sebagai “Woman Marketer”.

Dalam menjalankan profesinya Veronica Ratnaningrum terkenal sebagai individu yang supel dan ramah. Bahkan dia juga kerap kali berbagi cerita tentang bagaimana meraih keberhasilannya. Bukan hanya cerita, Veronica Ratnaningrum juga tidak pelit dengan ilmunya, berikut ini kunci sukses yang berhasil mengantarkan Veronica Ratnaningrum dalam menjalankan profesinya sebagai konsultan marketing. Ini dia kunci suksesnya :

sukses

Maaf saya lupa gambar ini dari mana…

1. Tekun dan sabar dalam menjalankan usaha, semua dilalui oleh Veronica Ratnaningrum melalui proses alami bukan instan.

2. Semangat belajar tinggi, Veronica Ratnaningrum adalah sosok pembelajar yang tangguh. Baginya belajar dan terus belajar adalah aktvitas yang tak boleh berhenti.

3. Memiliki visi yang jelas, dalam menjalankan sebuah bisnis visi merupakan cikal bakal yang harus dijunjung tinggi.

4. Jiwa kepemimpinan yang kuat, sosok ini sebenarnya telah tertanam sejak kecil, jadi setelah dewasa hanya tinggal mengasah saja.

5. Menjalin dan menjaga hubungan dengan baik, sebenarnya apapun profesi kita dan di manapun kita berada, sikap ini harus terus dijalankan.

6. Mampu berkomunikasi, kalau untuk yang satu ini, memang harus dipelajari namun bagi seorang Veronica Ratnaningrum semuanya bisa dipelajari asal dengan niat sungguh-sungguh.

7. Memiliki jiwa sosial yang tinggi, seperti pepatah mengatakan, “Jika sudah berada di atas tengoklah yang di bawah”.

Nah, bagi Anda yang ingin menjalankan usaha tapi bingung mau memulai dari mana, saya kira 7 kunci sukses yang diberikan oleh Veronica Rtananingrum sanggup melecut jiwa usahawan Anda. Selamat berwirausaha !

Pajak Untuk Ditaati Bukan Ditakuti

pajak

Gambar pinjam dari sini

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pajak masih menjadi momok yang menakutkan. Oleh sebab itu tidak heran jika sampai sekarang masih banyak masyarakat Indonesia yang menghindar dari pajak. Berinteraksi dengan pajak sama saja dengan mencari kesulitan, jadi sebisa mungkin dihindari. Untuk kasus seperti ini saya mencontohkan diri saya sendiri, sampai sekarang saya masih belum mempunyai NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak. Padahal sebagai seorang penulis yang kadang menang dalam lomba, sejatinya saya memiliki NPWP untuk pemotongan pajak hadiah. Kalau ditanya mengapa sampai sekarang saya belum mempunyai NPWP jawabnya cuma satu : males lapornya karena ngisinya ribet.

Namun jauh di dalam lubuk hati, saya sadar bahwa pajak banyak mempengaruhi perkembangan pembangunan di Indonesia. Lihat saja, pembenahan dalam hal pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lain sebagainya. Semua perubahan itu sebagian besar dibiayai oleh pajak yang disetorkan oleh wajib pajak. Melihat perubahan pembangunan yang begitu pesat, apakah saya masih menutup mata ? Atau bahkan tidak percaya bahwa semua itu karena sumbangsih dari pajak ? Jadi, alasan apalagi yang mau dipakai sekedar untuk berkelit menghindari pajak, laporannya kah ? Ho…ho…ho…kayaknya ini juga sudah nggak bisa dijadikan alasan deh, soalnya sekarang banyak jasa konsultan pajak yang bisa membantu membuat laporannya.

Salah satunya adalah Zeti Arina, konsultan pajak yang berdomisili di Surabaya ini bukan saja membantu klien dalam menghitung dan membuat laporannya. Ada hal penting yang dilakukan oleh Zeti Arina sebagai konsultan pajak, yaitu mengedukasi masyarakat untuk paham pajak. Seperti yang sudah saya gambarkan di atas, bahwa pajak masih dianggap sesuatu yang menakutkan. Kehadiran Zeti Arina sebagai konsultan pajak juga bukan untuk mengajarkan para wajib pajak melakukan kecurangan. Sebagai CEO dari Artha Raya Consultant, Zeti Arina ingin mengedukasi wajib pajak agar dapat menghitung pajak seefisien mungkin. Tidak merugikan wajib pajak dan juga tidak menguntungkan. Semua dilakukan berdasarkan pada hukum perpajakan yang sudah diatur oleh Pemerintah.

zeti

Zeti Arina ( berdiri no 3 dari kiri ) bersama staff gambar dari sini

Jadi jangan anggap bahwa tugas konsultan pajak itu bisa diajak kompromi–baca : sogok atas pembayaran pajak. Pemikiran seperti itu salah besar, Zeti Arina menegaskan bahwa profesi yang diembannya adalah untuk meluruskan anggapan miring tentang pajak dan konsultan pajak. Apabila Anda memiliki seputar pertanyaan tentang pajak, Zeti Arina dengan senang hati akan menjawabnya, karena itu merupakan bagian dari edukasinya. Mendekatkan masyarakat pada pajak adalah keinginan terbesar dari seorang Zeti Arina. Rasanya di jaman sekarang ini, masyarakat Indonesia sudah banyak yang tahu tentang pajak, hanya saja belum maksimal dalam menerapkannya. Nah, tunggu apa lagi segera laporkan pajak karena pajak untuk ditaati bukan ditakuti !

Filosofi Kembang Goyang

kembang goyang


Gambar milik keju moo


“Bikin kue apa bu ?”tanyaku pada Ibu yang berada di dapur.

“Ini, kue Kembang Goyang,”jawab Ibuku lembut.

“Ko kue itu lagi, kue itu lagi, yang laen kek,”kataku jutek.

“Kayak orang-orang dong. Kalau lebaran bikinnya Bolu, Black Forest, Nastar,”sungutku lagi.

“Kembang Goyang kan kue kampung,”tegasku sambil meninggalkan Ibu yang tergugu.

Ibu pun meneruskan menggoreng kue Kembang Goyangnya. Sore menjelang, beberapa jam lagi waktu berbuka tiba, karena Ibu sibuk dengan Kembang Goyangnya, maka saya yang menyiapkan makanan untuk berbuka. Setelah selesai berbuka, Ibu berkata padaku,”Mbak, ntar pulang taraweh tolong anterin kue Kembang Goyang pada Bu Slamet ya.” Dengan malas-malasan saya mengangguk. Sebenarnya saya nggak mau mengantarkan kue Kembang Goyang itu. Alasannya satu, malu. Bayangkan, dari tahun ke tahun Ibu selalu mengirimkan kue yang sama, Kembang Goyang.

Percakapan dua puluh lima tahun yang lalu, tapi masih hangat tersimpan dalam hati…

Rasanya masih begitu melekat saat Ibu tiada, begitu banyak tetangga yang datang melayat. Dan yang paling terasa buat mereka saat lebaran tiba. Para tetangga berkata,”Yaaa…nggak ada yang nganterin Kembang Goyang lagi nih.”

“Iya, Kembang Goyang buatan Bu Parno enak, gurih dan renyah,”sahut Bu Tinah.

Ya, mereka semua adalah tetangga Ibu. Mereka semua merasa kehilangan Ibu, terutama saat lebaran. Karena cuma Ibu satu-satunya di kampung yang bisa membuat Kembang Goyang. Itu karena Ibu orangnya telaten. Membuat Kembang Goyang itu rumit, Kembang Goyang digoreng satu persatu dengan cetakan khusus berbentuk kelopak bunga. Kata Ibu, minyaknya juga harus sedang, nggak boleh kepanasan tapi juga jangan dingin. Padahal jaman Ibu dulu, belum ada kompor gas seperti sekarang ini. Kompor yang Ibu pake masih kompor minyak tanah.

Waktu saya bilang bosen dengan kue Kembang Goyang, Ibu bilang bahwa Kembang Goyangnya bisa dicampur dengan kacang tanah, wijen atau keju. Terserah mau pake apa, kalau pake coklat, disiram setelah Kembang Goyangnya dingin. Begitu pesan Ibu. Saat itu apa yang Ibu katakan belum sempat dipraktekkan, karena Ibu keburu jatuh sakit. Bapak tidak membolehkan Ibu membuat kue lagi. Takut kecapekan. Lalu, sebelum Ibu tiada beliau juga pernah bilang kalau saya harus bisa membuat Kembang Goyang. Resep yang Ibu punya adalah resep turun temurun dari buyut saya. Duh, pesannya ko berat amat yak !

Chedar 1

Lima tahun setelah Ibu tiada, saya mencoba untuk membuat kue Kembang Goyang. Benar dugaan saya, ternyata bikin Kembang Goyang itu sangat rumit. Nggak seperti bikin kue Bolu atau kue modern lainnya yang tinggal kocok dengan mixer lalu panggang. Butuh ketelatenan, ketekunan dan…kesabaran. Sayapun menangis, tersedu sambil menatap adonan kue Kembang Goyang. Entah kenapa tiba-tiba saja hadir wajah Ibu begitu jelas, sambil tersenyum Ibu berkata,”Kamu pasti bisa Nak.” Setelah itu wajah Ibupun menghilang.

Beberapa saat saya termenung, ternyata Ibu meninggalkan wasiat yang sangat berharga. Bukan Kembang Goyangnya, bukan. Tapi filosofi nya itu loh ! Seperti yang saya alami di atas, butuh ketelatenan, ketekunan dan kesabaran untuk membuat Kue Kembang Goyang. Begitulah filosofinya, hidup memang seperti itu. Jika ingin berhasil dan sukses maka kuncinya ke tiga hal tersebut. Dengan membuat Kembang Goyang berarti melatih diri untuk meraih ke tiga kunci tadi. “Ah…Ibu maafkan aku,”ujarku lirih, sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.

Ramadan 1436 Hijriah…

Sore ini, setelah mengingat masa lalu sayapun meluncur ke website keju moo. Tujuan saya satu, mencari resep Kembang Goyang dengan variasi Keju Kraft. Alhamdulilah, dalam waktu singkat saya sudah menemukan resep yang saya cari. Setelah tempaan hidup selama puluhan tahun serta bimbingan dari seorang Ibu yang telaten, saya merasa sudah siap untuk membuat Kembang Goyang. Kembang Goyang yang belum pernah Ibu coba praktekkan dengan variasi keju. Ibu, kali ini saya tidak akan mengecewakan Ibu. Meski Ibu tidak akan pernah mencicipi Kembang Goyang buatan saya, tapi Ibu pasti bangga. Ibu tidak sekedar mewariskan resep Kembang Goyang tapi juga filosofi hidup. Tekad saya, menjelang lebaran nanti saya akan membuat kue Kembang Goyang versi Keju Kraft. Semoga saja Kembang Goyang Keju Kraft akan memberikan saya filosofi hidup yang baru agar saya lebih bersyukur menapaki hidup. Saya akan buktikan kalau Kembang Goyang tidak kalah enaknya dengan kue-kue modern lainnya. Terimakasih Ibu, do’a ku selalu untuk mu…

Chedar