Happy Ending or Sad Ending

Apa ceritamu di akhir tahun 2012 ?

Ini adalah sekelumit ceritaku di akhir tahun 2012…

Seperti perjalanan ku di tahun-tahun sebelumnya, berbagai macam warna datang silih berganti, bersedia menyelimuti hari-hari yang telah terlampaui. Ada warna berbagi suka dan ada warna bersembunyi duka. Semua warna itu tersimpan dalam dunia sanubari yang selalu menerima dengan ikhlas. Aku selalu berusaha melukis kata agar terangkai sempurna. Namun sebait takdir selalu berada di sisiku atas perintah Illahi. Itulah… hidup, begitu sulit mencari kesahajaannya. Tapi akan tetap ku kayuh sampai ke samudra terakhir. Entah kapan dan di mana. Aku tidak sedang menangis atau meratap. Aku sedang bertutur dalam samudra kata, karena menyelam di dalamnya membuat aku bahagia. Menemani beribu mutiara yang tetap angkuh dengan kesederhanaannya. Membelai bebatu karang yang enggan beranjak dari singgasananya. Semua mensyukuri kehidupan yang telah menjadi takdirnya.

Begitu pula aku, seorang perempuan yang hadir di tengah kebahagiaan kedua orang tua. Menapaki dunia warna tanpa merintih dan berani menepis segala kesenjangan yang ada. Kadang jika hati lelah menapak, aku lihat di sekitar sesaat, tak ada yang lelah. Di situlah hati kembali melangkah mencari jalan yang semakin lurus. Tak ada keinginan untuk menjadi sempurna, bagiku kesempurnaan itu bukan di sini tempatnya. Aku hanya ingin selalu berati dan terus berarti. Untuk semua yang hidup dan yang mati.

Syukur Alhamdulilah, semua resolusiku di tahun 2012 ini hampir terpenuhi. Memang ada satu hal yang belum terpenuhi, keinginan memiliki buah hati. Seorang sahabat bertanya, kapan nih momongannya ?”  Tanpa ada maksud mencela,aku menjawabnya dengan kesungguhan hati, “Aku sudah tidak berani lagi meminta.   Kenapa aku takut meminta ? Bukankah itu suatu permintaan yang wajar ? Kembali aku menjawab, aku ingin menjaga apa yang sudah diberikanNya. Begitu banyak yang sudah diberikanNya dan itu sudah cukup. Aku takut jika aku banyak meminta, maka akan membuat aku sibuk dan melalaikan semuanya. Demikianlah, cukup itu bagiku sudah merupakan kesempurnaan. Berlebih hanya akan melalaikan saja. Bahagiakah aku ? Sangat. Jika kita berani mensyukuri segala kecukupan, maka di situlah letak kebahagiaan. Hanya saja kebanyakan dari kita takut untuk berucap syukur. Takut jika tidak memiliki sesuatu yang orang lain punya. Malu mengakui kekurangan yang ada, padahal semua tidak dipandang seperti itu.

Semua yang beredar dalam garis hidup kita adalah sebuah keseimbangan. Lihat saja ! Seseorang yang diberikan kelebihan dengan keturunan tapi ada kekurangan materi. Padahal realita sebenarnya adalah bukan begitu, keturunan adalah materi yang tak ternilai yang dimilikinya. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang berlebih materi tapi tak mempunyai keturunan, dan materi adalah keturunan yang bisa membawanya ke syurga dengan sedekah.

Berakhir seperti apakah langkah hidup kita ? Bagi aku ini juga tidak begitu penting. Karena sebagai mahluk kita hanya diberi kesempatan untuk memilih tapi tidak menentukan. Jadi untuk apa menginginkan sedih atau bahagia ? Menerima keberadaan diri sendiri saja sudah merupakan hal yang luar biasa. Sikap inilah yang selalu ku pelihara. Ya… menjadi mahluk yang luar biasa. Dan luar biasa itu cukup diri sendiri saja yang tahu.

Inilah refleksi dan resolusiku di hilir tahun 2012. Jika aku masih boleh berharap di tahun 2013 maka harapanku adalah…menginjakkan kaki di bumi Rosulluloh. Semoga.

One thought on “Happy Ending or Sad Ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s