Mengembalikan Kejayaan Industri Gula

 

Karya tulis ini saya dedikasikan untuk industri gula nasional. Sebagai ibu rumah tangga, pebisnis kuliner dan penulis, hati saya tergerak untuk memberikan sedikit sumbangsih berupa tulisan. Pertanyaan terbesar saya adalah : Mengapa harga gula mahal dan akan semakin mahal di saat-saat menjelang perayaan besar seperti bulan puasa dan lebaran ? Kebutuhan gula dalam industri perumahan cukup tajam apalagi pebisnis kuliner seperti saya, karena  akan berpengaruh terhadap harga minuman yang saya jual. Harga gula yang mahal ini memicu pihak-pihak tertentu untuk membuat gula sintetis atau pemanis buatan yang pada akhirnya dikonsumsi oleh masyarakat. Karena pemanis sintetis ini bisa didapat dengan harga murah yang berdampak pula pada murahnya harga jual makanan atau minuman.

Pertanyaan saya yang terakhir adalah bilakah gula menjadi tuan rumah negri sendiri dan mengembalikan kejayaannya seperti 80 tahun silam ?

Untitled

Sekilas tentang gula pasir

Siapa yang tak mengenal gula atau tidak mengkonsumsinya. Gula sangat dibutuhkan manusia untuk konsumsi pangan, dalam skala industri maupun rumah tangga. Kebutuhan gula telah mendorong berdirinya pabrik gula di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri salah satu pabrik gula yang dipercaya untuk mengolah gula adalah PTPN  X yang berlokasi di Surabaya. Dengan mengandalkan dua belas pabrik yang tersebar di Jawa Timur, diharapkan PTPN  X bisa memproduksi gula sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Adalah  Tebu (Saccharum Officinarum)  tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih satu tahun. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra.

Dalam proses pembuatan gula membutuhkan sumber daya seperti material, energi, tenaga kerja, informasi serta mesin dan peralatan yang terkoordinasi. Peran utama sumber daya mesin dan peralatan yaitu membantu proses produksi sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi produktivitas khususnya pada proses penggilingan di pabrik gula dalam mencapai target produksi. Proses penggilingan merupakan faktor terpenting dalam penentuan efisiensi proses produksi karena menunjukkan banyaknya nira dalam tebu yang terekstraksi untuk diproses menjadi gula pasir. Kondisi proses penggilingan yang efisien ditunjukkan dengan makin banyak nira yang terekstraksi maka makin banyak pula gula pasir yang diproduksi. Proses produksi sangat dipengaruhi oleh sumber daya mesin dan peralatan yang berperan vital sebagai fasilitator terselenggaranya proses pengolahan. Oleh karena itu keandalan dari mesin dan peralatan harus terjaga dengan baik, terutama mesin dan peralatan pada stasiun giling. Menurut Hajek (1988), yang erat hubungannya dengan parameter keandalan adalah faktor pemeliharaan/perawatan, ketersediaan, dan keefektifan.

Produksi gula khususnya gula pasir pada pabrik-pabrik gula di Indonesia menggunakan tanaman tebu sebagai bahan baku. Garis besar proses pembuatan gula mulai dari bahan baku tebu sampai menjadi gula kristal terdiri dari lima tahapan proses, yaitu :

  • Proses pemerahan tebu menjadi nira di bagian / Stasiun Gilingan ( Mill Station ).
  • Proses pengendapan kotoran dari nira di Stasiun Pemurnian ( Purification Station ).
  • Proses pemekatan nira encer menjadi nira jernih di Stasiun Penguapan ( Evaporation Station ).
  • Proses Kristalisasi gula di Stasiun Masakan ( Boiling Station ).
  • Proses Pemisahan kristal gula dari tetes di Stasiun Puteran ( Cetrifuge Station )

Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air. Kesimpulannya bahwa gula pasir itu dihasilkan dengan cara pengolahan dan bukan dibuat. Untuk mencapai hasil pengolahan yang baik membutuhkan kinerja yang baik dan efisien dari segala arah.  Jika antara bagian tanaman dan bagian  pabrik dapat bersinergi dengan baik maka pencapaian hasil yang optimal dapat diupayakan. (Proses lengkapnya di sini)

                                                                      Salah satu tahap pembuatan gula pasir :

2664813p

                                                                    Pengendapan Kotoran dengan Kapur (Liming)

                                                                               Gambar diambil dari sini

Gula sebagai komoditi

Industri gula tebu merupakan salah satu pilar dan penggerak ekonomi nasional. Negara-negara penghasil gula terbesar adalah negara-negara yang beriklim hangat seperti : Australia, Brazil dan Thailand. Indonesia pernah menjadi produsen gula utama dunia pada tahun 1930-an, namun kemudian tersaingi oleh pabrik gula baru yang lebih efisien dan modern. Pada tahun 2001/2002 gula yang diproduksi oleh Negara berkembang dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan gula yang diproduksi Negara maju. Penghasil gula terbesar adalah Amerika Latin, Negara-negara Karibia dan Negara-negara Asia Timur. Sedangkan Negara pengimpor gula terbesar adalah Uni Eropa. Melihat begitu banyak kebutuhan gula di dalam dan di luar negri, maka tidak salah jika gula menjadi sumber komoditi yang utama bagi tiap negara. (Sumber dari sini)

gula pasir

                                                                             -Gula menjadi komoditi primadona –

 

Industri Gula Nasional sebagai Peluang Usaha

Gula adalah penyebab inflasi terbesar nomor  dua setelah beras. Data Inflasi gula tahun 2011 telah mencapai 3,98%, angka ini akan terus meningkat sampai tahun 2012 yaitu lebih dari 4% karena harga lelang sudah sebesar Rp. 11.850, mungkin di tingkat distributor sudah mencapai Rp. 12.000. sekarang ditambah pengurangan kuota sebesar 150 ribu ton, sehingga sangat tidak mencukupi kebutuhan industri pengguna langsung.

Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa gula telah menjadi komoditi utama di masyarakat dunia ditambah lagi dengan keadaan defisit supply untuk kebutuhan dalam negri, maka peluang usaha industri gula sangat terbuka lebar. Karena berbagai masalah, sejak tahun 1995 sampai sekarang (2012) produksi gula nasional terus mengalami kemerosotan. Kemerosotan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1997-2002, di mana produksi gula turun rata-rata 6,14% per tahun. Sementara permintaan  gula meningkat dengan laju pertumbuhan 2,96% per tahun. (Data dari sini). Jadi berdasarkan data tersebut telah terjadi kekurangan gula mencapai 1,2 juta ton pertahun.

Dari tahun ke tahun kebutuhan gula terus meningkat, tapi hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan produksi. Hal ini terbukti dari beberapa data yang penulis dapat, seperti misalnya data di bawah ini :

“ Data dan Fakta : Secara nasional, di tahun 2012, total kebutuhan konsumsi gula mencapai 5,2 juta ton/tahun. Angka ini terdiri dari demand gula untuk industri sebesar 2,5 juta ton/tahun dan demand untuk konsumsi rumah tangga langsung sebesar 2,7 juta ton/tahun. Sementara itu, supply gula untuk industri hanya dapat dipenuhi sekitar 2,1 ton/tahun. Angka ini merupakan hasil pemotongan kuota sebesar 400 ribu ton dari tahun sebelumnya. Dengan begitu telah terjadi Defisit Supply.” (Data dari sini).

Selain defisit supply yang dapat dijadikan sarana peluang industri gula, pada tanggal 20 April 2012 yang lalu, Kementrian Perdagangan (Kemendag) telah mengeluarkan pernyataan untuk menghentikan impor gula mentah (Raw Sugar).

Kedua hal ini bisa dijadikan peluang yang sangat besar untuk menggenjot produksi gula nasional. Pada tahun 2004 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan revitalisasi di sektor pertanian dan Pemerintah juga menetapkan bahwa tahun 2014 Indonesia harus bisa mencapai Swasembada gula. Begitu banyak peluang terbuka lebar untuk memproduksi gula. Jika peluang itu sudah ada di depan mata hal yang mesti diperhatikan lebih seksama adalah meninggkatkan produksi gula dengan memperbarui kinerja dan manajemen yang terkait. (Sumber dari sini)

Sepengetahuan penulis manajemen yang ada di dalam produksi gula itu mencakup dua tempat, yang pertama ada di dalam pabrik sebagai tempat pengolahan dan yang ke dua di luar pabrik yaitu perkebunan. Selayaknya ke dua manajemen ini harus bersinergy saling bantu dan support satu sama lain. Sehingga pencanangan Swasembada Gula pada tahun 2014 dapat terealisasi bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadi lagi kejayaan Industri Gula seperti tahun 1930.

Kendala yang dihadapi oleh Industri Gula Nasional

Swasembada gula merupakan target pemerintah yang dari waktu ke waktu sulit tercapai. Menurut data Badan Litbang Kementerian Pertanian, konsumsi gula nasional melalui produksi gula yang bersumber dari areal tebu rakyat baru mencapai 252.166 ha, dan areal tebu swasta 198.131 ha. Hal ini masih jauh dari mencukupi. Penyediaan lahan perkebunan tebu menjadi salah satu kendala untuk mencapai swasembada gula. Adapun kendala lainnya adalah :

  • Permasalahan yang ada di dalam pabrik, yaitu masalah permesinan. Kondisi mesin yang seringkali mengalami kerusakan sehingga mengakibatkan terjadinya jam henti giling pabrik yang cukup tinggi. Jam henti giling pabrik yang tidak sesuai dengan rencana mengakibatkan terjadinya kerusakan pada tebu yang sudah ditebang, yaitu terjadinya penurunan kadar gula dalam tebu.
  • Penurunan kapasitas giling pabrik, hal ini mengakibatkan pabrik tidak dapat beroperasi secara maksimal. Untuk mengatasinya perlu dihitung kembali kapasitas operasional berdasarkan pada nilai avaliabel atau kemampuan mesin. Hal ini terjadi karena laju kerusakan setiap mesin berubah-ubah sejalan dengan bertambahnya waktu.
  • Jadwal tebang tebu, jadwal tebang tebu yang akan dibuat harus disesuaikan dengan kapasitas operasional pabrik agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan pabrik dengan ketersediaan kebun.
  • Jadwal pemeliharaan mesin, pemeliharaan mesin juga harus dilakukan secara kontinyu karena menyangkut proses penggilingan tebu.
  • Kepmenindag No.527/2004 tentang, Ketentuan Impor gula yang mengatur impor gula kristal putih untuk memenuhi stok kebutuhan sejenis dalam negri.
  • Sikap Pemerintah yang cenderung tidak adil, kebijakan pemerintah hanya condong ke satu pihak. Dalam hal ini, kebijakan seolah-olah ingin melindungi petani tebu Jawa yang disinyalir berjumlah 2 juta orang, namun harus mengorbankan ratusan penduduk kawasan Indonesia timur yang sangat kekurangan stok gula. Di lapangan, kebutuhan konsumsi gula masyarakat Indonesia Timur memang sangat tinggi, dibandingkan dengan daerah lain.

Peranan PTPN  X dalam meningkatkan Industri Gula Nasional

PTPN  X sebagai BUMN terbesar bisa menjadi motor penggerak bagi BUMN lain yang sejenis atau perusahaan-perusahaan swasta yang berkecimpung dalam industri gula. Hal ini telah dibuktikan oleh PTPN X dengan meningkatnya produksi gula dari tahun ke tahun. Seperti misalnya pada tahun 2011 PTPN X memimpin pencapaian industri gula dengan produksi mencapai 446.493,57 ton gula, tertinggi di antara perusahaan lainnya di seluruh Indonesia. Pada tahun 2012 mampu memproduksi gula sebanyak 494.000 ton, angka ini naik sekitar 10,7% dibanding produksi pada tahun sebelumnya. Rendeman tebu juga meningkat menjadi 8,14 % ketimbang tahun 2011 yang hanya sebesar 7,94%. Selain itu berita yang disinyalir oleh KOMPAS.com PTPN X telah meraup laba sebesar Rp. 250 milyar, karena telah diprediksi di awal tahun 2012 laba yang diperoleh sudah mencapai Rp. 232,2 miliar.

Peningkatan hasil produksi yang kontinyu dari tahun ke tahun ini seharusnya bisa ditularkan kepada pabrik-pabrik lain, baik negri maupun swasta. Dengan demikian pencapaian industri gula nasional yang diharapkan akan segera terwujud. Data yang penulis himpun tentang “Gebrakan PTPN  X” juga seharusnya segera diekspansi, namun harus dengan perhitungan yang cermat dan tepat. Beberapa Gebrakan PTPN X tersebut adalah :

  1. PTPN X bersiap mencari pendanaan di pasar modal BUMN.  Saat ini juga sedang disusun tata cara dan tata kelola untuk bisa masuk ke lantai bursa.
  2. Pembangunan pabrik baru yang terintegrasi dari hulu ke hilir di Pulau Madura,
  3. Perluasan areal lahan tanam tebu di Madura, Bojonegoro, dan Tuban.
  4. Memperkuat bisnis non-gula, antara lain dengan melaksanakan program co-generation untuk memproduksi listrik dari ampas, bioethanol, pupuk organik,
  5. Berencana untuk membeli saham PT. Mitra Tani 27 yang memproduksi kedelai berkualitas ekspor.
  6. Memperbesar pabrik plastik PT. Dasaplast yang merupakan anak usaha perseroan.
  7. Menekan biaya konsumsi bahan bakar di mana pada tahun-tahun sebelumnya pengeluaran biaya untuk bahan bakar sebesar  Rp. 133 miliar tapi bisa ditekan menjadi Rp 8 miliar pada tahun 2011 dan pada musim giling tahun 2012 diprediksi bisa mencapai Rp 4 miliar.
  8. Mengoptimalkan kapasitas giling sebanyak 37.000 TCD di tahun 2013.

Mencapai Swasembada Gula tahun 2014

Setelah berhasil melewati tahun-tahun sebelumnya dengan sukses, PT Perkebunan Nusantara X (Persero) siap menyongsong tahun 2013 sebagai golden era. Dengan semangat baru, perseroan milik negara ini terus memacu diri untuk tetap berprestasi dan berkarya,”demikian ungkapan dari  Direktur Utama PTPN  X  Bpk. Ir. Subiyono, MMA beberapa waktu yang lalu. Rasa dan semangat optimisme ini harus diikuti oleh perusahaan-perusaan lainnya yang bergerak dalam Industri Gula. Untuk mencapai Swasembada Gula di tahun 2014 diperlukan kerja sama yang erat antar pabrik gula di seluruh Nusantara. Sebagai tolok ukur PTPN  X telah sukses mencapai target produksi yang belum diperkirakan sebelumnya. Misalnya saja dengan studi banding, pabrik gula yang ada di seluruh Nusantara bisa melakukan studi banding ke PTPN X. Selain optimisme untuk mencapai golden era, PTPN  X juga bisa menjadi pabrik percontohan se Nusantara. Selamat Berkarya !

2 thoughts on “Mengembalikan Kejayaan Industri Gula

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s