Mencermati Sikap Kontradiksi Dalam Dunia Intelektual : Idealisme VS Pragmatisme

mahasiswa

 Mahasiswa, kata yang memiliki pandangan luas dan bersahaja. Mengandung nilai kebanggaan yang tinggi. Dulu, sewaktu saya masih menyandang predikat mahasiswa, jujur saja saya merasa sangat bangga. Bahkan lebih bangga dari gelar yang saya sandang setelah masa studi berakhir dengan wisuda. Tuntutan yang dihadapi oleh mahasiswa tidak banyak. Pemikiran dan logika yang digunakan selalu diperhitungkan pada saat ada dialog dengan kaum intelektual lain. Berbeda  sekali dengan kondisi setelah menanggalkan peran sebagai mahasiswa. Sifat Idealis masih begitu kuat melekat dalam tiap pemikiran mahasiswa. Itulah sebabnya mahasiswa selalu menjadi tempat berlindung dari kaum yang termarjinalkan, tidak hanya di dalam negri saja bahkan sampai ke luar negri. Hal ini terbukti dengan adanya forum pertukaran mahasiswa antar negara.

Sejak tumbangnya orde lama (ORLA) pada tanggal 13 Mei 1998 oleh seluruh mahasiswa di Indonesia, gaung idealisme sudah mulai meredup. Bahkan lima tahun terakhir ini saya cermati pergerakan mahasiswa lebih cenderung pragmatis. Disadari atau tidak banyak sekali kebijakan atau momentum yang diputuskan sepihak oleh Pemerintah atau Lembaga Dewan karena mahasiswa tidak lagi bersuara keras dan lantang. Justru yang saya temui adalah tindak kekerasan fisik antar mahasiswa atau dengan kelompok tertentu. Ada apakah dengan mahasiswa  ?

Kilas balik Pergerakan Mahasiswa         

       demo mhs-1

Era awal gerakan kepemudaan/mahasiswa Indonesia dimulai pada 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda dengan ikrarnya satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Dengan merasa satu rasa, para pemuda/mahasiswa bersama rakyat bersatu terus-menerus memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga tiba masanya (1945) para pemuda mendesak golongan tua agar segera memproklamasikan kemerdekaan RI. Gerakan ini masih benar-benar murni berasal dari hati nurani rakyat yang telah bosan terus-menerus dipecah-belah para penjajah.

demo mhs-2

Sementara itu yang terjadi pada era ’98 adalah bersatunya berbagai model pergerakan mahasiswa sehingga ada yang tertata rapih dan ada yang rusuh. Beruntung, kondisi saat itu didukung oleh salah satu tokoh gerakan kanan, Amien Rais, sehingga pergerakan menjadi terarah. Ternyata, dari masa ke masa, pergerakan mahasiswa selalu saja disusupi berbagai kepentingan politik. Namun tiada kata jera dalam perjuangan.

Kepemudaan/mahasiswa memang sudah sejak lama dikenal sebagai gerakan pengusung berbagai perubahan. Selain memiliki semangat juang membara, para aktivis kepemudaan yang sebagian besar adalah mahasiswa juga dianggap memiliki intelektualitas tinggi dan kapasitas kepribadian yang telah mapan. ( Sumber dari sini )

Paradigma Pergerakan Mahasiswa

Halnya aktivis, mana mungkin membangun gerakan jika di internalnya gagal merekayasa sistem yang sehat untuk kemajuan bersama dan kesolidan gerakan. Efeknya justru aktivis menjadi bulan-bulanan dan sandera kepentingan elit. Seperti saat ini, momen-momen strategis lembaga justru tidak berkualitas tanpa adanya kuasa elit berjalan di dalamnya. Momentum kongres sebagai sarana menyalurkan ide progresif justru ternodai oleh kepentingan elit sehingga pikiran-pikiran positif perubahan tidak lagi memiliki penjiwaan.

Tersanderanya gerakan mungkin masih bisa diatasi namun jika semua momentum besar sudah kosong ide perubahan, mana mungkin gerakan mahasiswa akan memiliki harapan untuk menciptakan perubahan bangsa ke arah positif. Inilah titik nadir gerakan aktivis padahal harapan terbesar bangsa ini ada pada mahasiswa, sebagaimana pernah disinggung oleh Pramoedya Ananta Toer, “Hanya mahasiswa harapan perubahan karena posisinya tidak berada dalam gelongan elit.”  ( Sumber dari sini )

Bangkit dan Bangkit

Menyaksikan fenomena yang belakangan terjadi pada mahasiswa Indonesia, benar-benar menimbulkan rasa keprihatinan yang tinggi. Bahkan seorang wartawan senior yang menggawangi  acara talk show Indonesia Lawyer Club, Karni Ilyas pernah mengungkapkan bahwa pergerakan mahasiswa saat ini sudah kehilangan arah. Hal itu diakibatkan karena fokus perhatian yang diangkat mahasiswa Indonesia terpecah-pecah. Ia mencontohkan pergerakan mahasiswa dapat dimulai dengan mengkritisi kebijakan pemerintah di daerahnya masing-masing.  Misalnya mengawal banggar (Badan Anggaran) yang pastinya ada pada tiap daerah. Artinya, pergerakan  mahasiswa di daerah itu mengkritisi kebijakan anggaran Pemda di daerahnya. Apabila ada penyelewengan anggaran, mestinya mahasiswa berada di garda terdepan untuk menyuarakan hal itu. ( Sumber dari sini )

demo mhs-3

Meski demikian, tetap ada harapan dengan mendorong beberapa hal penting yaitu membenahi internal organisasi kemahasiswaan yang bernama BEM. Jangan sampai gagal dalam memetakan dan merumuskan visi kelembagaan secara internal karena akan mudah dimasuki kelompok kepentingan. Kebutuhan akan penataan pengetahuan ke arah spesifik dan profesional sangat penting dilakukan agar wacana mahasiswa tidak terjebak dalam rumusan epistemologi semata, yang akan menyebabkan fantasi pemikiran. Gagasan yang umum akan sulit diaktualkan sehingga perlu adanya kesadaran individu dan kolektif untuk membangun profesionalitas agar ide-ide mahasiswa bisa semakin konstruktif tidak sekedar kritis saja. Jika ini berhasil dilakukan maka selanjutnya perlu membangun forum bersama untuk menciptakan konsolidasi gerakan yang massif. Forum akan berfungsi menyatukan ide, gerakan dan membuat pergerakan terukur dan tidak membuang energi.

Untuk melalui semua ini diperlukan sebuah lembaga yang berperan dalam hal mendorong kembali pergerakan mahasiswa. Keberadaan lembaga ini adalah mengolah kembali managemen organisasi. Misalnya memberikan pencerahan bagi Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM), bagaimana mengatur strategi yang efektif dan dinamis. Menghimpun anggota yang notabene adalah mahasiswa untuk ikut menyuarakan suatu masalah dengan bijak  tanpa kekerasan fisik atau main hakim sendiri.

Melihat apa yang sedang terjadi di dalam organisasi kemahasiswaan dan lunturnya sikap Idealisme, maka sesuai dengan misi yang diemban oleh ECC UGM rasanya lembaga ini cocok untuk dijadikan partnership.  ECC UGM yang salah satu misinya adalah : Membangun organisasi yang mengedepankan inovasi, profesionalisme, saling menghargai dan religious sangat tepat untuk membina BEM.

 Memupuk kembali rasa Idealisme

Idealisme tidak harus muncul hanya pada saat pergerakan saja.  Idealisme harus terus dipupuk dan diaplikasikan dalam tiap pergerakan. Sebenarnya saat ini banyak sekali permasalahan yang memerlukan sikap Idealisme dari mahasiswa. Tapi entah kenapa semua seperti terpasung, diam tak bergeser sedepapun. Seharusnya mahasiswa sudah terbangun dan mengungkapkan misi yang cemerlang disertai metodologi pergerakan yang terukur. Misi dan visi ditambah lagi dengan Idealisme yang tinggi akan menyolidkan kembali mahasiswa. Harapan penyatuan akan bisa dilakoni kembali dengan menyuarakan berbagai kepentingan masyarakat. Tinggalkan sikap pragmatis yang belakangan hinggap. Karena sikap pragmatis hanya akan membawa petaka bagi negri ini.

Jika pragmatis sudah menjangkiti tiap individu mahasiswa, lantas siapa lagi yang akan mengayomi kaum yang termarjinalkan. Atau siapa yang akan mengawal proses bernegara dan melanjutkan pembangunan yang harus terus berjalan. Karena sikap ini hanya berfikir ke arah kepraktisan materi saja. Membenarkan segala sesuatu dengan tindakan nyata bukan lahir dari nurani yang menguasai peradaban dunia.

Belajar dari Soe Hok Gie

hok-gieSoe Hok Gie adalah seorang mahasiswa berdarah Tionghoa yang memiliki Idealisme tinggi. Ia aktivis sejati, seorang mahasiswa yang mati muda di puncak Gunung Semeru. Mengutip kata-kata dari Soe Hok Gie, Ia pernah menorehkan beberapa kalimat perjuangan sewaktu menjadi mahasiswa.

“Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I ? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar : kebenaran.

Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.

Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi “manusia-manusia yang biasa”. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.

Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.

Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis. Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah. Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita. ( Sumber dari sini )

Selamat Berjuang !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s