ULANG TAHUN : HARI MEREFLEKSI DIRI

Arti Tiupan Lilin

Dalam setiap pesta ulang tahun biasanya selalu diiringi dengan tiupan lilin, semakin tahun lilin yang ditiup semakin bertambah, namun yang aku sadari adalah bahwa semua lilin yang ditiup itu akan mati. Adegan ini ku anggap bahwa seberapa banyak lilin yang mati, maka sebanyak  itulah kita meninggalkan kehidupan. Secara pribadi aku mengatakan bahwa kehidupan yang telah lalu tidak harus ditinggalkan tapi ditinggkatkan. Itulah sebabnya aku jarang bahkan hampir tidak pernah meniup lilin saat ulang tahun.

B'day 42

Kue Ultahku tiga tahun yang lalu, tanpa lilin (doc.pri)

Bagiku memaknai ulang tahun bukanlah sekedar tiup lilin dan potong kue, tapi lebih dari itu. Dari kebanyakan orang, ulang tahun merupakan hari istimewa. Itulah sebabnya seringkali ketika ulang tahun tiba orang suka mengadakan pesta atau merayakannya meski hanya dengan beberapa teman saja. Seingatku, sepanjang 40 tahun hidupku  baru sekali saja aku merayakan ulang tahun yaitu pada saat usiaku 17 tahun. Pesta itupun sebenarnya bukan seratus persen aku yang menginginkan tapi kedua orang tuaku.

Moment merefleksi diri

 Akhirnya saat ulang tahunku tiba aku lebih banyak mensyukurinya, bukan berarti juga hari-hari biasa aku tidak bersyukur.  Maksudnya adalah sudah tidak perlu lagi ada lilin dan kue segala tapi lebih pada apa yang sudah dicapai selama hidup. Pada saat itulah aku membuat begitu banyak catatan tentang hidup. Catatan agar aku dapat berbuat lebih banyak dan lebih baik lagi. Aku juga  membuat pertanyaan sebagai upaya merefleksi diri, di antara pertanyaan itu adalah :

  •  Sudah sesuaikah ibadah yang aku lakukan ?
  • Sudah ikhlaskah segala perbuatannku ?
  • Sudah siapkah menghadap sang Pemilik Ruh ?

Aku tidak melihat seberapa banyak yang patut ditanyakan pada diriku. Tapi aku lebih sering melihat betapa sulitnya melaksanakan ke tiga pertanyaan itu. Ke tiga pertanyaan itu selalu terulang setiap aku ulang tahun, dengan maksud agar aku selalu ingat sudah berapa lamakah aku tinggal di bumi ini dan waktu yang tersisa. Dan upaya perbaikan apa yang akan aku lakukan dalam mengisi sisa waktu. Jadi sedapat mungkin aku harus bisa memanfaatkan sisa usia dengan sebaik-baiknya agar lebih berkah lagi.  Aku juga mengumpamakan ke tiga  pertanyaan itu sebagai  alarm yang mengingatkan diriku agar lebih bijak lagi melangkah.

Bebenah, bebenah dan selalu bebenah,

Setiap tahun, setiap bulan, setiap hari dan setiap saat…..

Ulang tahun,

Setiap lilin kita bertambah satu,

Saat itulah usia kita berkurang

Setiap jabat erat dan peluk mesra merapat

Saat itulah pengikat mulai terangkat

 

Waktu yang terus bergulir,

Tak tahu entah sampai kapan mengalir

Menjadi diri bak seuntai melati

Akan lebih berarti hingga kelak sampai mati

 

Meski tak tahu atas kehendakNya,

Laksana ilalang yang terus bergoyang

Namun, hari ini…

Sisa usia belum lagi melayang

 

Jauh, dekat, dan…terus dekat

Hingga tibalah datang malaikat

Mengangkat ruh yang melekat

Dan tak ada lagi yang tersisa…

Ulang Tahun, besok atau lusa tetap ku nanti

Tulisan  ini diikut sertakan pada Give Away Ultah Samara

2 thoughts on “ULANG TAHUN : HARI MEREFLEKSI DIRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s