PANCASILA DI TENGAH GEMPURAN TEKNOLOGI INFORMASI

 garuda

Prolog

Pancasila yang melambung namanya sejak Peristiwa G 30 S PKI telah menorehkan sejarah dengan kesaktiannya. Namun sejak hari itu, gaungnya terus memudar seiring dengan perjalanan bangsa Indonesia. Kepak sayap sang Garuda dengan cakar kokohnya tak nampak lagi di angkasa Persada ini. Kemanakah terbangnya Burung Garuda yang membawa lima panji di dadanya itu ?

Perjalanan bangsa yang kian hari dirasa semakin cepat  telah menemui babak  baru. Lewat saluran bernama internet, budaya-budaya dan gaya hidup baru masuk laksana air bah. Informasi tanpa kenal batas dan waktu telah menjadi bagian dari peradaban masyarakat Indonesia. Kehadiran teknologi informasi ini mematahkan tatanan budaya yang telah lama melekat. Misalkan saja silaturahmi yang selalu dilakukan dengan berkunjung kini terganti hanya dengan tatapan wajah  di layar. Pokoknya tiada hari tanpa kehadiran teknologi informasi.

Tanpa disadari kemajuan ini bisa memporak porandakan keteguhan jiwa anak bangsa secara khusus dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Masuknya teknologi informasi dengan berbagai macam produk sayang apabila harus dilewatkan begitu saja. Bukan hanya itu, beraneka ragam  ideologi juga masuk dengan leluasa ke bumi persada. Akibat  nyata dari dampak ini adalah lahirnya komunitas global dan multikultural dengan tujuan yang beraneka bentuk.

Akar Masalah

Sejatinya sebuah bangsa yang memiliki identitas unik sejak puluhan tahun silam dapat menerima teknologi informasi dengan positif. Paling tidak dapat meminimalkan gejolak negatif.  Sepanjang perjalanan banyak sekali nilai-nilai luhur terkandung dalam Pancasila mulai terkikis. Hal ini tidak menutup kemungkinan akan melunturnya nilai-nilai luhur tersebut. Sayangnya lahirnya komunitas global dan multikultural itu tidak diimbangi dengan penanaman nilai luhur Pancasila dalam masyarakat Indonesia. Akibatnya banyak perilaku buruk terjadi tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain.

 Dalam dunia informasi pastinya tidak terlepas dari komunikasi antar komunitas. Komunikasi terjalin dengan mengeluarkan pendapat untuk menilai sebuah tulisan. Nilai luhur yang diajarkan oleh Pancasila sebagai Negara demokrasi adalah bahwa setiap warga Negara berhak mengeluarkan pendapat baik lisan maupun tulisan. Dalam mengeluarkan pendapat ini tiap warga Negara harus menjunjung nilai-nilai kesopanan dan kesusilaan. Namun apa yang terjadi ?  Teknologi Informasi telah menyeret warga Negara dalam mengeluarkan pendapat jauh dari nilai kesopanan dan kesusilaan.

Tidak sedikit kita dapati kalimat yang melanggar nilai-nilai tersebut, caci maki dan saling menjelek-jelekkan adalah hal biasa dalam kanal berita di media online. Bahkan cenderung mengarah pada perbuatan bullying. Saling serang, kecam dan menikam dengan tulisan adalah hal yang sering ditemui pada sebuah kanal berita di media online. Sepertinya kebebasan mengeluarkan pendapat berupa tulisan sudah sangat jauh melenceng. Tidak lagi mengedepankan tata karma dan tata susila. Tulisan berupa hinaan dan cacian tak ubahnya  dengan ucapan yang keluar dari lidah. Padahal tulisan yang lahir dari gerak tangan masih dapat diperbaiki sebelum disajikan pada pembaca. Hal ini memperpanjang deretan makin berkurangnya tatanan menulis dengan santun.

Sila ke tiga, keempat dan kelima sudah tercoreng dengan perilaku negatif dari warga Negara yang kurang memahami nilai-nilai keluhuran Pancasila. Mengeluarkan pendapat berupa tulisan sudah disalah gunakan wewenangnya. Kebanyakan masyarakat berfikir bahwa mengeluarkan pendapat dengan tulisan apalagi di media online tidak perlu dipertanggung jawabkan. Tanpa disadari perbuatan ini  menambah buruk perilaku berbangsa dalam mengemukakan pendapat berupa tulisan.

Ide Strategis

Seharusnya Pancasila terus dipegang teguh dalam situasi apapun. Karena Pancasila lahir bukan hanya sebagai simbol identitas belaka, bahkan lebih dari itu. Belahan dunia manapun akan mengetahui dari mana masyarakat itu berasal saat kita menyebutkan Pancasila. Pancasila adalah darah daging bangsa Indonesia. Selain sebagai simbol, Pancasila juga merupakan pengikat identitas bangsa agar tidak bercerai-berai dan bertikai.

Lunturnya norma-norma komunikasi sejak terbukanya kran globaliasi berupa teknologi informasi dikarenakan masyarakat sudah melupakan jatidirinya. Jatidiri sebagai bangsa yang memiliki darah Pancasilais dengan konsep Ketuhanan Yang maha Esa pada sila pertamanya. Penempatan sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai awal dari susunan Pancasila adalah hal  mutlak. Karena seorang manusia harus mengutamakan komunikasi verbal dengan Tuhannya. Jika komunikasi verbal itu telah berjalan dengan baik maka hal itu akan berkesinambungan pada perilaku selanjutnya. Ini adalah suatu ide strategis untuk tetap menjadikan Pancasila sebagai dasar perilaku bersosialisasi. Dengan demikian penguatan Pancasila sebagai identitas bangsa akan mudah terbentuk.

Perilaku Pancasilais ini harus terus dipertahankan dan tidak boleh diabaikan. Penanaman budi pekerti yang luhur dan interaksi positif antar manusia akan terjalin dengan baik jika sikap Pancasilais tertanam dalam tiap masyarakat Indonesia. Demikian pula dalam menghadapi gempuran  teknologi informasi berupa komunitas global dan multikultural.

tumblr_inline_mir6pnzFYL1qz4rgp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s