Musik Menembus Semua Dimensi

Hari Minggu kemarin, aku disuguhkan oleh live musik gratis dari tetangga sebelah rumah.  Alat musik yang dimainkan terbuat dari kulit hewan yang dikeringkan. Alunan musik akan terdengar setelah alat musik tersebut dipukul dengan jari tangan. Alat musik yang tergolong sebagai alat musik tradisional ini bernama Rebana. Grup musik yang terdiri dari para lelaki itu berjumlah tujuh orang. Semuanya duduk bersila di atas panggung sederhana. Kostum yang mereka kenakan juga sederhana, dengan kopiah putih sebagai simbol religi Islami. Syair yang dikumandangkan penuh dengan do’a dan shalawat. Mengagungkan asma Allah SWT dan Rosul kesayangannya. Sekalipun mereka perform dengan nuansa sederhana, namun syairnya mampu meluruhkan imaji keimananku.

Dug…dug…cring..cring…cring, Rebana dan Kerincing berpadu mengiringi lengkingan syair dari sang vokalis. Setelah itu semua ikut bernyanyi, serempak dan penuh penghayatan. Ya, mereka memang sedang bernyanyi dan syair religinya membuat dada mereka bergemuruh. Karena yang terbayang oleh mereka adalah Kuasa Allah SWT. Penampilan mereka menyihir penonton yang tidak lain adalah tamu dari undangan hajatan tersebut. Aku yang sejak pagi berada di rumah ikut tersihir mendengar lagu tersebut. Tanpa sadar suara kecil perlahan meluncur dari bibirku, saya ikut bersenandung. Musik sederhana tapi penuh makna ini bernama “Marawis”.

ekpresi-pemain-gendang-marawis_3352_l

Grup Musik Marawis foto dari sini

Metamorfosis Musikku

Tiga puluh tahun silam aku selalu terbuai dengan empuknya suara Arie Koesmiran, Iis Sugianto dan deretan artis lain besutan A. Riyanto pada masa itu. Sampai saat ini sebagian besar lagu mereka pun  aku masih hapal. Bahkan aku juga mengalami era di mana Chica Koeswoyo dan Adi Bing Slamet mengalami kejayaannya sebagai penyanyi cilik. Dulu suara mereka terekam dalam kaset persegi empat dengan pita berwarna coklat di dalamnya. Kalau pun tampil di televisi, mereka hanya memakai kostum berwarna hitam dan putih. Tapi penampilan mereka sangat memukau loh, tidak kalah dengan penampilan penyanyi saat ini.  Memasuki era tahun 90 an, lahirlah penyanyi berparas cantik dan bersuara emas, sebut saja Krisdayanti dengan “Menghitung hari”nya, Titi DJ, Ruth Sahanaya dan lainnya. Entah kenapa magnet musikku menarik aku ke genre pop, bahkan cenderung melankolis. Saat itu aku benar-benar ‘gandrung’ dengan aliran musik pop, bahkan setiap kali di antara mereka mengadakan konser aku selalu berada di area festival. Aku tak pernah absen menonton konsernya Chrisye dan Krisdayanti.

IMG_0135

Hayoooo…siapa yang masih punya kaset ?

Arie Koesmiran

Eh, di Langit Musik masih ada lagunya Arie Koesmiran loh !

krisdayanti

Krisdayanti “Menghitung Hari” di Langit Musik

Mulai tahun 2000 aku sudah mulai melupakan musik pop, menurut pendapat ku syair lagu di tahun 2000 cenderung ‘cengeng’. Padahal pada tahun itu musik pop sedang berkembang sangat pesat. Banyak penyanyi baru bermunculan, sekali pun kemunculannya terkesan dipaksakan. Bukan itu saja, pertunjukan musik pun sudah banyak digelar, tidak hanya di gedung tetapi sudah merambah ke area Perbelanjaan. Ajang kompetisi pencari bakat menyanyi pun mulai digelar dan banyak diminati kaum remaja dan abege. Sayangnya, sejak itulah minatku akan musik sudah mulai surut, tak ada lagi senandung kecil yang keluar dari bibirku.

Minat Musikku Religi

Setelah beberapa tahun telingaku absen  mendengar lagu-lagu bersyair indah, Grup musik Bimbo yang dulu konsen dengan musik pop, kini beralih ke musik Religi. Nah, di sinilah minat musikku kembali terusik. Mendengar suara baritonnya Sang bimbo mendendangkan lagu “Rindu Rasul” membuat bulu kudukku begidik. Lagu religi Islami dari Bimbo mulai dilirik oleh banyak pecinta musik yang sudah mulai surut, salah satunya aku. Tak lama berselang, muncul Opick dengan “Tombo Ati”nya dan sekarang Grup Band Wali. Mereka sangat konsen dengan jalur religinya, hal ini membuat gairah musikku bangkit kembali. Pandanganku musik itu tidak sekedar dinikmati tapi juga harus dicintai, sehingga kita sadar dengan apa yang kita dengar. Coba saja sedikit kita renungkan, setiap kali mendengar musik pastinya pikiran kita langsung teringat dengan peristiwa di mana musik itu mengalun. Contohnya saja ada Tembang Kenangan, Lagu Favorit dan lain sebagainya. Hal itu menandakan bahwa mendengarkan musik akan bersentuhan dengan jiw dan alam pikiran.

opick

Opick “Tombo Ati” di Langit Musik

Langit Musik Portalnya Musik Online

Beruntung sekali aku menemukan Langit Musik, situs online yang menyediakan berbagai jenis lagu untuk didownload sepuasnya. Kita tidak memerlukan lagi kaset, CD atau perangkat keras lannya jika ingin menikmati musik. Tidak perlu kepanasan atau memaki kemacetan, bila sekedar ingin mendengarkan musik, pilih lagu, lalu download, tanpa menunggu lama lagu pilihan Anda akan segera terdengar.   Langit Musik memiliki 800 ribu lagu dari luar dan dalam negri dengan berbagai genre dan zaman. Ketika browsing di Langit Musik, aku menemukan lagu yang dulu menjadi favorit. Nggak nyangka loh !   Langit Musik adalah situs terpercaya yang berada di bawah bendera Telkomsel. Langit Musik menyuguhkan aneka jenis musik yang terdengar asyik.  Sekarang aku dapat menikmati musik dengan asyik tanpa terusik. Ya, musik telah menembus dimensi ruang dan waktu. Kapan pun, di mana pun dan dalam situasi apa pun musik akan tetap asyik didengar.

Musik001

Ada 800 ribu lagu yang dapat didownload di langit Musik

Musik002

Halaman muka Langit Musik

musik

Banner Lomba

One thought on “Musik Menembus Semua Dimensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s