Mendampingi Sheva Berinternet

Bunda, pernahkah kita bergilir laptop pada anak ? Atau  membuka laptop pada saat si anak tidur ? Dua pengalaman di atas adalah kejadian yang kerap kali timbul dalam keseharian kita. Bahkan terkadang kita sebagai orang tua harus cemberut ketika laptop sedang berada di tangan anak, padahal sedang dikejar DL.

Dewasa ini, Trend Mobile Internet seperti roda yang bergulir tanpa arah, tak kenal tempat dan usia. Memasuki segala bidang kepentingan, mulai dari keuangan sampai resep masakan yang singgah di dapur. Tak pelak dari segi usia, keberadaan internet pun sudah mengiringi tumbuh kembang anak. Bahkan tak dapat disangkal lagi bahwa perkembangan anak dengan segala problematikanya internet pun ikut andil di dalamnya.  Masih dalam batas kewajaran apabila internet diakses oleh orang tua, yang memang membutuhkan banyak informasi untuk perkembangan  anak. 

Akan tetapi timbul problematika jika internet sudah mulai memasuki dunia anak atau anak sudah mulai mengenal internet. Pastinya akan terjadi pergeseran multifungsi dari dampak yang ditimbulkannya, baik itu negatif maupun positif.  Jika hal ini terjadi maka sudah dapat dipastikan bahwa orang tua mau tidak mau harus memegang peran baru untuk mengantisipasi dampak negatif yang akan timbul. 

Demikian pula dengan saya, sebagai orang tua saya sudah memprediksi  bahwa hal ini lambat laun akan terjadi. Oleh sebab itu saya sudah mempersiapkan beberapa jurus untuk mengantisipasi hal tersebut. Apalagi saya harus mengiringi seorang anak yang sedang tumbuh kembang dan hidup dalam lingkungan yang serba gadget. Tidak mudah memang memberikan pengertian pada anak yang memiliki keingintahuan besar.

pizap.com10.131330650299787521375580823606

Gini nih gayanya Sheva kalau lagi ‘berinternet’ (doc. pri)

Mengenalkan Internet Pada Sheva

Adalah Sheva, gadis cilik berusia 9 tahun ini sangat antusias saat saya membeli laptop untuk kepentingan pekerjaan. Wajah Sheva yang cabi terlihat sumringah dan riang ketika jari saya sudah mulai tak tik tuk di atas tuts keyboard. Dia asyik berdiri di samping saya sambil matanya tak lepas dari screen. Ya, saat itu saya sedang browsing mencari  resep masakan. Itulah pertama kalinya Sheva tahu tentang dunia internet. Saya merasa Sheva sangat tertarik dengan apa yang saya kerjakan, namun dia tidak berani untuk minta mencobanya. Lama kelamaan timbul rasa iba dalam hati saya  disertai dengan sebuah pikiran,”Mau, punya anak gaptek ?”. Toh tidak salah bukan, jika saya mengenalkan dunia internet pada Sheva. Pemikiran saya yang lain adalah bahwa Sheva akan cepat bosan, karena sudah merupakan sifat dasar anak-anak kalau mereka  menyukai hal-hal yang bersifat baru.

Akhirnya saya pun memperkenalkan internet pada Sheva, dengan beberapa pengertian sebagai berikut :

1.       Internet adalah tempat untuk belajar, banyak yang bisa ditanyakan pada internet. Di sini saya mencontohkan tentang pelajaran yang belum diketahui oleh Sheva. Saya lalu meminta dia untuk mengetikkan tentang pelajarannya, misalnya akar pangkat 49.

2.       Internet adalah tempat untuk mencari informasi, banyak informasi yang didapat dari internet. Saya pun meminta Sheva untuk mengetikkan tentang informasi yang ingin dia ketahui, misalnya informasi tentang tempat liburan.

 Ke dua hal inilah yang pertama kali saya tanamkan pada Sheva sebelum dia asyik dengan game-game yang ada di internet. Menanamkan pengertian tentang internet belumlah cukup, saya pun bergerilya mencari tahu lebih dalam lagi seberapa besar manfaat dan dampak terhadap anak yang berinteraksi dengan internet. Karena pengertian di atas pastinya akan tergeser atau bahkan dilupakan jika Sheva sudah asyik dengan permainan. Jadi saat Sheva tenggelam dalam game di internet, maka saya langsung mengingatkan dua hal tersebut di atas. Dan Alhamdulilah sampai sejauh ini Sheva  mau mengerti, setelah itu dia langsung kembali pada dunianya, boneka dan mainan yang lain.

 Berdasarkan info yang saya baca di buku serial Nakita “The Golden Years” ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh anak dengan memainkan game internet atau yang dikenal dengan game online ini. Beberapa manfaat itu adalah :

  • Melatih motorik halus anak

Pada umumnya game online lebih sering menggunakan gerak tangan dan jari jemari seperti memainkan mouse komputer atau tombol-tombol handphone. Hal ini tentunya dapat melatih motorik halus anak, apalagi gerakannya dilakukan terus menerus dan berulang-ulang.

  •  Menambah pengetahuan

Game online menyodorkan gambar-gambar ornament yang indah, musik dan pengetahuan umum serta logika matematika. Bahkan game online ini ada beberapa yang mengambil tema sejarah dunia. Jadi game online pun dapat digunakan sebagai sarana belajar. Bedanya dengan edukasi multimedia adalah, game online  porsi pengetahuannya lebih sedikit dan disisipkan secara samar.

  • ·Melatih ketekunan dan konsentrasi

Game online seperti menggambar, memasak dan menjadi pelayan restoran membutuhkan konsentrasi agar mendapat score atau value yang tinggi. Hal ini dapat melatih anak untuk tekun dalam melakukan permainan tersebut.

  • ·  Mengasah kognitif

Anak dapat belajar sebab akibat, misalnya untuk menhasilkan gambar tertentu dia harus menekan tombol-tombol tertentu atau dengan cara tertentu untuk menghasilkan gambar sesuai dengan yang diinginkan.

pizap.com10.50313402572646741375582158475

Seriusssss banget kalau lagi ber hape (doc.pri)

 Dari beberapa manfaat yang sudah saya share di atas, sebagai orang tua saya tetap mencari tahu dampak yang ditimbulkan dari game online ini. Masih dari buku yang sama, ada beberapa dampak yang timbul dari permainan di internet, yaitu :

  • ·         Bahaya peniruan

Ada beberapa game online yang cenderung menonjolkan sisi kekerasan fisik seperti perkelahian dan sebagainya. Selain hal negative yang akan ditiru oleh anak, lambat laun akan membentuk mindset anak bahwa hal itu wajar dilakukan.

  • ·         Kurang sosialisasi dengan lingkungan

Game online cenderung membuat anak menyendiri karena lebih menikmati “pergaulannya” dengan dunia game dibanding  bersosialisasi dengan teman-temannya. Kegiatan yang sifatnya satu arah ini membuat anak kurang kesempatan berinteraksi secara sosial.

  • ·         Menurunnya semangat belajar dan prestasi sekolah

Game online yang bersifat kurang edukatif tidak membutuhkan kemampuan otak untuk berpikir. Jika dilakukan terus menerus akan menghambat perkembangan otak anak. Selain itu, keasyikan anak dalam bermain juga membuatnya menjadi malas untuk melakukan aktifitas lain apalagi yang membutuhkan kemampuan berpikir.

  • ·         Mengabaikan rutinitas

Game online pada umumnya amat menyenangkan. Akibatnya, anak kelewat asyik sehingga mengabaikan rutinitas kesehariannya, entah  itu untuk makan, mandi dan sebagainya.

  • ·         Tak mau kalah

Game online pada dasarnya menawarkan situasi di mana anak sebagai pemain bisa menyeting permainan tersebut agar dirinya selalu menang. Dengan kata lain tidak mengajari anak terkondisi dalam proses “jual beli” kemenangan.

 Pendampingan Secara Ketat

Ketika saya menyadari bahwa mau tidak mau saya harus menambah peran terhadap gejala baru di dunia internet terhadap Sheva, maka saya langsung mengambil peran itu dengan bijak. Beberapa hal yang saya lakukan jika Sheva sedang berinternet adalah :

  1. Saya tidak menerapkan jam-jam khusus untuk Sheva dalam berinternet. Kapan pun dia mau boleh saja dilakukan. Namun hal lain yang lebih penting dari itu adalah memperketat pendampingan. Pendampingan yang saya lakukan ini lebih ketat saat Sheva nonton TV. Jadi selama 1 sampai 2 jam saya terus mendampinginya sampai laptopnya shutdown.
  2. Saya lah yang memilihkan jenis permainan yang akan dimainkan. Misalnya saja memasak, accessories, pelayan restoran, salon sally dan sebagainya. Karena Sheva perempuan maka saya mengharuskan dia memainkan jenis permainan tersebut. Jika dia menolak, konsekuensinya cuma satu, tidak usah main !
  3. Komunikasi, saya selalu menanyakan kesulitan dari permainan yang dimainkannya dan cara menyelesaikannya. Atau berkomentar tentang gambar yang dihasilkan, seperti,”Ko langitnya warna merah ? Kenapa tidak biru ?” 
  4. Antisipasi saya yang lain adalah dengan mengikutkan Sheva dalam beberapa kegiatan ektra kurikuler seperti menari dan drumband. Ternyata kegiatan ekstra kurikuler ini mampu mengurangi keinginan Sheva untuk bermain game di internet. 
  5. Tidak berkeinginan untuk membelikan gadget yang dimiliki sendiri seperti tablet dan sebagainya. Saya berpikir apabila Sheva memiliki gadget pribadi maka saya tidak bisa mengawasinya dengan ketat.  Bagi saya perkembangan jiwa raga Sheva jauh lebih penting daripada sekedar gengsi atau ikut-ikutan trend.    
pizap.com10.192754408344626431375620309972

Mengejar score dalam game “Salon Sally” (doc.pri)

Dengan menerapkan beberapa peran tersebut di atas, Alhamdulilah saya tidak melihat adanya dampak negatif pada Sheva. Semangat dan prestasi belajarnya tetap terjaga di samping itu Sheva juga terhindar dari julukan “anak gaptek”. Sekedar tahu apa itu internet sudah cukup, jika ingin lebih banyak tahu, tunggu sampai usianya mampu menyaring hal-hal baik dan buruk.

BANNER-LOMBA-BLOG-DPTALK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s