Menggairahkan Kembali Tradisi Menjamu

Mendengar kata  “jamu”  bagi sebagian besar orang mungkin akan langsung mengerutkan alis pertanda tidak suka. Hal ini dikarenakan karakteristik jamu yang memiliki rasa pahit dan pada akhirnya kurang diminati. Namun jika melihat khasiat dan kegunaan jamu maka tidak dapat dipungkiri lagi, suka atau tidak demi kesehatan jamu pun menjadi pilihan pertama untuk penyembuhan. Begitupula halnya dengan saya, demi kesehatan akhirnya saya harus mengkonsumsi rebusan daun sirsak dan brotowali sebagai obat alternatif. Sudah tiga bulan ini saya back to nature ke herbal karena mengalami peradangan pada tumit yang menyebabkan nyeri. Pelan tapi pasti radang dan sakit sudah mulai berkurang berkat ketelanenan mengkonsumsi herbal tersebut.

Ya, mengkonsumsi jamu sebagai pengobatan memang membutuhkan ketelatenan dan rutinitas. Meramu herbal yang tepat takaran dan merebusnya dengan benar adalah perlakuan dalam menghasilkan jamu agar terjaga khasiatnya. Memang agak ribet tapi hasilnya sesuai dengan usaha yang dilakukan. Selain sembuh, tubuh juga terjaga dari racun atau toksin yang terdapat dalam tubuh bahkan tidak sedikit setelah minum jamu badan jadi tambah bugar. Berikut resep daun sirsak yang sedang saya konsumsi untuk menghilangkan nyeri pada tumit :

resep001

daun sirsak002

Saya jadi teringat peristiwa yang saya alami  pada waktu kecil, saya terhipnotis oleh ucapan intimidatif dijamoni ( diberi jamu ), saat itu saya berusia tiga tahun dan sulit makan, maka saya dijamoni oleh ibu  supaya mau makan. Dijamoni adalah sebuah upaya paksa atau dicekoki agar anak mau minum jamu untuk tujuan tertentu seperti tidak mau makan atau sedang sakit.

Karena khasiat jamu atau sekarang ngetren dengan sebutan obat herbal, telah saya rasakan maka sampai saat ini saya tidak pernah absen minum jamu. Kunir atau kunyit asem dan beras kencur telah menjadi minuman yang rajin saya konsumsi.

Beras kencur002

Jamu Gendong

Adalah mbok Parmin ( 50 thn ), bagi sebagian besar warga yang tinggal di Bintaro dan sekitarnya, kedatngan mbok Parmin selalu ditunggu-tunggu, terutama oleh ibu-ibu. Mulai dari jam 9.00 hingga 11.00 pagi mbok Parmin berkeliling menjajakan jamu gendong dari  rumah ke rumah. Kunyit asem dan beras kencur adalah jamu yang paling digemari karena diyakini bisa menjaga stamina tubuh agar tetap bugar. Sudah hampir 25 tahun mbok Parmin berjualan jamu gendong di wilayah Bintaro, demi segelas jamu segar yang nikmat, mbok Parmin rela meracik jamu dari pukul 4.00 pagi.

jamu gendong

Bukan mbok Parmin. Gambar dari sini

Selain itu mbok Parmin juga mengulek sendiri empon-emponnya ( aneka bahan herbal ), dia tidak mau pake blender, karena hasilnya kurang enak,”katanya sumringah. Hanya dibrandol dengan harga Rp. 2000 pelanggan sudah bisa minum jamu dengan beragam khasiat. Untuk bahan empon-emponnya mbok Parmin membelinya di Pasar Kebayoran Lama. Setelah semua empon-empon dicuci bersih, barulah dilakukan proses pengulekan. Dalam sehari mbok Parmin berjualan dua kali, pagi dan sore itupun jika tidak capek. Sebelas botol plastik memenuhi bakul mbok Parmin yang digendongnya. Jumlah botol yang digendongnya berjumlah ganjil, ini pertanda bahwa si penjual jamu sudah menikah atau pernah menikah demikian pula dengan sebaliknya jika botol yang digendongnya genap berarti si penjual belum menikah alias masih perawan. Jumlah botol yang digendong  ini merupakan mitos turun temurun.

Jamu gendong dikenal sebagai minuman rakyat, oleh karenanya lahirlah lagu “Suwe Ora Jamu” yang artinya sudah lama tidak minum jamu. Lagu ini menginspirasi saya untuk menggairahkan kembali tradisi menjamu, bukan hanya untuk kalangan orang tua saja tapi juga kaum muda. Di samping itu lagu ini juga sudah harus diaransemen ulang menjadi ‘tiap hari menjamu’. Sudah seharusnya jamu diminum setiap hari jadi tidak menunggu lama hanya untuk minum jamu.

Back To Nature

Ungkapan back to nature sudah cukup lama terdengar, namun gaungnya hanya sebentar saja.  Hal ini disebabkan banyaknya obat-obat konvensional yang mudah didapat dan cepat penyajiannya. Seiring dengan perjalanan waktu back to nature kembali menuntun orang untuk menggunakan obat herbal, termasuk jamu. Saat ini mengkonsumsi jamu layaknya orang menikmati secangkir kopi atau teh. Di beberapa kota besar seperti Bali dan Solo ada café yang menyuguhkan jamu secara khusus. Beras kencur, Temu Lawak, Kunyit Asem, Pegal Linu, Sehat Lelaki, Sehat Perempuan, Galian Singset, Mustika Rapet dan Benkwat adalah contoh menu dari sebuah café jamu yang terletak di Jl. Ronggowarsito, Solo, Jawa Tengah.

Sang Pemilik, Made Ayu Aryani menepis persepsi tentang jamu yang rasanya pahit dan selalu dikonsumsi oleh orang tua. Di tangan Made Ayu Aryani, jamu bisa menjadi minuman yang lebih enak dan menjadi konsumsi kaum muda. Itulah sebabnya café yang berdiri pada April 2012 itu tidak disambangi oleh kaum tua tapi justru sebaliknya kaum muda.

Berbagai macam terobosan tentang jamu terus dilakukan, hal ini membuktikan bahwa keberadaan jamu sebagai minuman tradisional tetap diminati. Sebagai contoh misalnya, jamu sehat lelaki yang diramu dari bahan herbal, seperti akar alang-alang, cabe jawa, rimpang jahe, biji kelabet, rimpang temu kunci, rimpang lengkuas dan temu lawak tidak hanya dikonsumsi oleh kaum tua saja.

Menurut data survey yang dilakukan oleh Litbang Kompas obat herbal tetap menjadi prioritas dibandingkan dengan obat konvensional. Kemajuan dunia medis yang berhasil menemukan obat dan pengobatan bagi berbagai macam penyakit tidak sanggup menggeser kedudukan obat herbal di mata masyarakat.

litbang

Menjadikan Tren Gaya Hidup

Semua masyarakat  tahu bahwa jamu merupakan warisan tradisional bangsa Indonesia. Sebagaimana layaknya warisan, maka sepatutnya kita sebagai generasi penerus wajib untuk menjaga dan melestarikannya. Bahkan sebab musabab bangsa ini dijajahpun karena Indonesia kaya akan rempah-rempahnya. Amat disayangkan jika kekayaan alam yang kita miliki itu dilirik kembali oleh bangsa lain, hanya karena stigma negatif tentang pahitnya jamu.

Stigma negatif lain yang harus diluruskan adalah penggunaan kalimat “obat herbal”, karena kalimat ini menandakan bahwa jamu adalah obat. Orang yang minum obat identik dengan orang sakit, padahal tidak selalu begitu. Jamu tidak harus diminum pada waktu sakit saja, dalam keadaan sehatpun orang boleh saja minum jamu.

Mengapa kita tidak berpikir bahwa jamu juga bisa dirasakan manisnya asal saja kita bisa menyulapnya menjadi pundi-pundi rupiah. Misalnya saja dengan membuka café jamu seperti yang sudah dicontohkan oleh Made Ayu Aryani. Sebagaimana diketahui sebutan ‘café’ merupakan tempat nongkrongnya kaum muda. Jadi  mensejajarkan jamu dengan minuman lainnya seperti kopi, teh dan jus bukan hal yang sulit.  Mulailah untuk menyukai jamu daripada minuman berkaborasi yang jelas-jelas merugikan kesehatan. Belajarlah berbangga hati dengan minum jamu dan bukan dengan minum ‘cola’nya. Kalau ada minuman yang lebih menyehatkan dan warisan negri sendiri, kenapa lebih memilih minuman import yang merugikan. Masyarakat Indonesia harus bangga dengan jamunya dan bukan dengan colanya.

Jamu juga bisa menjadi tren gaya hidup yaitu dengan lahirnya produk-produk jamu instan. Dengan kata lain kita bisa menikmati jamu tanpa susah payah membuatnya. Produk jamu instan yang berupa kapsul, tablet ataupun sirup lebih praktis dikonsumsi bahkan ada varian rasanya juga. Seperti saya misalnya, selalu membeli kunyit asam dalam kemasan botol, dan dapat diminum kapan saja. Jika pagi hari tentu saja saya menunggu mbok Parmin datang, karena saya adalah pelanggan setianya. Saya juga berharap bahwa akan banyak mbok Parmin muda bermunculan ketimbang  mereka harus menjadi buruh.

Seiring perjalanan usianya mbok Parmin akan mati tapi tentunya tidak dengan jamu. Sampai kapan pun warisan ini harus diturunkan kepaga anak cucu. Oleh karenanya kenalkan jamu pada anak-anak juga, jangan sampai anak-anak lebih mengenal ‘cola’ daripada jamu.  Selamat menjamu…!

rafa

Begini…ni mimik Rafa minum jamu

Referensi Artikel :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s