7 Warisan Sehat Dari Ibu…

“Sudah cuci tangan belum ? Jangan lupa berdo’a ya,”pinta ku pada Bimo saat jagoan kecil itu hendak makan. Perkataan yang seringkali saya ucapkan itu tidak pernah membuat bosan.  Meskipun terkadang anak-anak merasa bosan mendengarnya, namun acapkali pula saya menjelaskan pada mereka tanpa menggurui atau memaksa. Alhamdulilah mereka mengerti betapa pentingnya ucapanku itu. Ya, apa yang sedang saya terapkan pada anak-anak adalah sebuah warisan pengajaran dari ibu. Dulu, ibupun selalu mengatakan hal serupa padaku, di saat saya hendak mulai makan.

berdo'a

Bimo berdo’a sebelum makan

“Ah…menerapkan pengajaran ibu mengingatkan betapa ibuku seorang ibu rumah tangga tulen. Beliau banyak sekali mengajarkan cara hidup sehat, tanpa kami merasa diajarkan atau dipaksa. Sifat lemah lembut dan keibuannya membuat kami anak-anaknya selalu patuh menjalankan titahnya. Kami jarang sekali membantah perintah ibu apalagi menentangnya. Setelah kami renungkan bahwa semua itu adalah demi kepentingan kami dan bukan demi ibu, maka dari situlah kami merasa bahwa pengajaran ibu harus kembali diajarkan pada anak-anak yang tidak lain adalah cucu ibu.”

Alhasil sayapun menerapkan pengajaran ibu pada anak-anak sampai sekarang, meski harus dilalui dengan  perjuangan dan kesabaran. Ternyata pola laku anak-anak pada masa kini jauh berbeda dengan pola laku kami dahulu.

Akan tetapi di sisi lain, saya harus  bersyukur bahwa mbalelonya anak-anak pada masa kini masih bisa ditolelir karena tidak terlalu menyimpang dari pengajaran tradisi. Seperti misalnya beberapa pengajaran ibu yang saya terapkan pada anak-anak adalah sebagai berikut :

1. Mencuci tangan setelah pulang bepergian

Dulu, tiap kali kami pulang dari bepergian ibu selalu meminta anak-anaknya untuk mencuci tangan, karena pada waktu itu belum ada sabun pencuci tangan seperti saat ini, maka kami mencuci tangan dengan sabun mandi, itupun sabun mandi yang masih dalam bentuk padat. Setelah itu barulah ibu menyuruh kami untuk mengganti pakaian dengan baju yang lebih bersih. Hal ini dimaksudkan agar kuman yang berasal dari luar rumah tidak terus menempel pada baju dan tubuh.

Maukah anak-anak menerapkan hal ini ?

Kini, kalau pada waktu itu kami sangat patuh dan langsung mengerjakan perintah ibu, tapi tidak demikian halnya pada anak-anak. Saat saya meminta mereka untuk mencuci tangan dan mengganti pakaian, mereka malah menyalakan televise atau memainkan gadgetnya. “Duh…! Anak-anak ini apa mereka tidak mendengar ya ?”gerutuku dalam hati. Setelah perintah kedua  meluncur, barulah mereka berlari ke wastafel untuk mencuci tangan dan berganti pakaian. Perintah kedua inipun harus ditambah dengan kalimat panjang,”Bersih itu untuk siapaaaaaa ?”

2. Berdo’a sebelum dan sesudah makan

Dulu, kami selalu bisa makan bersama ibu dan bapak, meskipun bapak hanya bisa makan bersama pada waktu  malam saja. Namun kebiasaan makan bersama lebih sering kami lakukan.   Sebelum makan bapak mengajak kami berdo’a. Do’a kami yaitu dengan mengucapkan “Bismillahirrohmanirrohiim…,”setelah itu barulah kami makan. “Do’a sebagai ucapan rasa syukur karena kita masih bisa menikmati makanan dalam keadaan sehat wal’afiat.  Makanan itu akan terasa nikmat jika disantap dalam keadaan sehat. Coba saja bayangkan jika kita sakit, apapun yang dimakan terasa pahit dan tidak berselera,”demikian kata bapak memberikan wejangan pada kami.”

Bagaimana dengan anak-anak ?

Kini, anak-anak cukup patuh untuk berdo’a sebelum dan sesudah makan, karena sejak umur 4 tahun mereka sudah kami ajarkan untuk berdo’a tiap kali melakukan pekerjaan. Selain itu mereka juga diajarkan di sekolah dan selalu diterapkan setiap harinya sehingga jadi  terbiasa.

3. Makan tidak boleh bersuara

Dulu, pada saat kami makan tidak boleh bersuara, entah itu suara yang keluar dari mulut atau tersentuhnya alat makan seperti garpu dan sendok. Mengunyah makanan harus pelan, jangan mengecap sampai berbunyi. Telan selagi makanan sudah cukup halus. Makan juga tidak boleh terburu-buru. Adapun maksud dari semua kebiasaan ini adalah menjaga makanan yang ada di dalam mulut agar terhindar dari masuknya debu atau kotoran. Apa jadinya jika makan tapi mulut  tetap terbuka, pastinya debu yang masuk akan ikut tertelan juga. Dan apabila salah seorang dari kami selesai duluan, kami tidak boleh meninggalkan meja makan, kami harus menunggu bapak untuk  meninggalkan meja makan lebih dulu. Hal ini dilakukan hanya sebagai penghormatan saja kepada orang tua.

Lantas bagaimana sikap anak-anak ketika saya menerapkan hal ini ?

Kini,  sulit sekali untuk menerapkannya pada anak-anak, mereka bahkan berebut bercerita justru pada waktu makan. Banyak sekali cerita yang akan mereka sampaikan, dari kegiatan sekolah, buku cerita yang dibaca, tentang guru atau teman-temannya dan masih banyak lagi. Saya sampai menghela napas jika mendengar mereka cerita, sesekali saya meingatkan untuk menelan dulu makanan di dalam mulut agar tidak tersedak.

4. Sedikit jajan

Dulu, ibu tidak pernah memberi uang untuk keperluan apapun, apalagi untuk jajan. Segala keperluan kami ibu yang menyediakan, kalaupun ada yang ingin dibeli maka saya diajak ibu ke pasar. Soal jajan ibu sangat disiplin bahkan cenderung ketat. Ibu selalu melarang kami jajan baik di sekolah maupun di rumah.

Bagaimana sikap anak-anak tentang jajan ?

Kini,   Untuk hal yang satu ini saya tidak perlu pasang strategi apapun. Anak-anak benar-benar patuh dan tidak protes.  Saya sedikit lega, karena anak-anak  tidak merengek saat saya tidak memberi mereka uang jajan.  “Ah…ternyata masih ada pengajaran dari ibu yang masih diterima oleh anak-anak,”gumamku senang.

5. Selalu membawa bekal

Dulu, ke manapun kami pergi ibu selalu menyiapkan bekal untuk kami bawa, dari mulai camilan, nasi dan lauk pauk, buah dan air minum, semuanya ibu yang memasak. Terbayang kan betapa repotnya ibu menyiapkan segala tetek bengek buat kami, hanya karena ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Maukah anak-anak membawa bekal ?

Kini, sama halnya dengan jajan, peninggalan ajaran ibu ini juga saya terapkan pada anak-anak, dan mereka dengan senang hati menerimanya. Hanya saja ada yang berbeda dalam menyiapkan dan jenis bekalnya.  Kalau dulu ibu selalu memasak makanan untuk bekal, maka kali ini saya menyiapkan bekal berupa camilan yang sebelumnya sudah saya beli lebih dulu di supermarket. Jika masih punya waktu luang, maka saya akan memasak bekal yang akan dibawa oleh anak-anak. Jaman dengan segudang aktifitas telah membuat saya kehilangan waktu untuk memasak,”Maafkan saya bu, saya tidak bisa mencontoh sesempurna ibu,”sesalku dalam hati.

bekal

Bekal sekolah anak-anak “nasi goreng”

6. Membuat camilan sendiri

Dulu, konsekuensi tidak  jajan adalah Ibu lebih sering membuat sendiri camilan atau kudapan, seperti : bubur kacang ijo, bubur sumsum, siomay, pisang goreng dan sebagainya. Dan kami memang tidak menolak camilan yang ibu buat, karena masakan ibu memang sangat enak. Ternyata selain mengurus rumah ibu juga pandai memasak. Camilan yang ibu buat selalu habis dalam satu waktu, apalagi bila ibu membuat gorengan, seperti bakwan jagung, tahu isi, risoles atau donat. Jadilah kami anak-anak yang sehat dan cerdas, karena makanan yang diolah oleh ibu bebas dari bahan-bahan kimia dan lebih terjaga kebersihannya.

Apakah anak-anak menyukai camilan buatanku ?

Kini, upaya ibu inipun saya terapkan pada anak-anak, namun sayang tidak mendapat tanggapan positif dari mereka. Jadilah saya membuat makanan hanya seminggu sekali. Saya telah melakukan berbagai cara untuk mengolah camilan agar tampil lebih menarik dan rasanyapun disesuaikan dengan selera mereka.  Saya melihat anak-anak tidak begitu semangat memakannya dan cenderung cepat bosan tidak seperti saat mereka makan burger atau spaghetti

7. Membiasakan makan di rumah

Dulu, kami jarang sekali makan di luar rumah, bukan saja karena belum banyaknya resto dan fast food tapi ibu selalu memiliki banyak alasan untuk menghindari  makan di luar rumah. Itulah sebabnya gaya makan di luar rumah pada masa itu menjadi sebuah kemewahan. Sekali dalam tiga bulan sudah sangat membanggakan, itupun kalau bapak sudah memaksa. Demikian pula jika ada acara spesial seperti ulang tahun, ibu lebih suka membuat nasi kuning sendiri dan dibagikan ke tetangga,”kata ibu itu lebih berkah daripada harus makan di luar rumah.

 Apakah kami masih bisa mempertahankan tradisi ini ?

Kini, banyaknya resto dan fast food yang menjamur, membuat kegiatan makan di rumah tergeserkan. Sebenarnya ini bukan alasan untuk menggeser sebuah tradisi yang baik. Semua bisa saja diatur sedemikian rupa asal ada niat untuk mempertahankan sebuah tradisi sehat. Tapi sayang, untuk yang satu ini saya tidak bisa mempertahankannya. Pilihan menu  beragam disertai dengan munculnya inovasi dalam bidang kuliner yang menawarkan selera  menggiurkan mematahkan tradisi baik dari ibu. Kalau dulu saya hanya bisa makan di luar rumah sekali dalam tiga bulan, maka sekarang kami memiliki rutinitas makan di luar rumah lebih banyak. Sebenarnya terbersit dalam hati saya perasaan bersalah yang dalam karena tidak dapat meneruskan tradisi ibu.  Itulah sebabnya saya selalu berusaha keras untuk bisa menghadirkan menu yang sedang tren saat ini untuk dihidangkan di rumah.

Minyak Goreng SunCo Dalam Setiap Masakan

Perkembangan jaman yang semakin canggih bukan hanya milik dunia gadget saja. Kecanggihan teknologi juga telah dilakukan oleh sebuah perusahaan produsen minyak goreng dengan label SunCo.

sunco001

SunCo : Refil 2 liter dan 1 liter

SunCo sebagai minyak goreng dari kelapa sawit segar yang diolah dengan melalui 5 tahapan proses yaitu  3x pemurnian dan 2x penyaringan sehingga menghasilkan minyak goreng sehat yang kaya akan omega 3 sekaligus bebas kolesterol.

sunco003

Sebenarnya kami sekeluarga sudah mulai mengurangi makanan yang diolah dengan minyak goreng terutama saya. Namun, kegemaran kami dengan makan gorengan membuat saya harus teliti dalam memilih minyak goreng. Beruntung  saya  menemukan SunCo yang mempunyai kepedulian  tinggi untuk bisa menyajikan masakan sehat bagi keluarga. Dengan memilih SunCo saya tidak perlu lagi merasa ragu jika membuat gorengan kesukaan keluarga, terutama untuk anak-anak.

Lima tahapan proses sudah membuat hati saya lega, karena minyak goreng yang dihasilkan bebas lemak trans, mengandung 57 % asam lemak tidak jenuh dan fortifikasi vitamin A 30 % AKG. Bukan itu saja minyak goreng SunCo juga telah menyandang label SNI dan sertifikasi HALAL MUI. Wah, komplit deh rasanya karena minyak goreng SunCo telah memenuhi kriteria kebutuhan keluarga.

sunco004

sunco005

Alhasil mulai saat ini pilihan saya jatuh pada minyak goreng SunCo dan menggunakannya dalam setiap masakan. Bukan hanya untuk menggoreng saja, menumis atau menambahkan pada air rebusan spaghetti kesukaan anak-anak.

sunco002

Menambahkan SunCo Dalam Rebusan Spaghetti

sunco006

Mencoba diminum…

Nah, apalagi yang membuat  kita ragu ? Minyak goreng SunCo telah membantu saya dan keluarga menjalani hidup sehat dan tentunya tetap melestarikan  7 warisan sehat dari ibu.

Terimakasih ibu, terimakasih SunCo…!

sunco

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari http://www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s