Solo, Di Antara Etika dan Eksotika

Bengawan Solo

Riwayatmu kini

Sedari dulu

Jadi perhatian insani…

Siapa sih yang tak kenal dengan lagu “Bengawan Solo” ? Lagu yang diciptakan oleh Eyang Gesang itu sangat fenomenal dan melegenda. Bagi saya, Solo adalah kota tinggal kedua setelah Jakarta,mengapa ? Saya memang lahir dan besar di Jakarta, tapi Bapak saya wong Solo tepatnya Sragen. Selain Bapak, suami saya juga wong Solo, beliau lahir di Karanganyar. Jika saya ke Solo  bukan sekedar berlibur atau apa, tapi saya memang kerasan di Solo. Pokoknya kalau sudah di Solo saya sering lupa pulang kembali ke Jakarta. Hanya saja dalam lima tahun terakhir ini saya sudah tidak berkunjung ke Solo lagi, lantaran kesibukan.

Tapi akhirnya takdir kembali mengijinkan saya untuk mengunjungi tanah leluhur eyang saya tersebut,  tepatnya pada tanggal 12 September 2013 kemarin, saya  ikut  dalam rombongan keluarga untuk mengantar kakak ipar tercinta ke tempat peristirahatan terakhir. Almarhum RM. H. Drs. Susetyo dimakamkan di pemakaman kerabat Mangkunegara yaitu Astana Bibis Luhur Surakarta Hadiningrat – Solo.

300px-astana_bibis_luhur011

Pintu masuk ke Astana Bibis Luhur, selamat istirahat Oom Setyo…               ( Sumber Gambar )

Kedukaan tidak menghalangi saya untuk sedikit bernostalgia dengan kota yang terkenal  batiknya ini. Pada pagi harinya sebelum kembali ke Jakarta, saya menyempatkan diri pergi ke Pasar Gede untuk berbelanja makanan tradisional khas solo. Mau tahu wajah Pasar Gede saat ini ? Ini dia coretannya…

pasargede

Bagian wajah dari Pasar Gede…

pasar-gede-solo

Wajah Pasar Gede ( Sumber Gambar )

pasar-gede-solo-2

Sudut lain Pasar Gede ( Sumber Gambar )

Dari Pasar Gede saya juga menyempatkan diri untuk mengunjungi Kampung Batik Kauman, hanya sekedar ingin membeli beberapa potong baju batik. Nah, seperti apa sih Kampung Batik Kauman itu, niki loh ceritane…

kauman001

kampungbatikkauman

Salah satu sudut Kampung Batik Kauman ( Sumber Gambar )

Setelah membeli beberapa potong baju dan aksesories  semua serba batik, becak yang saya tumpangi saya minta memutar menuju Pasar Klewer. Saat itu jam baru menunjukkan pukul  9.00 pagi Pasar Klewerpun belum terbangun dari tidur lelapnya. Jejeran toko-toko masih tutup, hanya terlihat lapak-lapak pedagang yang kosong. Oleh karenanya becak hanya melintas saja, tapi saat saya melihat Pasar Klewer ingatan saya terbayang puluhan tahun yang lalu. Kebiasaan saya jika berada di Solo selalu menyempatkan untuk berbelanja di pasar ini. Pada waktu itu saya diboncengi sepeda oleh sepupu  dan ketika pulang saya baru  mbecak, hal itu dikarenakan belanjaan saya yang menggunung.

Geliat Pasar Klewer nampaknya masih sama seperti dulu, untuk memastikan keadaan pasar tersebut saya akhirnya mencari info dengan browsing di internet.  Niki loh laporanne…

klewer

Beberapa  kegiatan di Pasar Klewer…

Pasar-Klewer

Gapura Pasar Klewer ( Sumber Gambar )

klewer001

Pasar Klewer dari sisi samping ( Sumber Gambar )

klewer002

Serba batik ada di Pasar Klewer ( Sumber Gambar )

Sebenarnya sebelum ada Kampung Batik Kauman telah ada lebih dulu Kampung Batik Laweyan. Tidak beda jauh dengan Kampung Batik Kauman, Kampung Batik Laweyan juga menawarkan aneka ragam batik dari berbagai jenis kain serta harga yang terjangkau. Hanya saja kesan yang pernah saya dengar saat para kerabat mengunjungi Kampung Batik Laweyan lebih dalam, karena showroom batiknya selain berfungsi sebagai showroom juga berfungsi sebagai tempat tinggal. Berikut adalah gambaran dari Kampung Batik Laweyan yang saya rangkai dari situs lain di internet. Insya Allah jika saya berkunjung ke Solo akan menyempatkan diri ke Kampung Batik Laweyan.

laweyan

Penampakan Kampung Batik Laweyan…

laweyan001

Pintu masuk ke Kampung Batik Laweyan ( Sumber Gambar )

Menceritakan tentang Solo tidak akan pernah habis dan bosan, laksana makan sosis solo yang gurih dan lembut. Sejuta kesan terukir di tiap sudut kota ini, dari tempat belanja yang mayoritas batik, kulinernya sampai tempat bersejarah dan romatis. Setiap tempat memberikan kesan yang berbeda-beda namun tidak mengurangi keeksotikan Kota Solo. Berikut saya ingin berbagi pada pembaca setia blog ini tempat-tempat yang selalu saya singgahi jika ke Solo.

Baiklah, saya akan mulai dari tempat kuliner dulu ya, jujur saja semua postingan tentang kuliner ini saya cuplik dari situs internet, karena saya  ingin bernostalgia. Maklum pada saat saya berkunjung ke tempat ini belum terpikirkan untuk diposting di blog,  jadi kedatangan saya memang benar-benar untuk menikmati kulinernya saja. Monggo mas-mas lan mbak-mbak dipun nikmati postingan kulo niki…

Selain kuliner, saya juga menikmati sekali sewaktu mengunjungi wisata alam yang terkenal di kota Solo, apalagi kalau bukan Tawangmangu.

Solo juga memiliki situs sejarah di Sangiran yang mana telah ditemukannya fosil manusia purba. Penemuan situs ini semakin membuat kota Solo dikenal di dunia Internasional, hal ini dibuktikan dengan diakuinya situs sejarah ini oleh UNESCO, sebuah badan PBB yang membidangi bidang pendidikan dan kebudayaan.

tawangmangu001

sangiran001

sangiran002

Pintu Gerbang Museum Sangiran ( Sumber Gambar )

sangiran_monumen

Monumen Sangiran ( Sumber Gambar )

Menawi kulo dipun dawuhi cerito tumrap  kota Solo, kados puniko kesan-kesan kulo…..

Kesan Etika

Kesan terdalam saya terhadap kota Solo adalah keramah tamahan dari masyarakatnya, sapa, salam dan senyum sangat mudah dijumpai di kota yang pernah dipimpin oleh Mas Joko Widodo ini. Entah mengapa jika saya  berkunjung ke Solo hati itu rasanya kok adem lan tentrem, mboten grasa grusu. Selain itu sifat lemah lembut dan tata karma pergaulan  dapat ditemui di mana pun kita berada. Masing-masing orang selalu menjaga sifat yang telah diwariskan turun temurun, yaitu mawas diri dan menghormati satu sama lain. Budaya saling menghormati, terlebih lagi dari yang muda kepada yang tua begitu saklek dipertahankan. Seperti misalnya saja, dalam berbicara atau bercakap-cakap, suara tidak boleh terdengar keras apalagi berteriak, terlebih lagi bila sedang bicara dengan orang tua atau orang yang lebih tua.

Dalam seni berbicara masyarakat kota Solo membedakannya dengan beragam jenis tutur bahasa, seperti Boso Kromo Inggil, Kromo Biasa dan Ngoko.  Bertutur bahasa juga memiliki makna tersendiri, bicara dengan raja dan orang tua bahasa yang dipakai harus lebih halus daripada bicara dengan yang sebaya.

Bukan hanya bertutur kata saja yang diwariskan, tata karma dalam hal makan pun juga menjadi pedoman. Misalnya makan tidak boleh bersuara atau alat-alat makan tidak boleh menimbulkan bunyi, orang tua bilang ora elok. Begitu banyak tata karma dalam keluarga, dan harus diajarkan pada anak cucu, membuat masyarakat kota Solo semakin terlihat santun.

Kesan eksotika

Kota Solo juga dikenal dengan kota budaya, warisan budaya kota Solo selalu dijunjung tinggi. Perlakuan inilah yang membuat wajah kota Solo penuh dengan eksotika, di mana-mana terpancar keindahan dan kecantikan yang luar biasa. Itulah sebabnya kota ini juga menjadi gudangnya putri cantik yang melegenda dengan predikat “Putri Solo”. Bukan hanya putrinya saja yang memiliki eksotika, ragam budaya dari berbagai kesenian seperti seni tari, seni lukis, wayang kulit, wayang orang dan sebagainya juga merupakan lambang dari ke eksotikan kota Solo.

Kesan terhadap lingkungan

Pertama kali menginjakkan kaki di kota Solo saya begitu tercengang dengan kebersihan lingkungannya. Dulu, Bapak sering mengajak ke Solo dengan menggunakan bus dan saat tiba di Terminal Bus Tirtonadi, mata saya yang masih menahan kantuk, sontak melotot. Mengapa ? Karena saya tidak melihat sampah secuilpun. Hal inilah yang membuat kota Solo pernah meraih penghargaan di bidang kebersihan lingkungan, yaitu Piala Adipura.

tirtonadi

Terminal Bus Tirtonadi ( Sumber Gambar )

Namun bukan pialanya yang membuat saya terkesan, tapi kemauan dan kerja keras dari masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan  patut saya acungi jempol. Masyarakat kota Solo senantiasa menjaga kebersihan lingkungannya bukan untuk meraih piala tapi sudah tertanam bahwa itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab bersama.

Kesan kulinernya

Seperti kebanyakan orang Jawa, kuliner yang mereka sajikan sangat dominan dengan rasa manis dan legit. Namun seiring dengan perkembangan dunia kuliner dewasa ini, kuliner yang disajikan di kota Solo juga mengalami pergeseran cita rasa, meski tidak signifikan. Sebut saja gudeg, surabi ( baca : serabi ), ayam bakar, sate kambing dan lainnya. Pergeseran cita rasa ini dilakukan karena semakin banyaknya orang dari luar kota Solo yang datang berkunjung. Akan tetapi pergeseran ini masih tetap mempertahankan kualitas dari resep asli. Seperti contoh Serabi Notosuman dan Sate Kambing yang sudah diturunkan hampir sepuluh tahun.

Pada awalnya saya memang kurang menyukai kuliner kota Solo, di mana rasanya cenderung manis dan legit. Beruntunglah para pelaku kuliner kota Solo mau menerima masukan agar mendesign ulang soal rasa tersebut. Dan kini, hasilnya adalah  sekarang saya jadi terila-gila dengan kuliner kota Solo. Kalau tidak memperhatikan bobot tubuh, setiap kali berkunjung ke Solo hampir semua kulinernya saya cicipi, dari mulai sarapan pagi sampai waktu dini haripun akan saya lahap.

Kesan yang tersaji juga jadi bermacam-macam, mulai dari gurih, asin, empuk dan sulit dilupakan dalam tiap kecapnya. Penasaran ? Kanggo Kang Mas lan Diajeng Moggo dipun cobi  …

 Demikianlah deretan kesan yang terlintas dalam benak saya, dari dulu sampai sekarang. Semua ini bukan karena Bapak dan Suami yang berasal dari kota Solo, tapi ini adalah kesan saya pribadi. Itulah sebabnya saya bisa mengatakan bahwa Solo adalah kota ke dua bagi saya setelah Jakarta tentunya. Saya hanya menuangkan apa yang saya rasakan saat saya berada di kota ini. Monggo rawuh Solo….

solo

8 thoughts on “Solo, Di Antara Etika dan Eksotika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s