Belajar ke Bhinekaan di TMII

“Anak-anak, lusa kita akan berkunjung ke Taman Mini,”kata Bu Hayati penuh semangat.

“Wah…asyik,”terdengar suara kami hampir serempak.

“Kita akan melihat keaneka ragaman budaya Indonesia. Setelah itu kalian harus membuat tulisan untuk tambahan nilai. Kalian juga membuat kelompok 5 orang,”lanjut Bu Hayati.

Setelah pengumuman dari Bu Hayati, kami pun sibuk mencari kelompok. Suasana kelas jadi gaduh, kami senang bisa berkunjung ke Taman Mini. Kegiatan seperti ini diberi nama “Study Tour”. Karena study tour kali ini ke Taman Mini, jadi tugas yang harus kami buat diberikan oleh Bu Hayati, sebagai guru PMP kami.

Hari yang dinantipun tiba, kami murid kelas 2 SMP berkumpul di halaman sekolah. Kebetulan sekali jarak Taman Mini tidak jauh dari sekolah, hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk sampai di sana. Lokasi sekolah kami berada di Kramatjati, tepatnya di Jl. Batu Tumbuh. Bus yang membawa rombongan akhirnya tiba di Taman Mini dan study tour pun dimulai.

tugu api

Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, saat saya masih duduk di kelas 2 SMP. Karena rumah saya berada tidak jauh dari Taman Mini, maka mengunjungi Taman Mini sudah tak terhitung berapa kali banyaknya. Sebenarnya bukan dari berapa kali saya berkunjung ke Taman Mini, tapi dari acara study tour itu masih terselip sebuah kenangan yang sampai saat ini terpatri. Kenangan yang menjadi misi dan visi didirikannya Taman Mini Indonesia Indah oleh Ibu Tien Soeharto pada tanggal 20 April 1975.

Tidak jauh beda dengan namanya, Taman Mini Indonesia Indah atau yang disingkat menjadi TMII, merupakan objek wisata berisi miniaturnya Indonesia. Di kawasan dengan luas sekitar 150 hektar itu dibangun rumah adat dari 27 propinsi saat itu ( 1982 ), 3 buah museum yaitu museum perangko, museum Indonesia dan museum Asmat, 1 buah Teater Imax “Keong Emas”, Rumah Ibadah, Taman Burung dan Taman Anggrek. Itulah wajah TMII yang masih saya ingat 32 tahun yang lalu. Semua masih tergambar dengan jelas bukan karena bentuk anjungannya atau bangunannya, tapi lebih kepada nilai-nilai luhur yang memancar dari sanubari kami setelah berkunjung ke TMII.

Melalui miniatur Indonesia ini, diharapkan dapat membangkitkan rasa bangga dan cinta kepada Tanah Air Indonesia. Kembali mengenang masa lalu, bagi kami siswa SMP kelas 2 harapan itu memang terwujud dengan sempurna. Pelajaran PMP ( Pendidikan Moral Pancasila ) yang diberikan oleh Bu Hayati sangat membekas dalam sanubari kami. Ditambah lagi dengan menyaksikan miniatur Indonesia, maka sempurnalah pembelajaran tentang Tanah Air Indonesia tersebut. Nilai-nilai itu tertanam begitu dalam dan luhur dari kepolosan jiwa kami. Dan kamipun merefleksikannya dalam keseharian, kami tidak mengenal kata ‘tawuran’ dan ‘rusuh’ padahal sekolah kami bertetangga dengan sekolah-sekolah lain. Bahkan untuk mempererat persaudaraan antar sekolah, tiap sekolah sering mengadakan pertandingan olah raga dan seni. Kami sering diundangnya atau kami mengundang mereka, kegiatan ini bernama “Pertandingan Persahabatan”. Indah bukan ?

Itu adalah sekilas dari kisah pada masa saya sekolah 32 tahun silam dan sekarang ini kenangan yang terselip itu akan saya buka sebagai tema dari tulisan saya ini. Apakah kenangan itu ? Dan bagaimana saya dan teman-teman lainnya masih menyimpannya ?

Kenangan yang masih tersimpan dalam sanubari saya saat berkunjung ke TMII bersama teman-teman adalah sebuah ke BHINNEKAAN. Ketika berkunjung ke TMII kami tidak hanya disajikan dengan keanekaragaman budaya saja. Namun banyak hal yang bisa kami pelajari, renungkan dan diamalkan. Dan inti daripada itu semua adalah terciptanya sebuah kerukunan dan persatuan. Keanekaragaman ini hendaknya harus menjadi tali penguat agar terciptanya Kesatuan dan Persatuan, bukan sebaliknya perpecahan. Baiklah saya akan kupas satu persatu tentang ke BHINNEKAAN itu, sesuatu yang seharusnya dijunjung tinggi dalam segala sisi kehidupan dan akan terus menerus menjadi perspektif berbangsa Indonesia.

BHINNEKA dalam KESENIAN

Di tiap anjungan yang ada di TMII selalu ada acara yang menampilkan beragam kesenian dari tiap daerah. Misalnya saja ada seni musik, tari dan drama yang menampilkan cerita kedaerahan. Pagelaran ini biasanya ditampilkan tiap akhir pekan, karena memang pengunjung banyak yang datang di akhir pekan. Dari pagelaran inilah kita tahu tentang tari-tarian dan dari mana berasalnya, semisal ada tari Jaipong yang berasal dari Jawa Barat, tari Pendet dari Bali dan lain sebagainya. Sampai di sini saya jadi ingat bahwa saya pernah belajar tari Jawa dan mentas di anjungan Jawa Tengah. Sedangkan teman saya yang lain menari Bali karena memang dia berasal dari Bali. Kami berlatih bersama dan pada saatnya pentas, kamipun bergiliran naik ke panggung.

Bangga menyelusup ke dalam dada kami, karena kami bisa menunjukkan seni tari dari daerah kami masing-masing. Pelajaran yang terselip di sini adalah, bahwa sekalipun kami bangga dengan kesenian dari daerah kami masing-masing, namun tidak sebersitpun dalam hati kami untuk saling menyaingi. Bahkan kami saling support satu sama lain dan memberi tepukan apabila telah selesai menari. Tarian yang kami tampilkan memang berbeda tapi kami tidak saling mengejek apalagi menjelek-jelekkan. Perbedaan tarian yang kami tampilkan justru menambah keakraban kami dalam pertemanan. Inilah ke Bhinekaan yang saya maksud, meskipun tarian kami berbeda namun kami tetap bersatu, kompak dan tidak saling menjatuhkan.

BHINNEKA dalam BAHASA

Kami juga mengenal Bahasa daerah saat berkunjung ke TMII, biasanya di tiap anjungan ada seorang penjaga anjungan yang memperkenalkan tentang Bahasa daerah. Biasanya mereka memperkenalkan diri dengan menggunakan Bahasa daerah masing-masing dan menterjemahkannya. Saya yang berasal dari suku Jawa jadi tahu Bahasa Padang, Bahasa Batak, Bahasa Palembang dan sebagainya. Lalu kamipun mencoba menirukan dialeg yang diucapkan oleh penjaga tersebut. Tapi yang terjadi adalah kelucuan, karena sulit bagi kami untuk menirukan dialegnya. Contohnya saja, saat saya harus menirukan Bahasa Padang, jadilah saya berbahasa Padang dengan dialeg Jawa.

Inilah ke BHINNEKAAN itu, meskipun kami berdialeg dengan Bahasa daerah kami masing-masing tidak membuat kami saling berolok-olok. Kelucuan yang kami rasakan hanya spontanitas saja dan bukan mengolok-olok. Kami tetap berteman, bersatu dan kompak karena kami menggunakan Bahasa Indonesia yang mampu menyatukan perbedaan ini. Bahasa Indonesia yang setiap harinya kami gunakan menepis sebuah perbedaan akan dialeg. Entahlah apakah saat ini masih ada penjaga atau petugas yang menerangkan tentang Bahasa daerah di tiap anjungan TMII.

BHINNEKA dalam AGAMA

Setelah berkeliling mengunjungi beberapa anjungan, tibalah kami pada sebuah tempat ibadah. Saya yang beragama muslim memasuki Masjid yang diberi nama Masjid Diponegoro, sedangkan teman saya lain masuk ke Gereja Santa Chatarina yang letaknya bersisian dengan masjid. Di sini kami tertegun, tempat ibadah ini bukan sebuah miniatur apalagi replika. Dua bangunan ibadah ini memang digunakan untuk keperluan ibadah sesuai dengan agama masing-masing. Yang membuat kami tertegun adalah, ke dua tempat ibadah ini berdampingan satu sama lain. Mungkin idenya diambil dari Masjid Istiqlal dan Gereja Katholik yang letaknya bersisian. Ke BHINNEKA an dari agama ini terpancar begitu mendalam, kami melakukan ibadah tanpa ada rasa permusuhan sama sekali. Ibadah yang kami lakukan semata-mata karena kami harus menyembah pada Sang Pencipta yang sama yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Perbedaan dalam agama membuat kami semakin kokoh dalam menjalankan ketaatan beribadah, bukan sebaliknya. Tidak terlintas dalam hati kami sedikitpun untuk menebar permusuhan dan kebencian. Jejak yang kami tinggalkan dalam perbedaan beragama ini adalah sebuah kekhusyuan dalam menjalankan agamanya masing-masing.

Rasanya itulah kenangan yang masih saya ingat dan tetap berada dalam sanubari saat saya berkunjung ke TMII bersama teman-teman sekolah di SMP. Setelah itu kamipun melanjutkan kunjungan ini ke berbagai tempat lagi, seperti Museum Perangko, Museum Asmat, Taman Anggrek, Taman Burung dan tak lupa menonton di Teater Imax Keong Emas.

Wajah TMII sekarang

20 April 2014. Apa yang sudah saya ceritakan di atas adalah kunjungan saya ke TMII 32 tahun yang lalu. Dari sekian kali kunjungan ke TMII rasanya kunjungan dalam rangka study tour lah yang memberikan kesan paling dalam. Dari situ saya dan teman-teman banyak belajar tentang perbedaan yang ada di Indonesia dan bagaimana cara menghadapinya.

Sejatinya saya akan berkunjung ke TMII pada saat hari jadinya yang ke 39 kemarin. Sebenarnya saya sudah tahu sejak lama kalau setiap hari jadi TMII selalu menggratiskan bagi masyarakat yang ingin berkunjung. Namun, keinginan saya berkunjung kemarin bukan karena gratisnya tapi lebih dari itu. Siapapun tahu bahwa TMII itu bukan tempat wisata biasa, tapi di sana pengunjung bisa belajar banyak hal terutama tentang ke BHINNEKA an. Saya ingin mengulang kembali merasakan euphoria masyarakat dalam menyikapi perbedaan budaya Indonesia. Tapi sayang keinginan saya itu tidak terlaksana karena lalu lintas yang macet luar biasa. Nah, dari sini saya mulai berpikir bahwa ternyata euphoria masyarakat menanggapi perbedaan sudah mulai luntur. Kebanyakan masyarakat memang lebih memanfaatkan soal “gratis”nya dan bukan soal budayanya. Amat disayangkan bahwa ternyata memasuki usia 69 kemerdekaan Indonesia telah terjadi degradasi ke BHINEKA an.

Sesuai dengan usianya yang ke 39, TMII terlihat nampak semakin modern dan meluaskan khasanah budayanya. Kebutuhan akan informasi dan teknologi juga menjadi bagian yang mendapat sorotan TMII. Untuk mengakomodir kebutuhan itu, maka TMII menambah beberapa bangunan yang masih termasuk ke dalam pembelajaran. Dengan kata lain, TMII sekarang sudah menapaki sejarah baru dalam menampilkan budaya. Memadukan teknologi dengan budaya adalah sebuah terobosan yang sah saja dilakukan, selama tidak meninggalkan budaya dasar. Seperti apa wajah TMII sekarang ? Saya berhasil menelusurinya lewat beberapa situs yang memperkenalkan TMII secara lebih luas lagi.

kepulauan

Anjungan Daerah

Karena telah terjadi pemekaran wilayah di Indonesia, maka bertambahlah jumlah propinsinya. Jumlah propinsi yang semula hanya 27 propinsi sekarang menjadi 33 propinsi. Bertambahnya jumlah propinsi tersebut membuat bertambah pula anjungan daerah yang ada di TMII. Propinsi yang bertambah tersebut dibangun di sudut Timur Laut TMII dengan ukuran dan luasnya jauh lebih kecil dari anjungan sebelumnya. Anjungan propinsi baru tersebut adalah Bangka Belitung, Banten, Sulawesi Barat, Maluku Utara, Gorontalo, Kepulauan Riau dan Papua Barat. Selain terjadi pemekaran propinsi, Indonesia mengalami juga pengurangan propinsi yang terjadi pada tahun 2002, yaitu Timor Leste. Akibat dari pelepasan propinsi itu, maka anjungan Timor Leste saat ini dijadikan museum Timor Leste. Saya belum dapat menginformasikan secara detail, apakah hanya penamaan tempat saja yang berubah atau keseluruhan isi anjungannya juga berubah.

rumah gadang

Rumah Gadang di Anjungan Sumatera Barat

tmii001

Bangunan Keagamaan

Dalam kawasan TMII juga terdapat bangunan keagamaan yang kesemuanya dpat digunakan sebagai tempat ibadah. Bangunan keagamaan ini melambangkan keragaman agama yang diakui secara resmi oleh Pemerintah Indonesia. Diharapkan dengan adanya bangunan keagamaan ini, dapat terciptanya toleransi dan kerukunan dalam menjalankan ibadahnya masing-masing. Bangunan keagamaan tersebut yaitu :
• Masjid Pangeran Diponegoro
• Gereja Katolik Santa Catharina
• Gereja Protestan Haleluya
• Pura Penataran Agung Kertabhumi
• Wihara Arya Dwipa Arama
• Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa
• Kuil Konghucu Kong M

Sarana Rekreasi Keluarga

Meskipun TMII didirikan untuk mempertajam khasanah budaya Tanah Air, namun tidak melupakan kepariwisataannya. Selain para wisatawan dapat mengetahui keaneka ragaman budaya Indonesia dan berinteraksi langsung dengan acara-acara adat yang kerap digelar di beberapa anjungan daerah, TMII juga menyediakan sarana untuk rekreasi keluarga. Beberapa rekreasi keluarga yang dapat saya informasikan di sini adalah :
• Istana Anak-anak Indonesia
• Kereta gantung
• Perahu Angsa Arsipel Indonesia
• Taman Among Putro
• Taman Ria Atmaja
• Desa Wisata
• Kolam renang Snow Bay

Istana anak2

Istana anak-anak

Kekayan Flora dan Fauna

Dalam area TMII terdapat pula taman-taman yang berisikan kekayaan flora dan fauna di Indonesia. Keberadaan taman flora dan fauna ini sejatinya mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna yang tak bisa tergantikan. Bukan hanya sekedar dinikmati keindahannya saja akan tetapi harus dipikirkan bagaimana cara melestarikannya atau menjaga agar flora dan fauna Indonesia tidak diakui oleh Negara lain. Bukan apa-apa, sepertinya generasi muda saat ini sudah mulai melupakan tentang kekayaan flora dan fauna Indonesia, mereka baru tercengan apabila salah satu kekayaan tersebut sudah diakui oleh Negara lain. Menanamkan kecintaan dan merasa memiliki flora dan fauna harus semakin digalakkan, jangan biarkan Indonesia menjadi bumi tanpa isi. Beberapa taman-taman yang berisi flora dan fauna tersebut adalah :
• Taman Anggrek
• Taman Apotek Hidup
• Taman Kaktus
• Taman Melati
• Taman Bunga Keong Emas
• Akuarium Ikan Air Tawar
• Taman Bekisar
• Taman Burung
• Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
• Taman Budaya Tionghoa Indonesia

taman burung

Kubah Taman Burung

Bangunan Museum

TMII memiliki bangunan yang dipergunakan untuk memamerkan sejarah, budaya, flora dan fauna serta berbagai macam benda-benda sejarah. Bangunan yang bernama museum ini cukup banyak di TMII, ada sekitar 18 museum terdapat di sini. Karena banyak benda-benda yang bersejarah serta teknologi yang harus dijaga kelestariannya, maka TMII membuat museum sesuai dengan kebutuhannya. Sebagai contoh museum perangko, di museum ini dipamerkan aneka macam perangko, yang umurnya sudah puluhan tahun, begitu pula dengan museum-museum lainnya.
• Museum Indonesia
• Museum Purna Bhakti Pertiwi
• Museum Keprajuritan Indonesia
• Museum Perangko Indonesia
• Museum Pusaka
• Museum Transportasi
• Museum Listrik dan Energi Baru
• Museum Telekomunikasi
• Museum Penerangan
• Museum Olahraga
• Museum Asmat
• Museum Komodo dan Taman Reptil
• Museum Serangga dan Taman Kupu-Kupu
• Museum Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
• Museum Minyak dan Gas Bumi
• Museum Timor Timur ( bekas Anjungan Timor Timur )

museum indonesia

Museum Indonesia

museum purna bakti pertiwi

Museum Purna Bakti Pertiwi

Teater dan Bioskop

Bukan hanya museum dan tempat rekreasi keluarga, di TMII juga terdapat teater dan bisokop. Teater yan paling terkenal di TMII adalah Teater IMAX Keong Emas. Teater IMAX Keong Emas ini terkenal karenak keunikan bentuknya yang seperti keong. Teater Imax Keong Emas ini juga berbeda dari teater lainnya, karena memiliki layar bioskop melebihi ukuran normal. Film-film yang diputar di teater IMAX Keong Emas ini semua bersifat edukasi, dengan tema lingkungan dan kebudayaan. Beberapa kali pernah diputar film Box Office di mana resolusinya sudah diubah menjadi khusus untuk teater IMAX. Selain Teater IMAX Keong Emas masih ada juga Teater Tanah Airku dan Teater 4D. Nah, bagi Anda yang akan berkunjung ke TMII jangan sampai tidak menyaksikan film di teater IMAX Keong Emas ini. Di mana lagi dapat menemukan bioskop unik dan super besar ini selain di TMII.

keong emas

Logo dan Maskot

Seperti kebanyakan tempat pariwisata, baik itu wisata sejarah, budaya atau sekedar tempat rekreasi pastinya memiliki logo, begitu pula dengan TMII. Adapun logo TMII hanya terdiri dari huruf TMII yang merupakan singkatan dari Taman Mini Indonesia Indah. Selain logo TMII juga memiliki mascot berupa tokoh wayang Hanoman yang dinamakan NITRA ( Anjani Putra ). Maskot TMII ini resmi digunakan pada tahun 1991 dan diresmikan oleh Almarhumah Ibu Tien Soeharto.

logo

maskot

Sebenarnya saya memupuk harapan yang cukup tinggi atas keberadaan TMII ini, melihat begitu cepatnya pergeseran budaya lokal. Serapan budaya asing begitu cepat melekat dalam diri generasi muda saat ini, padahal mereka hanya beberapa hari saja berkunjung ke luar negri. Sedangkan serapan untuk budaya lokal teramat lambat, hal terbukti dengan melunturnya budaya lokal bahkan tersingkirkan. Fenomena ini harus dicegah dari sekarang, dan sangat diharapkan harus mendapat dukungan dari semua pihak. Kita pasti tidak berharap lambat laun banyak budaya bangsa yang dirampas oleh Negara lain. Mereka tidak salah melakukan hal itu karena kita tidak pandai menjaga apa yang sudah diwariskan kepada kita.

Harapan saya buat TMII, terus berusaha dan mengupayakan segala macam acara yang bersifat adat. Usahakan menambah pementasan-pementasan baik drama tradisional maupun musiknya. Berjuanglah terus agar warisan budaya Tanah Air tidak hilang atau diakui oleh Negara lain. Kalau dulu saya dan teman-teman bisa merasakan damai dalam ke BHINEKA an, sekarangpun pasti bisa. Rasa inilah yang melahirkan Persatuan dan Kesatuan, tidak mau bercerai berai dan memupuk kerukunan. Secara global, semua perbedaan itu tertuang dalam semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKA, yang artinya berbeda-beda namun tetap satu.

Selamat Ulang Tahun TMII, Jayalah selalu sebagai wadah budaya yang tak akan punah…!

Referensi Artikel :

http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Mini_Indonesia_Indah

2 thoughts on “Belajar ke Bhinekaan di TMII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s