Cahaya Sejahtera itu Bernama PLN

Pet…! Tepat pukul 19.30 listrik padam.


Seperti biasa bila listrik padam anak-anak serempak menjerit dan memanggil-manggil saya. Keadaan jadi panik seketika, namun tidak berlangsung lama, karena saya berusaha menentramkan mereka. Saya pun melangkah mendekati anak-anak sembari mencari lampu senter, lilin atau emergency lamp. Setelah benda-benda tersebut berhasil ditemukan, drama gelap gulita pun sirna. Masalah gelap sudah teratasi, anak-anak pun aman.

Tapi situasi ini hanya berlangsung sebentar saja, karena anak-anak mulai rewel. Ada yang kepanasan lah, belum mengerjakan PR lah bahkan ada yang mau makan segala. Kegaduhan pun terulang lagi… dan sayapun mulai tidak sabar. Ketidak sabaran ini membuahkan rasa jengkel pada pelayanan PLN. Sejatinya sebagai pelanggan saya berhak mendapat pelayanan terbaik, apalagi saya tidak pernah terlambat dalam hal pembayaran.

Akan tetapi entah kenapa, tiba-tiba saja saya jadi teringat dengan beberapa artikel yang saya baca tadi siang di media online. Artikel tentang belum meratanya kesejahteraan rakyat dari bangsa ini. Ternyata masih banyak masyarakat yang belum merasakan cahaya listrik dan kemudahan lainnya. Bukan hanya masalah listrik saja, beberapa masyarakat bangsa ini juga belum mengecap pendidikan dengan layak. Ibu-ibu hamil masih kesulitan untuk memeriksakan kandungannya bahkan sampai masa melahirkan. Anak-anak balita juga memiliki problem berat, banyak di antara mereka yang meninggal lantaran gizi buruk.

Betapa naifnya saya, hanya gara-gara listrik padam dalam hitungan jam saja sudah merasa jengkel dan tidak sabar. Bagaimana dengan masyarakat lain. Nun jauh di sana sepantasnya mereka juga berhak mendapatkan cahaya dari PLN. Mungkin bukan cahanya lampu tapi cahaya-cahaya yang lain. Jika PLN belum memiliki modal yang cukup untuk mengalirkan cahaya listriknya, maka PLN bisa mengalirkannya dalam bentuk lain. Apakah keberadaan cahaya listrik itu bisa dijadikan sebagai tolok ukur sejahtera ? Menurut saya tidak, sementara masih banyak masyarakat bangsa ini berada dalam kondisi yang sudah saya gambarkan di atas.

Sejahtera itu apabila seluruh komponen masyarakat baik individu maupun kelompok telah berbuat atau melakukan sesuatu yang menyebabkan masyarakat lain merasa dihargai, dipercaya dan dihormati. Menurut saya hal ini mudah saja dilakukan oleh sebuah perusahaan milik Negara yang bernama PLN. Menerangi itu bukan sekedar memberikan cahaya pada satu atau beberapa buah lampu saja. Tapi saya yakin PLN dapat melakukannya lebih dari itu.

Apabila apa yang ingin saya sampaikan di blog ini bukan merupakan ide, PLN saya berikan keabsahan untuk memaknainya apa. Tantangankah, ujiankah, sumbangsihkah terserah saja. Karena memang bukan itu muara dari postingan blog saya ini. Berikut adalah ide-ide yang akan saya sodorkan pada PLN

1. Mobil Ambulans Khusus Ibu Hamil

Dengan mengantongi laba sekitar kurang lebihnya Rp. 12,3 trilyun selama Semester I di tahun 2014, rasanya beberapa mobil ambulans khusus ibu hamil bukanlah hal yang sulit diadakan oleh PLN. Ide ini terlintas manakala saya melihat seorang ibu hamil kesulitan untuk bepergian. Padahal kepergian ibu hamil tersebut bukan untuk shopping apalagi hangout tapi untuk periksa kandungan. Beban yang ditanggung oleh ibu hamil lebih berat dari memanggul sekarung beras. Tanpa ada maksud untuk dikasihani, saya sangat merasakan hal itu. Apalagi beberapa waktu lalu ada kasus ibu hamil dibully hanya gara-gara dia meminta jatah kursinya di sebuah kereta api. Sungguh masghul mendengarnya.

Sebagai seorang ibu, rasanya ko ya prihatin melihat kesulitan yang dialami oleh ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya atau bahkan sampai persalinan. Nggak mungkin kan ibu hamil harus naik ojek motor untuk pergi ke Puskesmas atau bidan di wilayahnya. Mobil ambulans khusus ibu hamil ini utamanya diberikan pada wilayah di mana masyarakatnya jauh dari Puskesmas atau Rumah Sakit.

Jika PLN benar-benar merealisasikan hal ini, maka mobil ambulans ini dapat juga dijadikan sebagai mobil penerangan PLN. PLN dapat dengan mudah mengedukasi masyarakat tentang kelistrikan. Misalnya saja jangan mencuri listrik, atau memperkenalkan produk baru PLN. Ingatlah, bahwa janin yang dikandung oleh seorang ibu merupakan cahaya bagi keluarganya.

ambulan_pln


2. Membangun Gedung Sekolah atau Merenovasi Gedung Sekolah

Hampir semua masyarakat Indonesia tahu, bahwa sekolah adalah cikal bakal pendidikan. Dengan pendidikan masa depan bangsa dapat tercerahkan karena ada ilmu yang siap digunakan untuk membangun kemajuan. Namun, acapkali kita sering miris melihat perkembangan dunia pendidikan saat ini. Mulai dari kurikulum, perilaku guru, pengadaan buku-buku dan gedung sekolah. Sudah selayaknya bahwa proses belajar mengajar itu terjadi apabila semua elemen pendukungnya tersedia.

Salah satu elemen pendukung yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan adalah keberadaan gedung sekolah. Jika kita berkeliling di pelosok nusantara ini, maka masih banyak daerah-daerah yang tidak memiliki gedung sekolah. Mereka belajar di mushola, bawah pohon, pematang sawah atau pekarangan rumah orang. Mereka pun akan kehujanan, kepanasan atau bahkan diusir bila pemilik tempat tersebut tidak bersedia digunakan. Dalam film berjudul “Sokola Rimba” tercermin, bahwa di tengah hutan belantara sekalipun diperlukan gedung sekolah. Saya sangat mendorong agar PLN mau membangun gedung sekolah atau merenovasi gedung sekolah yang rusak demi sebuah penerangan. Penerangan yang dimaksud di sini tentu saja anak-anak sekolah tersebut. Ilmu yang sedang mereka raih merupakan cahaya bagi dirinya dan bangsa tentunya. Karena bagi saya pribadi Ilmu itu adalah penerangan yang tak pernah padam sekalipun manusia telah wafat.

sekolah rusak


3. Membangun Jembatan Penghubung

Wilayah nusantara yang sepertiganya terdiri dari perairan ini membutuhkan penghubung antar pulau atau daratan. Banyaknya sungai-sungai mengharuskan pemerintah membangun jembatan untuk menghubungkan satu pulau dengan pulau lain atau satu daerah dengan daerah lainnya. Jembatan yang dibangun oleh Pemerintah secara nyata belum memenuhi kebutuhan masyarakat. Melihat persoalan ini, saya rasa tidak ada salahnya PLN sebagai salah satu perusahaan yang telah mengangkat tenaga outsourching terbanyak mulai memikirkan hal ini. Persoalan lain adalah satu jembatan selesai dibangun, jembatan lainnya rusak. Begitu seterusnya, sehingga berapapun anggaran yang dikeluarkan tidak akan memenuhi kebutuhan untuk membangun jembatan.

Pembangunan jembatan antar wilayah memegang peranan sangat penting. Beragam aktifitas masyarakat seperti ekonomi dan pendidikan bergantung pada jembatan agar dapat berjalan dengan normal. Sebagaimana diketahui bahwa bidang ekonomi dan pendidikan menjadi tonggak dalam pembangunan di Indonesia. Ke dua pilar itu dapat pula dikatakan sebagai tiang cahaya yang dapat menerangi seluruh masyarakat Indonesia.

Dari beberapa informasi di situs berita online, keberadaan jembatan ini memang jauh dari kata sempurna. Ketidak sempurnaan ini, akan berdampak negative pada kegiatan ekonomi dan pendidikan. Dalam kegiatan ekonomi mungkin masih ada jalan lain apabila terjadi kerusakan pada jembatan. Akan tetapi bagaimana dengan pendidikan ? Alhasil seperti yang banyak diberitakan, anak-anak yang ingin berangkat sekolah harus berhadapan dengan maut untuk menyeberangi sungai. Hal ini dikarenakan Pemerintah Daerah atau Pusat tidak memiliki anggaran berlipat untuk memperbaikinya.

Melihat fenomena tersebut, saya memberikan ide pada PLN sudilah kiranya PLN membangunkan jembatan yang diperuntukkan bagi putra putri bangsa. Sejujurnya saya sangat bangga pada semangat mereka yang pantang menyerah dalam menuntut ilmu meski nyawa taruhannya. Cobalah buka mata lebar-lebar, bagaimana jika anak-anak itu adalah buah hati kita ? Tentunya kita tidak menghendakinya bukan ?

jembatan rusak


PLN itu Perusahaan Listrik Negara bukan Pet Lalu Nyala

Demikianlah beberapa ide dari saya untuk kesejahteraan bersama. Saya memandang dari sisi yang berbeda tentang sebuah cahaya. Cahaya itu bukan hanya sinar lampu yang diberi aliran listrik, tapi bisa melebihi dari itu. Cahaya yang sesungguhnya bagi bangsa dan Negara ini adalah kemajuan dan pembaruan. Sebenarnya masih banyak cahaya-cahaya yang ingin saya sampaikan, namun tiga di atas sangat penting untuk segera direalisasikan.

Beruntunglah saya dapat mengikuti lomba blog ini, karena dengan menulis di blog saya dapat menggugah sesuatu yang mana tidak bisa digugah oleh orang lain. Sudah saatnya PLN itu mengedepankan misi sebenarnya, sesuai dengan namanya. Kalau memang PLN itu Perusahaan Listrik Negara, maka berbuatlah demi Negara. Mudah-mudahan dengan bukti nyata PLN, jargon popular di tengah masyarakat akan lenyap. Lambat laun masyarakat tidak lagi mengenal PLN dengan “Pet Lalu Nyala”, namun sebaliknya Perusahaan Listrik Negara yang memberikan cahaya sejahteranya.

2 thoughts on “Cahaya Sejahtera itu Bernama PLN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s