Menyisir Keindahan dan Kekayaan Laut di Kepulauan Togean Sulawesi Tengah

Membaca keindahan dan kekayaan laut di Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah pada sebuah majalah terkemuka menggugah hasrat saya untuk berkunjung ke sana. Bukan itu saja, banyak hal yang menurut saya masih penuh dengan misteri dan pertentangan. Seperti misalnya suku Bajo yang tidak mengetahui asal-usul nenek moyang mereka dengan pasti. Menyelam dan snorkelling di sekitar pulau Togean, mengunjungi Goa Kelelawar, Trekking di hutan, menyaksikan atol dari atas perahu, melihat kehijauan karang dan laut yang tenang adalah sebagian dari kegiatan wisata di pulau ini.

Sejak itulah saya selalu memimpikan destinasti wisata ke pulau Togean. Jika saya benar-benar merasa sedang ingin ke sana, maka saya membuka situs tentang Kepulauan Togean ini. Pikiran liar saya, langsung saya terbangkan ke sana. Bercanda dengan beragam ubur-ubur dan bersembunyi di antara karang akan menjadi moment terindah. Atau sekedar berendam di bathtub raksasa, apalagi kalau bukan lautnya yang jernih dan tenang. Saya memang benar-benar ingin membuktikan keindahan dan kekayaan laut di Kepulauan Togean dengan segala misterinya.

Mengapa Togean ?

Kelembutan pasir putihnya menyapa ramah tak berkesudahan, sama ketika mata harus menatap siluet senja. Bukan hanya itu, ombakpun tak mampu berteriak dengan riuh. Gugusan pepohonan menghijau tak sanggup membuat mata meredup. Bahkan anginpun tak sanggup bernada sumbang. Hanya bisa berbisik renyah di telinga. Semua menelusup di keheningan sejati milik Sang Pencipta. Pesona laut ini terpapar begitu indah di Pantai Kadidiri, Kepulauan Togean, Sulawesi Tengah.

togean003

Wisatawan manapun pasti akan sadar bahwa Togean adalah destinasi wisata tersembunyi yang harus dikunjungi. Meskipun perjalanan menuju ke sana agak rumit, namun semua keindahan lautnya akan membayarnya. Tak ada kata sia-sia apalagi menyesal setelah menginjakkan kaki di Togean. Semua indah, dibalut oleh ribuan misteri…

togean004

Kepulauan Togean memiliki isi laut dan hutan paling beragam di dunia. Hal ini disebabkan oleh letak kepualuannya yang berada di zona garis Walace dan Weber—batas wilayah hewan Asia dan Australia. Lautnya adalah wilayah segitiga terumbu karang yang memanjang dari Australia, Laut Jawa, hingga perairan Filipina di Pasifik.

Menyelam di bawah laut Kepulauan Togean, kita akan terus disajikan oleh spot keindahan laut yang masih perawan, bahkan mampu menandingi Bunaken dan Wakatobi. Sebut saja di Pulau Una-una. Karang beraneka bentuk dan warna akan menjadi pemandangan terindah. Karang-karang tersebut tidak akan dijumpai di laut manapun di dunia ini, karena pertemuan gunung bawah laut membuat Togean menyimpan empat jenis karang, seperti karang benteng, karang tepi, karang tompok dan atol. Satu lagi yang membuat penyelam merasa takjub di bawahnya, terdapat gugusan karang mirip dengan penyu raksasa sedang berenang di dasar laut, ini terdapat di Batu Lemboto. Berburu keindahan laut ini kita tidak akan pernah merasa bosan.

Jika sudah lelah dengan menyelam, di Pulau Malenge ada atol warna-warni yang dapat dilihat dari atas perahu motor. Atol warna-warni ini berada di kedalaman sepuluh meter, jadi masih bisa terlihat dari permukaan laut. Tidak cukup sampai di situ, apabila air laut sedang surut wisatawan akan disajikan oleh pucuk-pucuk karang yang menyembul. Apabila kita hanya ingin sekedar berenang, di Batudaka adalah spot terindah dengan airnya yang tenang. Di sini kita akan mendapati air laut yang tidak biasanya, jernih dan tembus sampai ke dasar laut. Jadi sambil berenang kita dapat pula menatap bawah laut nan memukau. Sungguh, mirip seperti untaian mutiara yang sulit membuat mata berkedip.

togean002

Ke arah Selatan Kadidiri, kira-kira empat kilometer, terdapat dinding karang bawah laut. Dinding karang vertical setebal satu meter ini memisahkan perairan dangkal dan dalam sehingga biru-hijau air lautnya terlihat sangat kentara dari atas permukaan. Tempat ini memiliki ombak yang cukup besar dengan arus bawah laut yang deras. Oleh karenanya hanya penyelam profesional yang diperbolehkan menyelam di sini. Akan tetapi jangan kuatir, masih banyak spot laut yang dapat dijajaki oleh penyelam amatir. Misalnya saja di bawah laut dekat Pulau Enam, di situ terdapat situs penyelaman berupa bangkai pesawat B24 milik Amerika Serikat yang jatuh pada tahun 1945. Pesawat tersebut masih dalam keadaan baik. Para penyelam bisa melihat baling-baling sayap pesawat dan salah satu kabin lengkap dengan senjata mesin. Sebuah spot sejarah yang baru, karena berada di dasar laut. Semua itu hanya dapat ditemukan di Togean.

Selain dinding karang yang lebih dikenal dengan dinding Taipi ini, di sini juga terdapat biota laut terlengkap dan sempurna. Aneka macam warna dari ubur-ubur akan ramah menyapa. Beberapa di antaranya adalah ubur-ubur coklat, putih, merah dan biru. Mereka akan menemani kita berenang tanpa takut tersengat, karena ubur-ubur di Malenge ini tidak beracun. Maka terciptalah sebuah drama kehidupan yang belum pernah terjadi, yaitu persahabatan antara manusia dan ubur-ubur Malenge. Mereka akan menyayangi kita, karena kita menyayangi mereka.

Berkunjung ke Kepulauan Togean bukan hanya menyelam dan berenang saja. Kita dapat menjelajah alam hutan di Malenge atau memancing dengan cara tradisional. Beramah tamah dengan suku Bajo yang memiliki sedikit misteri dari kehidupannya. Suku Bajo yang tinggal di pulau-pulau kecil tidak mengetahui dengan pasti asal usul mereka. Akhirnya hidup mereka pun bercampur dengan suku lain seperti : Bugis, Makassar dan Wakai. Kebanyakan mereka tinggal di Kabalutan. Kehidupan laut yang menentramkan, membuat suku Bajo betah tinggal di pulau Togean. Rumah-rumah mereka dibangun dengan tiang tinggi di atas air laut. Laut adalah halaman buat anak-anak mereka bermain. Melompat atau terjun ke dalam laut merupakan kegiatan mereka sehari-hari. Keakrabanpun terjalin, tanpa ada satu yang tersakiti. Satu sama lain saling mengerti bahwa mereka akan terus merasa bergantung. Jauh dari udara materialistis apalagi sinyal gadget yang bising dan memekakkan. Hubungan mereka adalah hubungan naluri.

togean001

Selain rumah kayu yang berdiri di atas permukaan laut, mereka juga membangun rumah di atas pasir. Dan pasir adalah alasnya. Kelembutan pasirnya bak permadani berbulu, tidak melukai. Uniknya, rumah suku Bajo ini dibangun tanpa menggunakan paku sedikitpun, kebanyakan rumah asli ini berada di Kayome.

Tradisi lain yang dimiliki oleh suku Bajo adalah cara menangkap ikan. Terlebih dahulu mereka menebarkan jala, lalu menepuk air laut secara beramai-ramai agar ikan masuk ke dalam jala tersebut. Atraksi ini menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan. Ada satu lagi yang tak boleh terlewatkan, memancing gurita yang hanya bertelekan sampan, dengan separuh badan dan kepala berada di dalam air. Mereka akan memanah gurita dan ikan-ikan besar tersebut. Inilah kisah hidup paling eksotis yang dapat kita jumpai di Togean.

Trekking atau berkeliling pulau, merupakan cerita lain dari perjalanan wisata di Togean. Aneka macam tumbuhan dapat dijumpai di sini. Kita juga dapat mengunjungi Gunung Colo di Una-una. Bahkan kita dapat pula melintasi jembatan kayu yang meliuk sepanjang satu kilometer. Jembatan ini sebagai penghubung dari Pulau Papan ke Pulau Malenge. Akhirnya sampailah kita di penghujung perjalanan, dengan berkunjung ke Goa Kelelawar di Batudaka, tepatnya di desa Bomba. Berharap bahwa semua ini tidak hanya mimpi, namun sekalipun mimpi tentunya ini sebuah mimpi yang paling indah. Togean…. Saya akan datang !

Semua foto dipinjam dari sini..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s