Berani Lebih Melihat Kebaikan

 “Beli sayur apa bu ?”tanya suami, sesaat sepulang aku belanja.

“Sayur asem,”jawabku singkat.

“Ko jawabnya kesel gitu ?”tanya suami lagi.

“Gimana nggak kesel, saya kan dah milih ikan asin, eeee..malah diambil sama Nek Omah,”kataku menahan marah.

“Kemaren ada yang buang kulit duren di tempat sampah kita, sekarang rebutan ikan asin,”cerocosku lagi.

“Punya tetangga ko pada bikin kesel ya.”

“Sudahlah bu, Nek Omah itu kan hidup sendiri. Seharusnya Ibu beliin dia ikan asin itu, bukannya malah rebutan.” Lanjut suami menenangkan.

Hening. Aku menarik napas sejenak. Ucapan suami memang manjur, mampu membuat hati tenang.

Setelah itu aku hanya berani menjawab dalam hati,”Ah…seandainya aku bisa berbuat seperti yang dikatakan suami betapa senangnya.” Tapi…aku harus bisa, aku harus berani. Dulu, setiap kali rumahku kebanjiran Nek Omah selalu datang membantu. Atau jika aku ada acara keluarga Nek Omah juga datang, entah untuk cuci piring atau beres-beres rumah. Semua dilakukan tanpa pamrih. Nek Omah juga tidak pernah mengeluh apalagi mencibir. Kadang-kadang tertawa melihat tingkah lucu anak-anak.

Sekarang, pagi-pagi aku sudah berebut ikan asin sama Nek Omah. Manusia macam apa aku ini. Di mana mata hatiku, mengapa kebaikan Nek Omah tertutup oleh ikan asin. Beruntung aku memiliki suami yang selalu mengingatkan. Seperti pagi ini, aku diingatkan untuk berani lebih melihat kebaikan ketimbang kekurangan atau keburukan orang lain. Dengan begitu maka akan timbul rasa empati dan simpati pada diriku. Lupakan keburukan orang lain pada diri sendiri, tapi jangan lupakan kebaikan orang lain sekecil apapun.

Aku sadar bahwa hidup ini adalah proses pembelajaran yang tiada henti. Saat kesadaran untuk berani lebih melihat kebaikan itu datang, aku merasakan betapa berartinya diriku. Ya, aku harus bisa melihat kebaikan orang lain, daripada keburukannya. Hal seperti ini tidak boleh diabaikan, karena hanya dengan melihat kebaikan orang lain aku bisa merasa bahwa betapa sangat berartinya diriku.

Bukan hanya itu saja, aku juga jadi bisa menghargai dan menginstropeksi diri bahwa aku tidak lebih baik dari orang lain. Semua itu bisa juga menjadi tolok ukur, apakah aku sudah berbuat seperti yang mereka lakukan ? Bukankah pelajaran intinya, bahwa kita harus berlomba-lomba dalam kebaikan ? Mengapa aku justru meributkan kekurangan orang lain, dan bukan fokus pada kebaikan diri ?

Sungguh, semua ini adalah perilaku yang tak boleh terlewat meski sekejap mata. Dengan begitu aku akan lebih banyak menerima kebahagiaan, karena selalu memperhatikan kebaikan orang. Tak ada manusia yang sempurna, memang bukan itu tuntutannya. Berani lebih melihat kebaikan orang lain akan melengkapi perjalanan hidup mendekati sempurna. Minimal satu kebaikan sudah aku lakukan. Terimakasih suamiku atas kelemah lembutanmu telah mengingatkanku…

Facebook : Ety Budiharjo

Twitter : @etybudiharjo

Instagram : @etybudiharjo

Google+ : Ety Budiharjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s