Berani Lebih Menerima Kenyataan

Lima tahun yang lalu, suami berkeinginan untuk melakukan operasi Tulang Belakang, namun saya tidak mengijinkannya. Alasannya mental saya belum siap jika terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya. Pendek kata saya belum siap untuk kehilangan, maklum saat itu kami juga baru saja menikah. Akan tetapi makin lama, rasa sakit pada bagian punggung sampai kaki semakin parah. Bahkan dua tahun belakangan ini suami harus menggunakan kursi roda dan tongkat penyangga.

Sebenarnya sakit yang diderita oleh suami memang tidak bisa disembuhkan oleh obat-obatan biasa. Satu-satunya pengobatan memang dengan jalan harus dioperasi, begitulah saran dari dokter bedah tulang.

Melihat suami setiap malam mengerang menahan sakit, rasanya tidak tega juga. Akhirnya setiap sholat malam saya komunikasikan masalah ini pada Allah, memohon untuk diberi kesembuhan dan tentunya kekuatan batin. Saya juga minta untuk dikokohkan dalam menerima segala takdir hidup. Saya terawang kembali ke dalam diri saya, dengan beragam pertanyaan. Mengapa di usia kepala empat ini saya semakin merasa takut dan rapuh, padahal seharusnya tidak begitu. Semestinya perjalanan hidup dengan segala tempaannya harus sudah bisa membuat saya lebih berani menerima kenyataan.

Setelah beberapa waktu merenung dan menata segalanya, sayapun mengijinkan suami untuk dioperasi. Detik-detik saat operasi saya gunakan untuk terus mengajarkan pada diri tentang bagaimana menerima takdir. Berani melawan ketakutan akan kehilangan dan tetap kokoh dalam segala situasi. Pelan namun pasti semua ini akan terjadi. Sekarang atau lusa rasa kehilangan itu akan tetap ada. Yang terpenting memang bukan soal hidup atau mati, akan tetapi bagaimana caranya berani menerima keduanya.

papieh1

                Suami sesaat sebelum masuk kamar operasi

Mati juga merupakan kenyataan hidup, jadi keduanya tidak bisa dipisahkan. Satu hal terpenting adalah mengajarkan pada nurani untuk bisa lebih menerima kenyataan. Memberinya warna kekuatan agar tidak berlarut-larut pada kepedihan. Tidak memberi ruang dengan menyalahkan keadaan atau orang lain. Semua peluru-peluru petuah itu saya hujamkan terus menerus, ke dalam diri saya. Memang bukan sesuatu yang mudah dalam menerima semua petuah itu. Banyak pergolakan terjadi, kerapuhan dan kesedihan juga menyelinap dalam relung hati. Tapi tekad saya untuk berani lebih menerima kenyataan terus saya gelorakan. Sampai akhirnya pergolakan negatif itupun sirna, berubah menjadi kekuatan hati dan kelapangan.

Pada saat saya sudah mendapatkan sertifikat kekuatan dan keberanian, dokter yang mengoperasi suami keluar. Senyum tipis mewarnai bibir sang dokter, lalu ia berkata,”Selamat ya Bu, operasinya berjalan lancar”. Alhamdulillah Ya…Rabb, ucapku dalam hati.

IMG-20150115-00637

 Saya yg selalu menyemangati diri sendiri

Kembali pada taman hati yang kutinggalkan sejenak, ku tengok kembali bilur-bilur keyakinan bahwa tiada masa tanpa rasa syukur. Nah, inilah kekuatan sejati itu selalu bersyukur dengan setiap keadaan. Dengan meninggikan rasa syukur perjalanan takdir hidup saya serasa berjalan di jalan bebas hambatan. Tanpa gundah apalagi merintih pilu, bahkan saya membebaskan mata saya menatap liar ke arah masa depan.

Saya memang sempat lupa bahwa masih ada hari esok di mana matahari yang selalu bersinar dengan semangat. Ya, matahari itulah masa depan saya. Saya tanamkan dalam-dalam bahwa sampai kapanpun, selagi kita masih hidup maka takdir selalu ada. Berani lebih menerima kenyataan adalah bagian dari takdir hidup. Yang penting terimalah dia, karena tanpanya kita tidak bisa merasai hidup sejati.


Facebook : Ety Budiharjo
Twitter : @etybudiharjo
Google + : Ety Budiharjo
Instagram : Ety budiharjo

4 thoughts on “Berani Lebih Menerima Kenyataan

    • Meski kita paham bhw Allah memberikan ujian sesuai dgn porsinya tp tetep aja rasa ketakutan itu ada. Krn sy manusia biasa, bkn nabi atau malaikat. Terimakasih atas support dan doanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s