Si Bongkok, Primadona Yang Rawan Penyakit


Dari beberapa produk perikanan Indonesia, udang memberikan kontribusi dalam pemasukan devisa negara yang terbesar. Data yang diperoleh dari Aquacultur Asia Pasific, tahun 2014 lalu Indonesia menjadi produsen udang terbesar ke dua di dunia setelah Tiongkok. Secara spesifik Shrimp News International merilis bahwa udang jenis Vannamei naik sekitar 31% dibanding tahun sebelumnya yaitu sekitar 592.219 ton.

Bahkan pada tahun 2015 ini, Kementrian Kelautan dan Perikanan ( KKP ) menargetkan peningkatan produksi udang hingga mencapai 755.506 ton. Sungguh, sebuah target yang perlu mendapat apresiasi besar dari para stakeholder. Peluang yang terbuka lebar ini tentu saja tidak boleh disia-siakan. Pasar International siap menerima produksi udang Indonesia, karena dinilai banyak memiliki keunggulan. Jadi jangan sampai peluang besar ini diambil alih oleh Negara lain.

Sampai sejauh ini, memang masih diperlukan berbagai persiapan untuk menuju usaha budi daya udang yang berdaya saing dan berkelanjutan. Ada beberapa aspek utama yang harus diperhatikan untuk menghasilkan udang berstandar ekspor. Aspek tersebut adalah Teknologi, Sosial Ekonomi dan Budi Daya Ramah Lingkungan. Persiapan lainnya, tentu saja menyangkut budi daya udang itu sendiri seperti benih unggul, pakan udang dan perluasan tambak. Dari semua persiapan tersebut ada satu hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan, yaitu penyakit udang.

Sungguh miris memang, sampai sejauh ini para stakeholder hanya berkutat pada peningkatan produksi udang semata. Akan tetapi peningkatan tersebut tidak dibarengi dengan penelitian lebih lanjut, bahwa udang memiliki resiko penyakit cukup tinggi. Bagaimana mungkin peningkatan udang akan tercapai sementara banyak penambak udang mengalami gagal panen yang disebabkan oleh penyakit. Di sinilah awal permasalahannya, sejatinya udang Indonesia hampir mencapai predikat primadona tapi terserang oleh penyakit. Hal ini bisa berakibat pada penurunan tingkat kepercayaan konsumen dunia akan udang Indonesia.

Permasalahan penyakit udang tidak berhenti sampai di situ saja. Selama ini para penambak udang hanya bisa mengobati udang dengan obat-obatan pengendali penyakit. Padahal tidak jarang didapati udang Indonesia terinfeksi virus dan terkontaminasi antibiotik seperti Oksitetrasiline, Klortetrasiline dan Kloramfenikol. Uni Eropa sebagai pangsa pasar ekspor udang telah menetapkan persyaratan khusus untuk udang yang akan diekspor. Persyaratan tersebut menyebutkan bahwa udang yang akan diekspor harus bebas dari antibiotik. Persyaratan tersebut telah digulirkan pada bulan September 2001, dan sejak saat itulah Pemerintah Indonesia melalui GAPPINDO ( Gabungan Pengusaha Perikanan Indonesia ) aktif mengkampanyekan untuk tidak lagi menggunakan antibiotik sebagai pengendali penyakit.

Pemberhentian penggunaan antibiotik ini ternyata menimbulkan masalah baru. Oleh karenanya harus diambil langkah lain untuk mengatasi masalah tersebut. Pemikiran yang muncul kemudian adalah diperlukannya seorang ahli peneliti histology tentang penyakit udang. Sebagai salah satu perusahaan produsen dan pengolahan udang terintegrasi terbesar di dunia, PT. Central Proteina Prima Tbk ( CPP ) sekiranya dapat menjembatani permasalahan tersebut di atas. Perusahaan yang didirikan pada tahun 1980 ini memang memfokuskan diri pada budidaya udang, pakan, probiotik, benur dan makanan olahan.

cpprima

Saat ini di Indonesia, peneliti tentang penyakit udang masih dipandang sebelah mata, jauh dengan Negara-negara lain seperti Amerika dan Jepang. Itulah sebabnya peneliti penyakit udang di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari. Sebenarnya sudah sepantasnya sebagai Negara pengekspor udang terbesar kedua dunia, Indonesia lebih memperhatikan keberadaan seorang peneliti histology. Seorang peneliti berfungsi sebagai filter sebelum penyakit udang menyerang, ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan. Atau sekalipun udang tersebut telah terjangkit suatu penyakit, seorang peneliti akan memberikan rujukan penanganan yang tepat agar udang dapat dipanen dengan maksimal.

Adapun tujuannya juga cukup jelas, bahwa penelitian tentang penyakit udang, semata tak lain agar hasil panenya memenuhi standar ekspor berkualitas. Jika sedari awal sudah diketahui penyakit yang menyerang udang, maka penambak tidak ragu dalam mengambil tindakan. Dengan penelitian yang intensif dan berkesinambungan penambak udang mempunyai rujukan yang tepat dan dapat dipercaya untuk mengatasi permasalahan tambaknya.

Bicara soal penelitian tidak terlepas dari masalah tempat untuk meneliti atau laboratorium. Sebagai perusahaan yang memiliki tiga tempat pembudidayaan udang dengan puluhan karyawan, setidaknya PT. Central Proteina Prima Tbk ( CPP ) dapat memberikan kontribusinya dengan menyediakan laboratorium yang memadai. Laboratorium yang sedianya difasilitasi oleh PT. Central Proteina Prima Tbk ( CPP ) akan memberikan kemajuan berarti. Bukan hanya untuk kalangan intern perusahaan saja, akan tetapi bisa juga ditularkan bagi penambak-penambak udang tradisional lainnya.

Hal ini bisa juga dipandang sebagai bagian dari bersinerginya perusahaan besar dengan para penambak udang tradisional. Perlu diingat, potensi ekspor udang Indonesia sangat terbuka lebar, jadi tidak salah jika mulai saat ini para penambak udang harus mempersiapkan diri untuk menghasilkan udang dengan kualitas ekspor. Bukan tidak mungkin di tahun-tahun berikutnya Indonesia akan menjadi pengekspor udang nomor satu di dunia karena hasil udangnya memiliki kualitas prima.


Jumlah kata : 733

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s