Tetangga Ko Gitu Sih ?

Chedar 1
Saya melihat Bimo tergolek lesu di sofa, sepulang dia dari sekolah. Tidak seperti biasanya, kali ini Bimo seperti memendam kesal atau mungkin juga marah. Baru kali ini saya melihat dia begitu kesal, padahal itu bukanlah sifatnya. Saya belum berani bertanya, karena percuma saja, paling jawabannya “nggak tau”. Saya hapal betul sifatnya Bimo, malas bicara, ditanya aja belum tentu mau menjawab apalagi tidak ditanya. Lalu saya menyuruhnya untuk berganti pakaian, cuci tangan dan makan. Setelah makan Bimo langsung menyalakan televisi, mencari acara kesukaannya dan duduk manis. Diam.

Ini juga bukan kebiasaannya, karena sehabis pulang sekolah dan makan Bimo selalu membaca buku atau bermain dengan adiknya. Tingkah Bimo ini semakin membuat saya penasaran. Daripada terus menerus penasaran, akhirnya sayapun memberanikan diri bertanya.

”Ada apa ? Dari tadi ko mukanya kusut sih ?”tanyaku sambil bergaya anak seusianya.

“Cerita dong,”pintaku. Masih diam. Namun beberapa menit kemudian…

“Aku kesel, nyebelin banget, anak baru aja belagu,”omelnya.

Ho…ho…ho…Bimo marah. Ada apakah gerangan ? Mengapa Bimo marah, padahal dia itu anak paling kalem sedunia, eh salah ding segang rumah.

Tak berapa lama kemudian…

“Tadi di sekolah ada anak baru, pindahan dari sekolah lain. Mentang-mentang anak baru, semua teman-temanku pada ngerubutin dia terus. Tanya inilah, tanya itulah,”cerocosnya lagi. “Aku kan kesel, Dirga aja sampe nggak mau main sama aku, maunya main sama anak baru itu.”

Diam. Saya menoleh sejenak dari pakaian yang sedang kurapikan. Melihat ke wajahnya. Dan…sedikit berkaca-kaca. Ah, kali ini Bimo emang lagi serius. Padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Misalnya pindahan dari mana dan siapa namanya. Tapi semua ku urungkan. Untuk mencairkan suasana hatinya, saya pun mulai bercerita. Kebetulan memang ada yang ingin ku sampaikan padanya.

“Oh iya, tadi pagi ada tetangga baru loh. Dia baru pindah dari Tangerang,”kataku.

Nggak ada reaksi.

Akhirnya Bimo masuk ke dalam kamar tanpa suara dan tanpa bicara apa-apa lagi. Lima belas menit berlalu, sampai akhirnya saya mendengar suara bel. Kontan membuat saya kaget, lalu berjalan ke pintu depan memastikan siapa yang datang.

“Assalamua’laikum…,”ucapan salam dari seorang ibu.

“Wa’alaikumsalam…,”balasku.

“Ibu, perkenalkan saya tetangga baru yang tadi pagi pindahan,”katanya memperkenalkan diri.

“Oooo…mari silakan masuk,”kataku selanjutnya.

Sayapun mempersilakan si Ibu itu duduk.

“Ini anak saya, namanya Anissa,”lanjut si Ibu memperkenalkan seorang gadis kecil yang cantik itu.

Tak berapa lama, sang anakpun berdiri dan menyalami saya. Duh, gadis kecil yang cantik dan sopan. Wah, Bimo pasti senang nih kalau dikasih tau ada tetangga baru datang ke sini. Mudah-mudahan gadis cantik ini mau jadi temannya Bimo dan bisa diajak bermain. Apalagi sekarang Bimo sedang kesal karena merasa tersisih sama teman barunya di sekolah.

“Ini, saya buat spaghetti buat Tante,”terdengar suara si gadis sambil memberikan mangkuk berisi spaghetti.

“Wah…ko repot-repot sih, terimakasih ya Nak,”balasku sambil menerima mangkuk dari tangannya.

“Oh ya Tante, itu aku sendiri loh yang bikin,”ujar si gadis. Resepnya dari Mama,”lanjutnya.

“Pasti enak nih, baunya aja sudah enak,”timpalku. “Bimo pasti suka, dia paling suka spaghetti.”

“Sebentar ya Tante panggilin Bimo dulu,”ujarku.”

Sayapun beranjak pergi memanggil Bimo yang berada di kamar, semoga saja dia tidak tidur. Tak berapa lama, saya sudah berjalan beriringan dengan Bimo menuju ruang tamu. Setelah kami mendekat, mata Bimo terbelalak, melihat tamunya. Dan, si gadis itupun terbelalak. Melihat pemandangan ini, saya jadi ikut-ikutan bengong. Ada apa gerangan ? Apakah mereka sudah saling kenal ?

“Bimo ?”tanya si gadis terkejut. “Anissa, kamu ko ada di sini,”tanya Bimo sedikit ketus.

Aha, saya tau…saya tau, ternyata mereka sekelas. Dan anak baru yang tadi diceritakan oleh Bimo pasti Anissa. Bukan itu saja, Anissa adalah anak baru yang bikin Bimo kesal. Loh…ko jadi runyam begini yak,”kataku dalam hati.

“Jadi kalian sudah saling kenal,”suaraku memecahkan ketegangan di antara mereka.

Merekapun mengangguk.

“Kalau kalian sudah saling kenal, sekarang bisa jadi temenan dong,”ujarku.

“Bimo, ini tadi Anissa bawa spaghetti kesukaan kamu, sekarang ajak deh Anissa makan,”pintaku pada Bimo.

Tanpa ada pertanyaan, mereka pergi ke meja makan untuk menikmati spaghetti buatan Anissa. Setelah perkenalan itu, Anissa dan ibunya pamit pulang.

“Gimana ? Enak nggak spaghettinya,”tanyaku pada Bimo, setelah mereka pergi.

“He…eh…,”jawab Bimo singkat dan…malu-malu.

“Ada Kejunya,”sahut Bimo lagi.

“Hah ? Ada kejunya ? Kamu kan nggak suka keju,”tanyaku kaget.

“Kata Anissa, ini Keju Kraft, beda sama keju yang lain. Rasanya empuk dan gurih. Gizinya sama seperti minum susu,”terang Bimo panjang lebar.

“Kayaknya aku suka deh…,”suara Bimo perlahan.

Sayapun melirik ke arah Bimo, melihat wajahnya. Kali ini saya tidak melihat matanya berkaca-kaca tapi sebaliknya berbinar.

“Eh…kamu suka sama apa ? Sama Keju Kraft atau samaaaaaa….,”godaku.

“Sama Keju Kraft dong !”suara Bimo terdengar lantang.

Saya hanya bisa tersenyum melihat Bimo bisa ceria lagi. Kesimpulan saya, Keju Kraft bisa membuat orang pemarah jadi pemaaf. Rasa Keju Kraft yang gurih seperti gurihnya persahabatan Bimo dan Anissa. Ah, dasar abege.

Chedar

10 thoughts on “Tetangga Ko Gitu Sih ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s