Filosofi Kembang Goyang

kembang goyang


Gambar milik keju moo


“Bikin kue apa bu ?”tanyaku pada Ibu yang berada di dapur.

“Ini, kue Kembang Goyang,”jawab Ibuku lembut.

“Ko kue itu lagi, kue itu lagi, yang laen kek,”kataku jutek.

“Kayak orang-orang dong. Kalau lebaran bikinnya Bolu, Black Forest, Nastar,”sungutku lagi.

“Kembang Goyang kan kue kampung,”tegasku sambil meninggalkan Ibu yang tergugu.

Ibu pun meneruskan menggoreng kue Kembang Goyangnya. Sore menjelang, beberapa jam lagi waktu berbuka tiba, karena Ibu sibuk dengan Kembang Goyangnya, maka saya yang menyiapkan makanan untuk berbuka. Setelah selesai berbuka, Ibu berkata padaku,”Mbak, ntar pulang taraweh tolong anterin kue Kembang Goyang pada Bu Slamet ya.” Dengan malas-malasan saya mengangguk. Sebenarnya saya nggak mau mengantarkan kue Kembang Goyang itu. Alasannya satu, malu. Bayangkan, dari tahun ke tahun Ibu selalu mengirimkan kue yang sama, Kembang Goyang.

Percakapan dua puluh lima tahun yang lalu, tapi masih hangat tersimpan dalam hati…

Rasanya masih begitu melekat saat Ibu tiada, begitu banyak tetangga yang datang melayat. Dan yang paling terasa buat mereka saat lebaran tiba. Para tetangga berkata,”Yaaa…nggak ada yang nganterin Kembang Goyang lagi nih.”

“Iya, Kembang Goyang buatan Bu Parno enak, gurih dan renyah,”sahut Bu Tinah.

Ya, mereka semua adalah tetangga Ibu. Mereka semua merasa kehilangan Ibu, terutama saat lebaran. Karena cuma Ibu satu-satunya di kampung yang bisa membuat Kembang Goyang. Itu karena Ibu orangnya telaten. Membuat Kembang Goyang itu rumit, Kembang Goyang digoreng satu persatu dengan cetakan khusus berbentuk kelopak bunga. Kata Ibu, minyaknya juga harus sedang, nggak boleh kepanasan tapi juga jangan dingin. Padahal jaman Ibu dulu, belum ada kompor gas seperti sekarang ini. Kompor yang Ibu pake masih kompor minyak tanah.

Waktu saya bilang bosen dengan kue Kembang Goyang, Ibu bilang bahwa Kembang Goyangnya bisa dicampur dengan kacang tanah, wijen atau keju. Terserah mau pake apa, kalau pake coklat, disiram setelah Kembang Goyangnya dingin. Begitu pesan Ibu. Saat itu apa yang Ibu katakan belum sempat dipraktekkan, karena Ibu keburu jatuh sakit. Bapak tidak membolehkan Ibu membuat kue lagi. Takut kecapekan. Lalu, sebelum Ibu tiada beliau juga pernah bilang kalau saya harus bisa membuat Kembang Goyang. Resep yang Ibu punya adalah resep turun temurun dari buyut saya. Duh, pesannya ko berat amat yak !

Chedar 1

Lima tahun setelah Ibu tiada, saya mencoba untuk membuat kue Kembang Goyang. Benar dugaan saya, ternyata bikin Kembang Goyang itu sangat rumit. Nggak seperti bikin kue Bolu atau kue modern lainnya yang tinggal kocok dengan mixer lalu panggang. Butuh ketelatenan, ketekunan dan…kesabaran. Sayapun menangis, tersedu sambil menatap adonan kue Kembang Goyang. Entah kenapa tiba-tiba saja hadir wajah Ibu begitu jelas, sambil tersenyum Ibu berkata,”Kamu pasti bisa Nak.” Setelah itu wajah Ibupun menghilang.

Beberapa saat saya termenung, ternyata Ibu meninggalkan wasiat yang sangat berharga. Bukan Kembang Goyangnya, bukan. Tapi filosofi nya itu loh ! Seperti yang saya alami di atas, butuh ketelatenan, ketekunan dan kesabaran untuk membuat Kue Kembang Goyang. Begitulah filosofinya, hidup memang seperti itu. Jika ingin berhasil dan sukses maka kuncinya ke tiga hal tersebut. Dengan membuat Kembang Goyang berarti melatih diri untuk meraih ke tiga kunci tadi. “Ah…Ibu maafkan aku,”ujarku lirih, sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.

Ramadan 1436 Hijriah…

Sore ini, setelah mengingat masa lalu sayapun meluncur ke website keju moo. Tujuan saya satu, mencari resep Kembang Goyang dengan variasi Keju Kraft. Alhamdulilah, dalam waktu singkat saya sudah menemukan resep yang saya cari. Setelah tempaan hidup selama puluhan tahun serta bimbingan dari seorang Ibu yang telaten, saya merasa sudah siap untuk membuat Kembang Goyang. Kembang Goyang yang belum pernah Ibu coba praktekkan dengan variasi keju. Ibu, kali ini saya tidak akan mengecewakan Ibu. Meski Ibu tidak akan pernah mencicipi Kembang Goyang buatan saya, tapi Ibu pasti bangga. Ibu tidak sekedar mewariskan resep Kembang Goyang tapi juga filosofi hidup. Tekad saya, menjelang lebaran nanti saya akan membuat kue Kembang Goyang versi Keju Kraft. Semoga saja Kembang Goyang Keju Kraft akan memberikan saya filosofi hidup yang baru agar saya lebih bersyukur menapaki hidup. Saya akan buktikan kalau Kembang Goyang tidak kalah enaknya dengan kue-kue modern lainnya. Terimakasih Ibu, do’a ku selalu untuk mu…

Chedar

15 thoughts on “Filosofi Kembang Goyang

  1. kembang goyang mengingatkan saya dengan kenangan almarhumah nenek yg kerap bikin kembang goyang pas berkunjung ke rumah. Kembang goyang itu bikin tua di dapur. Bikinnya lama. Gorengnya kudu sabar. Nggak kebayang dapat pesenan kembang goyang 10 kilo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s