Memorable With Biji Ketapang

Selain kue Kembang Goyang, setiap kali lebaran ibu juga selalu membuat kue yang satu ini. Dalam hati saya waktu itu, ini kue apaan lagi sih, bentuknya aja dah nggak karuan apalagi rasanya, simple dan mudah membuatnya. Karena kue ini mudah membuatnya, maka saya diminta ibu untuk membantunya. Biasanya setelah kue ini diuleni, dipulung-pulung memanjang oleh ibu, maka saya kebagian menggunting. Ibu mencontohkan cara mengguntingnya, yaitu digunting serong, mirip mengiris cabe. Untuk kue yang satu ini, saya juga nggak terlalu banyak komentar, alasannya selain mudah membuatnya, kue ini merupakan kue kesukaan bapak. Ya, ibu senang sekali memanjakan lidah bapak. Buat ibu, bapak adalah mahluk yang paling dihormati sekaligus disayanginya. Pokoknya hormat ibu pada bapak nggak ada yang menandingi sekampung deh.

Setelah kue ini matang, lau kue ini disimpan dalam toples kaca, dan… tidak dibagi-bagikan. Saya pernah bertanya, kenapa bukan kue ini saja yang dibagi-bagikan ke tetangga ? Ibu bilang ini kue kesukaan bapak, lagipula hampir semua orang bisa membuat kue ini. Alasan ibu lagi katanya sih bapak cuma mau kue buatan ibu. Dulu pernah ada yang mengirimi ibu kue yang sama tapi pas dicoba sama bapak, bapak nggak mau. Kata bapak ko kuenya rasanya beda, ini pasti bukan kue buatan ibu. Oh no, ternyata bapak benar-benar menyayangi ibu, buktinya bapak cuma mau kue buatan ibu. Kalau waktu itu saya sudah besar, mungkin saya akan bilang so…sweet…

Jujur saja saya juga kurang suka sama kue ini, tapi karena ini kue kesukaan bapak jadilah saya belajar menyukainya. Kata ibu, salah satu cara menghormati orang, baik itu orang tua ataupun orang lain adalah dengan menghargai apa yang mereka sukai. Perilaku seperti itu akan membuat orang lain senang, kalaupun ingin beda pendapat ungkapankan dengan baik dan sopan, begitulah nasehat ibu. Akhirnya jadilah saya mencicipi kue itu, rasanya manis, gurih dan agak keras. Masih kata ibu, sebenarnya kue itu bisa dibikin lebih empuk tinggal tambah menteganya aja. Tapi bapak lebih suka yang agak keras, jadi ukuran menteganya ibu kurangi, sedangkan gula pasirnya ditambah. Wah…wah…saya jadi mikir bahwa ini kue bapak banget. Oalah…saking hormatnya ibu sama bapak, sampai-sampai selera bapak dituang dalam kue ini.

IMG-20140918-00356

Bapak bersama cucunya

Karena setiap lebaran saya selalu diminta ibu untuk membuat kue itu, maka sayapun jadi hapal resep kuenya. Dan, setelah ibu tiada, bapak selalu meminta saya untuk membuat kue itu, bahkan bapak juga meminta saya rasanya harus persis sama dengan yang dibuat ibu. Entah sengaja atau tidak, sewaktu ibu masih ada, ibu menyuruh saya untuk mencatat resep kue itu. Saya sama sekali tidak memiliki firasat apa-apa tentang hal itu. Tapi setelah ibu tiada, semua jadi terkuak, bahwa ibu mewariskan resep itu pada saya karena ibu akan pergi. Hal itu dilakukan karena firasat ibu, bahwa sebentar lagi ibu tidak bisa mendampingi bapak lebih lama. Dan, saya sebagi anak perempuan satu-satunya harus bisa membuatkan kue itu untuk bapak. Ah, ternyata semua yang ibu ajarkan pada saya adalah pertanda bahwa ibu akan meninggalkan kami selama-lamanya…

( Terus terang sampai di sini saya benar-benar nggak kuat menahan air mata, airmata saya langsung jatuh. Kangen sama ibu dan semua nasehatnya, pelajaran ibu yang paling berharga adalah bahwa seorang istri harus berbakti pada suami, itu merupakan hal terbaik dalam hidupnya. Pahala yang tak ternilai, bahkan syurga sebagai balasannya. Ya… Allah kasihi ibu, sayangi ibu, terima semua kebaikan ibu… Amiiiin…)

Dan tiga hari yang lalu, bapak menelpon saya mengingatkan agar tidak lupa membuatkan kue istimewanya. Padahal saya tahu betul, buat bapak kue itu bukan lagi sekedar makanan lebaran tapi banyak kenangan di dalamnya. Soalnya setiap kali saya mengantarkan kue itu ke bapak, mata bapak langsung berkaca-kaca, teringat sama ibu.

( Ah, lagi-lagi airmata saya menetes, saya nggak tega melihat bapak menagis. Jangankan melihat, membayangkan saja saya nggak kuat. Bapak yang sangat mencintai ibu, dan saya yang sangat mencintai keduanya. Biasanya kalau sudah begini saya langsung memeluk bapak, meringankan beban kerinduannya pada ibu. Sedikit bocoran, sejak ibu tiada bapak tidak mau menikah lagi, sampai sekarang sudah hampir 28 tahun. )

Permintaan bapak memang tidak neko-neko, tapi mengingat saat ini saya agak sibuk, jadinya saya tawarkan ke bapak kalau beli aja. Seperti yang sudah saya duga bapak menolak, sama seperti dulu, bapak nggak mau kue buatan yang lain selain buatan saya. Bapak malah bilang kalau memang repot, saya diminta nginep saja di rumah bapak dengan mengajak anak-anak. Sebenarnya saya juga nggak tega mengatakan semua itu, karena dari dulu saya memang selalu membuatkan kue istimewa itu buat bapak, bahkan tanpa dimintapun saya pasti buatkan. Sebelum bapak menutup telepon saya usul sama bapak, gimana kalu kue itu ditambah keju. Saya jelaskan sama bapak, tentang manfaat keju yang sama dengan minum susu. Karena selama ini bapak kurang suka minum susu. Minuman favorit bapak kopi pada pagi hari dan teh tubruk menjelang sore.

Resep-Biji-Ketapang

Gambar pinjam dari sini

Awalnya bapak menolak, apalagi coba alasannya kalau bukan takut rasanya beda sama buatan ibu. Saya bilang emang agak beda, tapi lebih enak, bukankah bapak harus menjaga kesehatan dengan minum susu ? Pembicaraan terus berlanjut, sampai akhirnya saya bilang sama bapak, ibu pernah berpesan sama saya untuk selalu menjaga bapak termasuk menjaga kesehatan bapak. Sampai di sini bapak kayaknya terdiam, terus saya juga bilang kalau…kalau…ibu nggak mau bapak sakit. Saya mendengar suara bapak samar-samar, bapak mau deh pake keju, kalau emang ibu pernah bilang begitu sama kamu.

Ah, akhirnya rayuan saya mempan juga, lebih tepatnya rayuan dari almarhumah ibu. Yah, semua itu bukti kalau sampai sekarang bapak masih sangat mencintai ibu. Sayapun berjanji, tiga hari sebelum lebaran saya sudah mengantarkan kue permintaan bapak, kue sederhana tapi mengandung makna sangat dalam. Kue yang saya tidak pernah tahu berasal darimana, tapi selalu ada di pelosok-pelosok kampung kecil Jakarta. Kue yang bisa membangkitkan semua kenangan bapak dan ibu dari pahit hingga manis. Kue tanda cinta ibu pada bapak dan sebaliknya, kue itu bernama Biji Ketapang…

Chedar

Dini hari 30 Juni 2015, teriring do’a untuk Almarhumah Ibu Tjaskinah dan do’a kesehatan serta kebaikan buat Bapak Soeparno. Orang tua yang tak pernah kering akan do’a buat anak-anaknya, menantunya dan cucu-cucunya. Takdir seorang anak yang tak pernah bisa memberikan sebanding dengan apa yang sudah Bapak dan Ibu berikan pada kami. Bahkan potongan do’a inipun tidak akan pernah cukup menggantikan limpahan kasih sayang dari Bapak dan Ibu, tidak akan pernah…

doa-orang-tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s