Hikayat Bunga Kemuning

 

Pada masa dahulu hiduplah seorang raja dengan sepuluh orang anaknya. Bisa dibayangkan hidup dengan sepuluh orang anak, yang mana kesemua anaknya  perempuan.       Amat sangat disayangkan, bahwa Raja telah kehilangan Permaisuri untuk selama-lamanya. Peristiwa yang membawa duka nestapa ini tidak membuat Raja dirundung kesedihan dalam kurun waktu lama. Kesepuluh putrinya itulah yang membuat Raja, kembali menemukan hidupnya. Apalagi terhadap putri bungsu, Raja menaruh perhatian lebih padanya. Hal itu bukan hanya dikarenakan wajah Putri Bungsu serupa dengan Permaisuri, tapi akhlak dan budi pekertinya bagai batang pinang terkelupas kulitnya, halus tanpa cela.

Kesepuluh putrinya masing-masing diberi nama sesuai dengan nama warna. Putri Sulung bernama Putri Jambon, sedangkan adik-adiknya bernama Putri Jingga, Putri Nila, Putri Hijau, Putri Kelabu, Putri Oranye, Putri Merah, Putri Putih, Putri Biru dan yang bungsu bernama Putri Kuning. Nama-nama yang diberikan oleh  Raja kepada putri-putrinya ini bukan tanpa sebab, namun mengandung banyak makna. Kesepuluh putri Raja juga selalu menggunakan baju berwarna yang sama dengan namanya. Semua dimaksudkan sebagai pengingat, agar Raja tidak salah atau tertukar terhadap satu dan  lainnya.

Sebenarnya hampir semua paras Sang Putri cantik rupawan, tapi di balik rupawan wajah tersebut, Putri Raja  memiliki sifat  yang kurang baik kecuali Putri Bungsu. Padahal, baik Raja maupun Permaisuri memiliki akhlak mulia. Terbukti, dalam menjalankan titahnya sebagai seorang pemimpin, Raja dikenal sebagai Raja yang dihormati dan disegani oleh Raja-raja dari kerajaan lain. Bukan hanya bijaksana, Raja juga dikenal sebagai Raja yang adil dan selalu mementingkan urusan rakyat. Dikisahkan bahwa  Raja kerap kali berkeliling ke luar Istana dengan maksud ingin mengetahui kehidupan rakyat yang sebenarnya. Bahkan tidak segan  Raja membawa bahan pokok dan diberikan pada rakyat, tanpa diketahui oleh rakyatnya karena Raja selalu menyembunyikan jati dirinya.  Raja yang lebih banyak berbuat daripada hanya berdiam diri di singgasana nan agung itu sangat dicintai oleh rakyatnya.

Perilaku Raja ini membuahkan hasil pada kejayaan dan kemasyuran kerajaannya. Banyak kerajaan-kerajaan lain mencontoh Raja, bagaimana cara memakmurkan rakyat dan menjaga kewibawaan kerajaan. Dengan senang hati Raja pun membagikan ilmu pada raja-raja lain. Menurut Raja, sudah seharusnya rasa empati seperti itu muncul dalam diri seorang pemimpin. Selain karena keturunan, tahta kerajaan  merupakan amanah dari  Penguasa Jagat Raya.

Sayangnya perilaku Raja yang bijaksana ini tidak menurun pada putri-putrinya, kecuali Putri Bungsu. Sebenarnya jauh sebelum Permaisuri meninggal, para putri raja memiliki sifat terpuji. Akan tetapi setelah Permaisuri meninggal, pengasuhan para putri raja dilanjutkan oleh Pengasuh Istana. Rasanya tidak mungkin jika Raja melakukan pengasuhan putri-putrinya seorang diri. Mengingat tugas dan tanggung jawab kerajaan amat berat. Entah apa sebabnya setelah diasuh oleh Pengasuh Istana, perilakunya berubah meski tidak seratus delapan puluh derajat. Kesembilan Putri Raja itu menjadi putri yang manja dan malas.

Mereka lebih suka memerintah Pengasuh Istana daripada mengerjakannya sendiri. Waktu mereka lebih banyak digunakan untuk bermain, bersolek dan bersantai ketimbang belajar. Pengasuh Istana yang  menjalankan tugas atas titah Raja juga tidak bisa berbuat apa-apa.  Perilaku mereka jauh dari cerminan seorang putri Raja. Padahal sejatinya kepada merekalah kelak tahta ini diturunkan. Sungguh, Pengasuh Istana tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika kelak Putri Sulung menjadi Ratu di kerajaan ini. 

“Oh…Penguasa Yang Maha Agung,  kembalikan jati diri mereka semula,”begitu do’a Pengasuh Istana melihat perilaku putri-putri Raja.

Sungguh begitu, hati Pengasuh Istana masih sedikit terhibur, karena  perangai Putri Bungsu tidak seperti kakak-kakaknya. Selain memiliki kecantikan, Putri Bungsu juga memiliki perilaku terpuji. Lemah lembut, penyabar dan penuh kasih sayang pada siapapun, termasuk pada hewan dan tumbuhan. Kelebihan lain dari Putri Bungsu adalah dia sangat penurut terutama atas titah Ayahandanya. Hormat pada Ayah yang tidak lain seorang Raja, pun dengan pengawal, tabib istana, penjaga kebun, perawat kuda, dan pengasuhnya. Putri Bungsu yang bernama Putri Kuning ini, sangat sopan santun, tutur katanya halus dan pandai dalam segala hal. Kepandaiannya ini didapat dari pembelajaran demi pembelajaran. Rasa keingintahuannya terhadap ilmu pengetahuan juga sangat besar. Putri Kuning sangat suka belajar dan selalu tidak berpuas diri. Oleh karena itu dia selalu mencari ilmu untuk memperdalamnya lagi.

Kebijaksanaan Raja tidak terbatas hanya pada rakyatnya saja, kepada semua putri-putrinya Raja juga bersifat adil dan bijaksana. Kalaupun Raja sedikit perhatian pada Putri Kuning itu lantaran Putri Bungsunya menyimpan kemiripan wajah pada mendiang Permaisuri. Lagi pula Putri Bungsu tidak merasakan kasih sayang dari Permaisuri, karena tak berapa lama Putri Bungsu lahir Permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya. Jadilah Putri Bungsu tidak mengenyam asuhan  Ibunya bahkan mengenal wajahnyapun tidak. Sepertinya perlakuan Raja yang seperti itu sangatlah beralasan.

Pada suatu hari, Raja hendak melakukan perjalanan mengunjungi kerajaan lain. Sebelum berangkat, Raja memanggil kesepuluh putri-putrinya. Bertempat di ruang khusus berkumpul, para putri raja sudah duduk di kursinya masing-masing. Seperti kebiasaan pada jamuan makan, Putri Sulung duduk di sebelah kanan Raja, sedangkan Putri Bungsu berada di sebelah kiri.

“Wahai putri-putriku, bukan tanpa sebab Ayah memanggil kalian semua,”kata Raja penuh wibawa.

“Ada apakah gerangan Ayah memanggil kami ?”tanya Putri Sulung.

“Hmmm… putri-putriku, ketahuilah lusa Ayah akan mengunjungi Kerajaan di Wilayah Selatan. Kemungkinan Ayah akan pergi dalam waktu cukup lama,”demikian ujar Sang Ayah.

“Ayah minta agar kalian saling membantu satu sama lain.   

Lakukan tugas sehari-hari,”lanjut Ayahnya lagi.   

“Dan Engkau Putri Jambon, sebagai Putri Sulung, jaga adik-adikmu dengan baik.    

 “Selain itu Ayah juga ingin menanyakan sesuatu pada kalian,”terdengar kembali suara  Raja.      

 Rajapun terdiam sejenak.       

“Apakah itu Ayah ?”tanya Putri Hijau nampak bingung.

Suasana sedikit agak kaku. Para putri saling berpandangan satu sama lain. Mereka mengira-ngira apa yang hendak dikatakan oleh Sang Ayah.

“Dalam perjalanan nanti Ayah akan singgah di beberapa kota kerajaan. Ayah ingin memberikan hadiah pada kalian. Kalian boleh meminta apa saja yang kalian inginkan, sebutkan saja apa yang kalian inginkan,”terdengar jelas suara Sang Ayah.

Hanya dalam sesaat, suasana yang tadi nampak kaku, tiba-tiba mencair seketika. Semua putri-putri itu tersenyum lebar. Wajahnya merona, bak bunga mawar yang baru saja merekah. Mereka saling menoleh, kegaduhan mulai terdengar. Dan disaat semua putri raja meluapkan kegembiraannya, agak berbeda dengan Putri Kuning. Tidak ada semburat gembira apalagi rona bahagia di wajahnya. Putri Bungsu  hanya diam tertunduk. Matanya yang bulat dibiarkan menatap lantai. Hatinya sedikit gundah menyaksikan perilaku kakak-kakaknya.

“Hmmm…,”terdengar suara Sang Ayah kembali.                                                                                           “Baiklah mulai dari Putri Jambon, hadiah apa yang kau inginkan.”

Raja langsung memalingkan wajah ke arah Putri Jambon. Menunggu Putri Sulungnya mengatakan hadiah apa yang diinginkannya.  

“Aku ingin giwang bertahta berlian Ayah,”suara Putri Jambon terdengar sangat bahagia.    

 Lalu, berikutnya Raja menanyakan pada putri keduanya Putri Jingga.      

 “Aku ingin Ayah membelikan kain bersulam emas,”kata Putri Jingga.  

Raja lalu menanyakan pada putri berikutnya, sampai akhirnya tibalah pada Putri Bungsu.   

“Nah, kau Putri Kuning. Hadiah apa yang kau inginkan. Katakanlah wahai putriku.”                                 

Semua mata kakak-kakaknya tertuju pada dirinya. Dipandangi oleh Sembilan orang kakaknya membuat Putri Kuning jadi rikuh.

“Sebelumnya aku minta maaf Ayah,”suara Putri Kuning mulai terdengar meski agak terbata-bata.

Sang Ayah mengerutkan dahinya.     

“Aku takut permintaan ini tidak berkenan di hati Ayah.    

Mendengar hal tersebut, kakak-kakaknya saling berpandangan. Semua menunjukkan ketidaksukaannya pada Putri Kuning. Mereka menduga bahwa Putri Kuning akan meminta hadiah yang lebih mahal daripada mereka. Bahkan beberapa orang kakaknya ada yang mencibir. Semua menunggu apa yang hendak dikatakan oleh Putri Kuning, termasuk Sang Ayah. Mereka nampak tidak sabar menunggu permintaan Putri Bungsu. Karena mereka semua tahu, bahwa betapa sayangnya Ayah pada Putri Kuning, jadi apa saja yang diminta Putri Kuning bukan mustahil akan dikabulkan.

“Ng…ng…ng…aku mau, aku mau…,”sampai di sini Putri Kuning tidak melanjutkan kata-katanya.

Sebenarnya dia tidak ragu menyampaikan keinginannya. Hanya saja sikap kakak-kakaknya itu membuatnya sedikit takut. Justru sekarang dia mulai menengadahkan wajahnya. Dipandangi kakak-kakaknya satu persatu. Kemudian…            

“Aku mau Ayah pulang dengan selamat,”ujarnya lembut.   Itulah hadiah yang aku inginkan, Ayah. Karena tidak ada hadiah yang lebih berharga selain keselamatan Ayah,”ujar Putri Kuning panjang lebar.

Perkataan Putri Kuning  membuat kakak-kakaknya cukup terkejut.

Mereka semua tidak menyangka kalau permintaan adik bungsunya  sedemikian rupa. Demikian pula dengan Sang Ayah. Dipandangi wajah putri bungsu  dengan penuh cinta kasih. Jauh di dalam lubuk sanubari, beliau ingin sekali memeluk putri bungsunya itu.  Dan, tiba-tiba saja selintas Sang Raja teringat oleh mendiang Pemaisuri. Beliau merasa bahwa Putri Bungsunya seperti duplikat dari Permaisuri.

Hari yang dinanti tiba, setelah segala sesuatunya siap  Raja pun berangkat dengan diantar oleh kesepuluh putrinya. Perjalanan kali ini memang terasa sangat berat. Setelah sekian lama sejak Permaisuri meninggal baru sekarang Raja bepergian jauh dalam kurun waktu lama. Akan tetapi Raja harus melakukan semua ini, semata-mata agar putri-putrinya belajar mandiri. Sebab berdasarkan laporan dari Pengasuh Istana, kesembilan putri Raja memiliki tabiat kurang baik. Satu-satunya putri raja yang berperilaku baik hanyalah Putri Bungsu. Namun dalam tahta kerajaan, Putri Sulunglah yang lebih berhak menerima gelar Ratu, setelah Raja nanti mangkat.

Laporan Pengasuh Istana membuat Raja berpikir, mencari jalan keluar untuk mengatasi masalah tersebut. Maka diputuskanlah oleh Raja, untuk pergi mengunjungi kerajaan sahabatnya. Selain untuk menjalin persahabatan, Raja juga hendak mencari pengalaman bagaimana mempersiapkan seorang putri jika kelak dirinya mangkat.

Sepeninggal Sang Ayah, para putri raja melakukan kegiatannya masing-masing. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, tabiat buruk dari kesembilan putri raja kembali muncul. Bahkan sejak Sang Ayah pergi sifat malas dan manja kesembilan putri raja diperlihatkan dengan terang-terangan. Perilaku ini tentu saja menyulitkan Pengasuh Istana. Perilaku berbeda justru ditunjukkan oleh Putri Kuning. Di saat kakaknya bermalas-malasan, Putri Kuning justru banyak membantu Pengasuh Istana. Seperti pada sore hari itu, Putri Kuning sedang menyiram bunga di taman belakang Istana. Taman bunga ini adalah taman kesayangan Sang Ayah. Oleh sebab itu, Putri Kuning merasa bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya.

Sedang asyiknya Putri Kuning menyiram bunga, tiba-tiba dia mendengar seseorang berteriak.  

”Hei…lihat ada tukang kebun baru tuh !”teriak Putri Hijau mengejek.        

Mendengar Putri Hijau berteriak membuat putri-putri yang lain berlari menghampiri. Mereka ingin melihat siapa tukang kebun yang dimaksud. Akan tetapi setelah mereka melihat Putri Kuning yang sedang menyiram bunga, merekapun tertawa terbahak-bahak. Putri Kuning menoleh, menyaksikan kakak-kakaknya yang sedang mengejeknya. Semua itu diterima oleh Putri Kuning dengan penuh kesabaran.

“Ha…ha…ha…eh Kuning, kalau sudah selesai menyiram bunga, buatkan kami teh hangat tanpa gula. Ingat ya ! Tidak pakai gula !”teriak Putri Merah. “Oh…ya  setelah itu jangan lupa bawakan baju kami yang sudah rapi,”tambah Putri Kelabu.  

Begitulah perilaku kakak-kakaknya pada Putri Kuning. Sejak Sang Ayah pergi, Putri Kuning menjadi bulan-bulanan  mereka. Bukan sekali saja Putri Kuning mendapat perlakuan seperti itu. Selain memerintah, Putri Kuning pernah beberapa kali mendapat perlakuan kasar. Pernah sekali waktu rambut Putri Kuning yang sedang digerai, ditarik. Putri Kuning terhuyung, untung saja tangan Putri Kuning langsung meraih pilar Istana. Jika sampai telat maka Putri Kuning bisa jatuh dan terbentur lantai.

Setelah puas memperlakukan Putri Kuning, kakak-kakaknya kembali bersantai dan bersolek, sedangkan Putri Kuning tetap melanjutkan pekerjaannya. Kesabaran Putri Kuning membuat iba para penghuni istana lainnya. Seharusnya mereka tidak pantas melakukan hal itu pada adik bungsunya. Perbuatan kakak-kakaknya sudah di luar batas seorang putri. Entah apa sebabnya mereka berlaku demikian terhadap Putri Kuning. Padahal mereka adalah saudara sekandung. Jadi mereka tidak memiliki alasan untuk berbuat jahat pada adik bungsunya.

“Kuniiiiiiiiiiiiiing…mana teh nya,”teriak Putri Merah. Cepat bawa ke sini,”perintah Putri Merah mulai marah.   

Tak berapa lama kemudian, Putri Kuning datang dengan tergopoh-gopoh sembari membawa baki berisi teh. Belum sampai teh itu diletakkan di meja,  Putri Kuning terjatuh. Baki berisi teh terlepas dari tangannya. Lalu terdengar bunyi gelas pecah berserakan ke mana-mana. Kali ini Putri Kuning mendapat perlakuan jahat dari Putri Biru. Ternyata kaki Putri Kuning dihalangi pada waktu melangkah. Sampai akhirnya Putri Kuning jatuh tersungkur. Melihat Putri Kuning terjatuh semua kakaknya tertawa terpingkal-pingkal. Mereka senang melihat adik bungsunya berada dalam kesulitan.

Untung saja Pengasuh Istana cepat datang, membantu Putri Kuning membersihkan pecahan gelas.

“Makanya kalau disuruh jangan terlalu lama, rasakan sendiri akibatnya,”maki Putri Biru dengan mata melotot.

Lalu merekapun meninggalkan Putri Kuning yang masih termenung. Melihat kejadian itu Pengasuh Istana merasa kasihan dengan Putri Kuning. Sepeninggal mereka Putri Kuning berkata lirih.

“Mengapa mereka seperti itu ya emban ?”tanya Putri Kuning menahan tangis. Apa salah ku ? Bukankah aku ini adik kandung mereka ?

Putri Kuning terus menerus bertanya. Apalah daya Pengasuh Istana tidak bisa menjawab, karena memang dia sendiri tidak tahu menahu mengapa Putri Kuning sangat dibenci oleh kakak-kakaknya.

Setelah genap tiga puluh hari Sang Ayah pergi, akhirnya hari kepulangan pun tiba. Tentu saja hal ini membuat semua putri-putri Raja gembira, tanpa kecuali Putri Kuning. Kedatangan Ayahnya ini memang sangat ditunggu-tunggu. Berbeda pada kesembilan kakaknya, yang menantikan hadiah, Putri Kuning justru merasa sangat rindu pada Ayahnya.

Tidak berbeda pada saat kepergian, maka keesokan harinya seluruh putri-putri raja sudah berhias diri dan mengenakan gaun indah sesuai dengan warnanya. Mereka bersiap menyambut kedatangan Ayahnya. Begitu pula dengan seluruh penghuni Istana, jauh-jauh hari mereka sudah mempersiapkan segala sesuatu demi menyambut Raja mereka. Kesembilan putri raja sudah bersiap menyambut kedatangan Raja di depan Istana. Tapi Putri Kuning belum nampak. Lalu Putri Jambon si kakak sulung membisikkan sesuatu pada Putri Biru.

Setelah itu tampak Putri Biru keluar dari barisan menuju tangga Istana.

Tok…tok…tok. “Kuning…kuning…buka pintunya,”terdengar suara Putri Biru.

Tak lama kemudian pintu terbuka.

“Cepat turun, Ayah sudah sampai di perbatasan, sebentar lagi tiba,”perintah Putri Biru. “Oh…ya, jangan menceritakan apa-apa kepada Ayah. Kalau sampai Ayah tahu, maka kau rasakan akibatnya,”ancam Putri Biru.

Karena merasa diancam, Putri Kuning menuruti perintah Putri Biru dan bergabung bersama kakak-kakaknya yang lain.

Setibanya di Istana, Raja meminta putri-putrinya untuk berkumpul di ruang tempat biasa berkumpul. Seperti biasa putri-putrinya sudah siap duduk di tempat masing-masing dan siap menerima hadiah pesanan mereka.

“Ayah, apakah Ayah membawakan pesananku ?”tanya Putri Jambon tidak sabar. “Ya…Ayah, apakah pesananku juga ada ?”tanya yang lain bersahutan.

Sang Ayah lalu memerintahkan Pelayan Istana untuk mengambil koper miliknya.  Dan atas perintah Raja pula, Pelayan itu mengeluarkan benda-benda dari dalam koper. Melihat begitu banyak hadiah yang dibawa, mata putri-putri raja terbelalak dibuatnya.

“Oh…Ayah, aku hampir tak percaya, semua seperti mimpi,”seru Putri Jambon. “Semua hadiah ini begitu indah,”timpal Putri Orange riang.

Tak lama kemudian Raja memberikan hadiah kepada putri-putrinya berdasarkan  pesanan  masing-masing. Pada saat kesembilan kakaknya sibuk dengan hadiahnya, Putri Kuning mencari kesempatan untuk bicara pada Ayahnya.

“Selamat datang kembali di Istana Ayah,”kata Putri Kuning. Syukurlah Ayah telah kembali dengan selamat,”lanjutnya lagi. “Terimakasih putriku,”balas Raja. Maafkan Ayah. Ayah tidak menemukan hadiah yang pantas buatmu. Ayah hanya membawakan kalung ini untukmu,”ujar Raja. “Terimakasih Ayah. Melihat Ayah kembali dalam keadaan selamat sudah membuat aku bahagia,”ucap Putri Kuning.

Putri Kuning lalu menerima kalung pemberian Ayahnya dengan suka cita. Sebelum Raja meninggalkan ruangan itu, Raja kembali berkata,“Wahai putri-putriku, besok malam kita adakan jamuan makan bersama. Untuk acara itu, Ayah minta kenakanlah hadiah kalian masing-masing,”perintah Raja pada putri-putrinya.

Keesokan harinya, Raja menggelar acara jamuan makan bersama. Acara ini bukan hanya untuk kalangan keluarga saja. Beberapa penghuni Istana juga diundang. Maksud dari diselenggarakannya acara jamuan ini adalah untuk lebih mengakrabkan putri-putrinya dengan seluruh penghuni Istana. Raja paham betul, bahwa dirinya tidak boleh melakukan acara sekehendak hatinya. Raja tidak mau terus menerus berpesta pora sementara masih banyak rakyatnya yang hidup susah. Raja selalu berpikir ulang bila ingin melakukan sesuatu. Akan tetapi kali ini, setelah beberapa tahun Istana tidak pernah lagi menggelar acara jamuan, diadakanlah acara tersebut.

Seperti yang sudah diperintahkan oleh Raja kepada putri-putrinya,  dalam acara tersebut semua putri Raja mengenakan hadiah pemberian Ayahnya. Begitu pula dengan Putri Kuning, dia memakai gaun berwarna kuning dan kalung pemberian Ayahnya. Hanya saja ada yang berbeda pada kalung itu. Bandul yang terdapat pada kalung tersebut berwarna hijau, bukan berwarna kuning seperti namanya. Hal ini pasti akan menjadi pertanyaan para tamu yang hadir nanti, demikian pula dengan Putri Hijau. Bukankah sebenarnya kalung itu diberikan kepada Putri Hijau ?

Kepolosan Putri Kuning ditambah lagi rasa hormat pada Ayahnya membuat dia tidak ragu-ragu memakai kalung itu. Lagipula tidak ada yang salah dengan kalung tersebut. Kalaupun bandulnya berwarna hijau lantaran Ayah tidak menemukan bandul berwarna kuning. Baginya kalung itu adalah pemberian dari Ayah tanpa dia harus memintanya. Tidak seperti kakak-kakaknya yang lain, Putri Kuning tidak mau merepotkan tugas kerajaan Sang Ayah. Karena dia tahu betul, bahwa Ayahnya pergi bukan untuk senang-senang tapi menjalankan tugas kerajaan. Tugas Ayah sebagai seorang Raja sangat berat, di pundak Ayah semua beban dan tanggung jawab rakyat berada.

Sebagai seorang anak, dia merasa harus membantu tugas Ayahnya tersebut meskipun Putri Kuning  tahu bahwa dirinya tidak berhak atas tahta Sang Ayah. Kakak Sulungnyalah yang lebih berhak atas tahta kerajaan jika Sang Ayah nanti mangkat. Namun walau bagaimanapun dia juga merupakan bagian dari kerajaan ini.  Pemikiran Putri Kuning sungguh luar biasa, jauh berbeda dengan kakak-kakaknya. Sementara mereka lebih senang bermain, bersenda gurau dan bersolek  Putri Kuning justru sudah memikirkan masa depan kerajaannya. Bagaimana menyejahterakan rakyat dan menjaga sikap agar dapat adil serta bijaksana. Diam-diam semua dipelajarinya, mulai dari kitab-kitab milik Ayahnya atau banyak bertanya pada beberapa punggawa Istana.

Acara jamuan sebentar lagi dimulai, para undangan sudah berdatangan. Seperti biasa, kakak-kakak Putri Kuning juga sudah hadir di ruangan tempat acara jamuan digelar. Akan tetapi, Putri Kuning belum nampak hadir di antara mereka. Kemanakah gerangan Putri Kuning ? Menyadari bahwa Putri Kuning belum hadir,  mereka lalu saling berbisik. Sampai pada akhirnya, semua mata tertuju pada tangga Istana nan megah itu.  Di atas tangga, mereka melihat Putri Kuning sedang menuruni anak tangga setahap demi setahap. Mereka terkesiap melihat kecantikan Putri Kuning yang terlihat anggun dengan busana berwarna kuning dan tak ketinggalan pula kalung pemberian Sang Ayah.

Sayangnya tidak semua mata yang memandang merasakan kebahagiaan, mereka adalah kesembilan kakak Putri Kuning. Perasaan iri dan dengki mulai bergelayut dalam hati kesembilan kakaknya. Bukan apa-apa, Putri Kuning yang merupakan adik bungsu mereka sudah berhasil menarik perhatian tamu-tamu. Padahal kakak-kakaknya sudah berusaha untuk tampil secantik mungkin.

Belum lagi mata mereka beralih pandang dari Putri Kuning, terdengar suara dari petugas Istana. Petugas Istana mengumumkan pada para tamu untuk berdiri sejenak, karena Raja akan tiba di tempat jamuan. Tak lama kemudian, Raja sudah berada di tempat dan menduduki singgasananya. Petugas Istanapun mempersilakan para tamu untuk duduk kembali. Demikian pula dengan putri-putri Raja, mereka sudah menempati tempat duduknya masing-masing. Setelah Raja memberikan sedikit kata pembuka, acara dilanjutkan dengan mencicipi makanan.

Pada saat inilah, Putri Hijau melihat kalung yang dikenakan oleh Putri Kuning.

“Loh…kenapa Putri Kuning memakai kalung berwarna hijau ?”tanyanya dalam hati. Bukankah seharusnya kalung itu jadi milikku ? Awas ya ! Kalau besok dia tidak memberikannya padaku, rasakan akibatnya !”ancam Putri Hijau masih dalam hati.

Benar saja, keesokan harinya Putri Hijau yang sudah menghasut saudara lainnya menemui Putri Kuning di kamarnya.

“Hei…Kuning, mengapa engkau memakai kalung yang bukan milikmu ? Bukankah kalung itu sepantasnya menjadi milikku. Kalung bandul hijau itu tidak pantas jadi milikmu ! Sini…kembalikan padaku,”suara Putri Hijau terdengar sangat keras.  

“Jangan…jangan…kalung itu pemberian dari Ayah,”ucap Putri Kuning mulai menangis. 

Tidak ! Kamu pasti mencurinya dari saku Ayah. Ayo, cepat kembalikan !”Putri Hijau kembali memaksa.

Putri Kuning berusaha untuk mempertahankan kalungnya. Sedangkan Putri Hijau ingin merampasnya. Perkelahianpun tak dapat terelakkan lagi.

Amat disayangkan perkelahian itu tidak berimbang. Putri Kuning kewalahan menghadapi kakak-kakaknya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka memukul kepala Putri Kuning. Dan Putri Kuning terjatuh. Pingsan. Perkelahian terhenti. Putri Jingga memeriksa Putri Kuning yang sudah mengeluarkan darah dari belakang kepalanya.

“Astaga ! Dia sudah mati !”teriak Putri Jingga histeris.  Saudara-saudara yang lain pun ikut kaget.

“Kita harus menguburnya,”seru Putri Jambon.

Lalu, mereka bersama-sama mengangkat tubuh Putri Kuning yang sudah tidak bernyawa lagi. Dengan dipenuhi rasa takut mereka mengubur Putri Kuning di kebun belakang Istana.

Beberapa hari kemudian, Raja merasa bahwa beliau tidak melihat Putri Kuning. Raja segera memanggil putri-putrinya yang lain. Satu persatu mereka ditanya kemana Putri Kuning. Semua putri-putrinya hanya bisa menggeleng dan diam seribu bahasa. Karena semua putrinya tidak mengetahui, maka dipanggillah Pengasuh Istana dan seluruh penghuni Istana. Merekapun semua ditanya tentang keberadaan Putri Kuning. Sayang sungguh sayang, mereka semua menjawab tidak  tahu ke mana Putri Kuning. Akhirnya Raja memerintahkan Pengawal Istana untuk mencari Putri Kuning, bahkan sampai ke pelosok negri sekalipun. Namun hasil pencarian itu sia-sia. Putri Kuning juga tidak diketemukan.

Raja sangat sedih kehilangan Putri Kuning, putri kesayangannya.

“Ah…aku ini Ayah yang buruk. Aku tidak bisa mendidik putri-putriku tentang budi pekerti yang luhur. Bukan hanya itu. Aku juga tidak bisa melindungi putri kesayanganku. Kuning…kuning, maafkan Ayah Nak,”ujar Raja penuh penyesalan.

Akhirnya Raja mengirim kesembilan putrinya ke negri yang jauh, untuk belajar budi pekerti dan akhlak yang baik. Raja berharap dengan begitu mereka bisa belajar kemandirian, tidak malas dan tidak manja. Ini adalah jalan terakhir, meskipun dengan berat hati Raja harus melakukannya. Raja ingin supaya kelak jika dia mangkat maka Putri Sulung bisa menjadi Ratu yang adil seperti dirinya. Karena sejak Putri Kuning menghilang, Raja tidak memiliki pilihan lain kecuali mendidik kesembilan putrinya untuk berlaku baik.

Semenjak kepergian putri-putrinya Raja merasa sangat kesepian. Hingga pada suatu sore, Raja sedang berjalan-jalan di taman belakang Istana. Taman yang penuh bunga-bunga ini mengingatkan dirinya pada Putri Kuning. Ya, hanya Putri Kuninglah yang rajin merawat taman ini. Tiba-tiba langkah Raja terhenti, tatkala pandangannya melihat sebuah pohon bunga. Pohon bunga itu memiliki batang yang banyak, daunnya kecil-kecil dan bunganya berwarna putih. Bunganya juga kecil-kecil. Raja semakin penasaran dengan tanaman tersebut. Maka Raja mendekatinya, lalu memetik sekuntum bunga itu. Diciumnya dan…

“Hmmm…aroma bunga ini sepertinya tak asing lagi bagiku,”gumam Raja. Ah…untuk kesekian kalinya Raja teringat pada Putri Bungsunya, Putri Kuning. “Tapi…siapa yang menanam bunga ini ?”tanya Raja masih dalam hati.

Saat itu juga Raja memanggil tukang kebun Istana dan menanyakan apakah dia yang menanam bunga ini. Tukang kebun Istana menggeleng, artinya bukan dia yang menanamnya. Akhirnya Raja menamakan bunga itu Kemuning dan memerintahkan tukang kebun untuk merawatnya. Ya, tanpa sepengetahuan Raja, bahwa tanah tempat bunga Kemuning itu tumbuh adalah tempat jasad di mana Putri Kuning dikubur oleh kakak-kakaknya. Sampai saat ini, Bunga Kemuning masih banyak dijumpai, beberapa bagian pohonnya sangat berguna, sebut saja bisa untuk bahan pembuat bedak, minyak wangi, minyak rambut dan lain sebagainya. Semua ini menandakan betapa mulianya sifat dan sikap Putri Kuning. Bahkan sampai Putri Kuning sudah meninggalpun, segala kebaikannya masih dikenang oleh orang banyak.

T A M A T

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s