Pajak Untuk Ditaati Bukan Ditakuti

pajak

Gambar pinjam dari sini

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pajak masih menjadi momok yang menakutkan. Oleh sebab itu tidak heran jika sampai sekarang masih banyak masyarakat Indonesia yang menghindar dari pajak. Berinteraksi dengan pajak sama saja dengan mencari kesulitan, jadi sebisa mungkin dihindari. Untuk kasus seperti ini saya mencontohkan diri saya sendiri, sampai sekarang saya masih belum mempunyai NPWP alias Nomor Pokok Wajib Pajak. Padahal sebagai seorang penulis yang kadang menang dalam lomba, sejatinya saya memiliki NPWP untuk pemotongan pajak hadiah. Kalau ditanya mengapa sampai sekarang saya belum mempunyai NPWP jawabnya cuma satu : males lapornya karena ngisinya ribet.

Namun jauh di dalam lubuk hati, saya sadar bahwa pajak banyak mempengaruhi perkembangan pembangunan di Indonesia. Lihat saja, pembenahan dalam hal pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan lain sebagainya. Semua perubahan itu sebagian besar dibiayai oleh pajak yang disetorkan oleh wajib pajak. Melihat perubahan pembangunan yang begitu pesat, apakah saya masih menutup mata ? Atau bahkan tidak percaya bahwa semua itu karena sumbangsih dari pajak ? Jadi, alasan apalagi yang mau dipakai sekedar untuk berkelit menghindari pajak, laporannya kah ? Ho…ho…ho…kayaknya ini juga sudah nggak bisa dijadikan alasan deh, soalnya sekarang banyak jasa konsultan pajak yang bisa membantu membuat laporannya.

Salah satunya adalah Zeti Arina, konsultan pajak yang berdomisili di Surabaya ini bukan saja membantu klien dalam menghitung dan membuat laporannya. Ada hal penting yang dilakukan oleh Zeti Arina sebagai konsultan pajak, yaitu mengedukasi masyarakat untuk paham pajak. Seperti yang sudah saya gambarkan di atas, bahwa pajak masih dianggap sesuatu yang menakutkan. Kehadiran Zeti Arina sebagai konsultan pajak juga bukan untuk mengajarkan para wajib pajak melakukan kecurangan. Sebagai CEO dari Artha Raya Consultant, Zeti Arina ingin mengedukasi wajib pajak agar dapat menghitung pajak seefisien mungkin. Tidak merugikan wajib pajak dan juga tidak menguntungkan. Semua dilakukan berdasarkan pada hukum perpajakan yang sudah diatur oleh Pemerintah.

zeti

Zeti Arina ( berdiri no 3 dari kiri ) bersama staff gambar dari sini

Jadi jangan anggap bahwa tugas konsultan pajak itu bisa diajak kompromi–baca : sogok atas pembayaran pajak. Pemikiran seperti itu salah besar, Zeti Arina menegaskan bahwa profesi yang diembannya adalah untuk meluruskan anggapan miring tentang pajak dan konsultan pajak. Apabila Anda memiliki seputar pertanyaan tentang pajak, Zeti Arina dengan senang hati akan menjawabnya, karena itu merupakan bagian dari edukasinya. Mendekatkan masyarakat pada pajak adalah keinginan terbesar dari seorang Zeti Arina. Rasanya di jaman sekarang ini, masyarakat Indonesia sudah banyak yang tahu tentang pajak, hanya saja belum maksimal dalam menerapkannya. Nah, tunggu apa lagi segera laporkan pajak karena pajak untuk ditaati bukan ditakuti !

Filosofi Kembang Goyang

kembang goyang


Gambar milik keju moo


“Bikin kue apa bu ?”tanyaku pada Ibu yang berada di dapur.

“Ini, kue Kembang Goyang,”jawab Ibuku lembut.

“Ko kue itu lagi, kue itu lagi, yang laen kek,”kataku jutek.

“Kayak orang-orang dong. Kalau lebaran bikinnya Bolu, Black Forest, Nastar,”sungutku lagi.

“Kembang Goyang kan kue kampung,”tegasku sambil meninggalkan Ibu yang tergugu.

Ibu pun meneruskan menggoreng kue Kembang Goyangnya. Sore menjelang, beberapa jam lagi waktu berbuka tiba, karena Ibu sibuk dengan Kembang Goyangnya, maka saya yang menyiapkan makanan untuk berbuka. Setelah selesai berbuka, Ibu berkata padaku,”Mbak, ntar pulang taraweh tolong anterin kue Kembang Goyang pada Bu Slamet ya.” Dengan malas-malasan saya mengangguk. Sebenarnya saya nggak mau mengantarkan kue Kembang Goyang itu. Alasannya satu, malu. Bayangkan, dari tahun ke tahun Ibu selalu mengirimkan kue yang sama, Kembang Goyang.

Percakapan dua puluh lima tahun yang lalu, tapi masih hangat tersimpan dalam hati…

Rasanya masih begitu melekat saat Ibu tiada, begitu banyak tetangga yang datang melayat. Dan yang paling terasa buat mereka saat lebaran tiba. Para tetangga berkata,”Yaaa…nggak ada yang nganterin Kembang Goyang lagi nih.”

“Iya, Kembang Goyang buatan Bu Parno enak, gurih dan renyah,”sahut Bu Tinah.

Ya, mereka semua adalah tetangga Ibu. Mereka semua merasa kehilangan Ibu, terutama saat lebaran. Karena cuma Ibu satu-satunya di kampung yang bisa membuat Kembang Goyang. Itu karena Ibu orangnya telaten. Membuat Kembang Goyang itu rumit, Kembang Goyang digoreng satu persatu dengan cetakan khusus berbentuk kelopak bunga. Kata Ibu, minyaknya juga harus sedang, nggak boleh kepanasan tapi juga jangan dingin. Padahal jaman Ibu dulu, belum ada kompor gas seperti sekarang ini. Kompor yang Ibu pake masih kompor minyak tanah.

Waktu saya bilang bosen dengan kue Kembang Goyang, Ibu bilang bahwa Kembang Goyangnya bisa dicampur dengan kacang tanah, wijen atau keju. Terserah mau pake apa, kalau pake coklat, disiram setelah Kembang Goyangnya dingin. Begitu pesan Ibu. Saat itu apa yang Ibu katakan belum sempat dipraktekkan, karena Ibu keburu jatuh sakit. Bapak tidak membolehkan Ibu membuat kue lagi. Takut kecapekan. Lalu, sebelum Ibu tiada beliau juga pernah bilang kalau saya harus bisa membuat Kembang Goyang. Resep yang Ibu punya adalah resep turun temurun dari buyut saya. Duh, pesannya ko berat amat yak !

Chedar 1

Lima tahun setelah Ibu tiada, saya mencoba untuk membuat kue Kembang Goyang. Benar dugaan saya, ternyata bikin Kembang Goyang itu sangat rumit. Nggak seperti bikin kue Bolu atau kue modern lainnya yang tinggal kocok dengan mixer lalu panggang. Butuh ketelatenan, ketekunan dan…kesabaran. Sayapun menangis, tersedu sambil menatap adonan kue Kembang Goyang. Entah kenapa tiba-tiba saja hadir wajah Ibu begitu jelas, sambil tersenyum Ibu berkata,”Kamu pasti bisa Nak.” Setelah itu wajah Ibupun menghilang.

Beberapa saat saya termenung, ternyata Ibu meninggalkan wasiat yang sangat berharga. Bukan Kembang Goyangnya, bukan. Tapi filosofi nya itu loh ! Seperti yang saya alami di atas, butuh ketelatenan, ketekunan dan kesabaran untuk membuat Kue Kembang Goyang. Begitulah filosofinya, hidup memang seperti itu. Jika ingin berhasil dan sukses maka kuncinya ke tiga hal tersebut. Dengan membuat Kembang Goyang berarti melatih diri untuk meraih ke tiga kunci tadi. “Ah…Ibu maafkan aku,”ujarku lirih, sambil mengusap air mata dengan punggung tangan.

Ramadan 1436 Hijriah…

Sore ini, setelah mengingat masa lalu sayapun meluncur ke website keju moo. Tujuan saya satu, mencari resep Kembang Goyang dengan variasi Keju Kraft. Alhamdulilah, dalam waktu singkat saya sudah menemukan resep yang saya cari. Setelah tempaan hidup selama puluhan tahun serta bimbingan dari seorang Ibu yang telaten, saya merasa sudah siap untuk membuat Kembang Goyang. Kembang Goyang yang belum pernah Ibu coba praktekkan dengan variasi keju. Ibu, kali ini saya tidak akan mengecewakan Ibu. Meski Ibu tidak akan pernah mencicipi Kembang Goyang buatan saya, tapi Ibu pasti bangga. Ibu tidak sekedar mewariskan resep Kembang Goyang tapi juga filosofi hidup. Tekad saya, menjelang lebaran nanti saya akan membuat kue Kembang Goyang versi Keju Kraft. Semoga saja Kembang Goyang Keju Kraft akan memberikan saya filosofi hidup yang baru agar saya lebih bersyukur menapaki hidup. Saya akan buktikan kalau Kembang Goyang tidak kalah enaknya dengan kue-kue modern lainnya. Terimakasih Ibu, do’a ku selalu untuk mu…

Chedar

Tetangga Ko Gitu Sih ?

Chedar 1
Saya melihat Bimo tergolek lesu di sofa, sepulang dia dari sekolah. Tidak seperti biasanya, kali ini Bimo seperti memendam kesal atau mungkin juga marah. Baru kali ini saya melihat dia begitu kesal, padahal itu bukanlah sifatnya. Saya belum berani bertanya, karena percuma saja, paling jawabannya “nggak tau”. Saya hapal betul sifatnya Bimo, malas bicara, ditanya aja belum tentu mau menjawab apalagi tidak ditanya. Lalu saya menyuruhnya untuk berganti pakaian, cuci tangan dan makan. Setelah makan Bimo langsung menyalakan televisi, mencari acara kesukaannya dan duduk manis. Diam.

Ini juga bukan kebiasaannya, karena sehabis pulang sekolah dan makan Bimo selalu membaca buku atau bermain dengan adiknya. Tingkah Bimo ini semakin membuat saya penasaran. Daripada terus menerus penasaran, akhirnya sayapun memberanikan diri bertanya.

”Ada apa ? Dari tadi ko mukanya kusut sih ?”tanyaku sambil bergaya anak seusianya.

“Cerita dong,”pintaku. Masih diam. Namun beberapa menit kemudian…

“Aku kesel, nyebelin banget, anak baru aja belagu,”omelnya.

Ho…ho…ho…Bimo marah. Ada apakah gerangan ? Mengapa Bimo marah, padahal dia itu anak paling kalem sedunia, eh salah ding segang rumah.

Tak berapa lama kemudian…

“Tadi di sekolah ada anak baru, pindahan dari sekolah lain. Mentang-mentang anak baru, semua teman-temanku pada ngerubutin dia terus. Tanya inilah, tanya itulah,”cerocosnya lagi. “Aku kan kesel, Dirga aja sampe nggak mau main sama aku, maunya main sama anak baru itu.”

Diam. Saya menoleh sejenak dari pakaian yang sedang kurapikan. Melihat ke wajahnya. Dan…sedikit berkaca-kaca. Ah, kali ini Bimo emang lagi serius. Padahal banyak sekali pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya. Misalnya pindahan dari mana dan siapa namanya. Tapi semua ku urungkan. Untuk mencairkan suasana hatinya, saya pun mulai bercerita. Kebetulan memang ada yang ingin ku sampaikan padanya.

“Oh iya, tadi pagi ada tetangga baru loh. Dia baru pindah dari Tangerang,”kataku.

Nggak ada reaksi.

Akhirnya Bimo masuk ke dalam kamar tanpa suara dan tanpa bicara apa-apa lagi. Lima belas menit berlalu, sampai akhirnya saya mendengar suara bel. Kontan membuat saya kaget, lalu berjalan ke pintu depan memastikan siapa yang datang.

“Assalamua’laikum…,”ucapan salam dari seorang ibu.

“Wa’alaikumsalam…,”balasku.

“Ibu, perkenalkan saya tetangga baru yang tadi pagi pindahan,”katanya memperkenalkan diri.

“Oooo…mari silakan masuk,”kataku selanjutnya.

Sayapun mempersilakan si Ibu itu duduk.

“Ini anak saya, namanya Anissa,”lanjut si Ibu memperkenalkan seorang gadis kecil yang cantik itu.

Tak berapa lama, sang anakpun berdiri dan menyalami saya. Duh, gadis kecil yang cantik dan sopan. Wah, Bimo pasti senang nih kalau dikasih tau ada tetangga baru datang ke sini. Mudah-mudahan gadis cantik ini mau jadi temannya Bimo dan bisa diajak bermain. Apalagi sekarang Bimo sedang kesal karena merasa tersisih sama teman barunya di sekolah.

“Ini, saya buat spaghetti buat Tante,”terdengar suara si gadis sambil memberikan mangkuk berisi spaghetti.

“Wah…ko repot-repot sih, terimakasih ya Nak,”balasku sambil menerima mangkuk dari tangannya.

“Oh ya Tante, itu aku sendiri loh yang bikin,”ujar si gadis. Resepnya dari Mama,”lanjutnya.

“Pasti enak nih, baunya aja sudah enak,”timpalku. “Bimo pasti suka, dia paling suka spaghetti.”

“Sebentar ya Tante panggilin Bimo dulu,”ujarku.”

Sayapun beranjak pergi memanggil Bimo yang berada di kamar, semoga saja dia tidak tidur. Tak berapa lama, saya sudah berjalan beriringan dengan Bimo menuju ruang tamu. Setelah kami mendekat, mata Bimo terbelalak, melihat tamunya. Dan, si gadis itupun terbelalak. Melihat pemandangan ini, saya jadi ikut-ikutan bengong. Ada apa gerangan ? Apakah mereka sudah saling kenal ?

“Bimo ?”tanya si gadis terkejut. “Anissa, kamu ko ada di sini,”tanya Bimo sedikit ketus.

Aha, saya tau…saya tau, ternyata mereka sekelas. Dan anak baru yang tadi diceritakan oleh Bimo pasti Anissa. Bukan itu saja, Anissa adalah anak baru yang bikin Bimo kesal. Loh…ko jadi runyam begini yak,”kataku dalam hati.

“Jadi kalian sudah saling kenal,”suaraku memecahkan ketegangan di antara mereka.

Merekapun mengangguk.

“Kalau kalian sudah saling kenal, sekarang bisa jadi temenan dong,”ujarku.

“Bimo, ini tadi Anissa bawa spaghetti kesukaan kamu, sekarang ajak deh Anissa makan,”pintaku pada Bimo.

Tanpa ada pertanyaan, mereka pergi ke meja makan untuk menikmati spaghetti buatan Anissa. Setelah perkenalan itu, Anissa dan ibunya pamit pulang.

“Gimana ? Enak nggak spaghettinya,”tanyaku pada Bimo, setelah mereka pergi.

“He…eh…,”jawab Bimo singkat dan…malu-malu.

“Ada Kejunya,”sahut Bimo lagi.

“Hah ? Ada kejunya ? Kamu kan nggak suka keju,”tanyaku kaget.

“Kata Anissa, ini Keju Kraft, beda sama keju yang lain. Rasanya empuk dan gurih. Gizinya sama seperti minum susu,”terang Bimo panjang lebar.

“Kayaknya aku suka deh…,”suara Bimo perlahan.

Sayapun melirik ke arah Bimo, melihat wajahnya. Kali ini saya tidak melihat matanya berkaca-kaca tapi sebaliknya berbinar.

“Eh…kamu suka sama apa ? Sama Keju Kraft atau samaaaaaa….,”godaku.

“Sama Keju Kraft dong !”suara Bimo terdengar lantang.

Saya hanya bisa tersenyum melihat Bimo bisa ceria lagi. Kesimpulan saya, Keju Kraft bisa membuat orang pemarah jadi pemaaf. Rasa Keju Kraft yang gurih seperti gurihnya persahabatan Bimo dan Anissa. Ah, dasar abege.

Chedar

Hafiza Elvira Nofitariani, Perjuangan Mengangkat Derajat Kaum Kusta

sitanala 13


Perjalanan hari kemarin cukup lancar, bus yang saya tumpangi juga tidak nampak sesak. Pukul 8 lewat 40 menit saya sudah sampai di tempat tujuan, lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Hari ini saya memang ingin bertemu dengan seorang perempuan pejuang tangguh. Tempat yang dijadikan untuk bertemu masih terlihat sepi, hanya ada beberapa sepeda terparkir di sana. Saya mengira tadinya tempat untuk bertemu itu adalah sebuah rumah makan mewah atau café berhawa sejuk. Tapi dugaan saya meleset, untuk mencapai tempat tersebut saja cukup sulit dan jauh. Beruntung saya bertemu seorang petugas keamanan yang mau mengantar sampai ke tempat tujuan. Jika berjalan kaki mungkin bisa ditempuh sekitar 30 menit, tapi bisa lebih kalau saya yang melakukannya.

Bertempat di sebuah halaman teras Masjid, di situlah mereka berkumpul dan melakukan berbagai kegiatan. Satu per satu mereka berdatangan, sambil melempar senyum kecil pada saya. Karena belum kenal, sayapun enggan untuk bertanya, sampai pada akhirnya seorang perempuan cantik, berkulit bersih turun dari becak. Dari kejauhan perempuan berhijab ini melempar senyum pada saya setelah dekat dia mengulurkan tangan. “Bu Ety ya…,”sapanya ramah. Saya mengangguk. ”Mbak Hafiza ?”tanyaku balik. Kedatangan Hafiza disambut antusias oleh ibu-ibu yang hadir.

Akhirnya kamipun bertemu, Hafiza—sapaan akrab perempuan yang lahir pada tanggal 22 September 1990 memperkenalkan saya kepada ibu-ibu lain. Merekapun datang menghampiri saya sambil mengulurkan tangan bersalaman. Setelah semuanya bersalaman, kami duduk di teras Masjib berlantai keramik putih tanpa alas apalagi karpet. Terbersit dalam hati, ada sesuatu yang aneh pada diri mereka saat bersalaman dengan saya tadi. Setelah saya perhatikan kembali ternyata jari jemari mereka sudah tidak utuh lagi. Ada apa dengan mereka ? Mengapa jari jemari mereka tidak utuh, bahkan ada juga yang memakai kaki palsu ? Beberapa pertanyaan mulai berseliweran di dalam benak saya, sampai akhirnya Hafiza membuka pertemuan itu dengan do’a bersama.

Sekilas Tentang Penyakit Kusta

Seingat saya, orang yang jari jemarinya tidak utuh karena terlepas atau bahkan sampai kakinya harus diamputasi, tidak lain mereka adalah penderita Kusta. Penyakit yang diakibatkan oleh sejenis bakteri bernama Mycrobacterium Leprae ini menyerang kulit, saraf tepi dan jaringan lain kecuali otak. Penyakit yang sering dianggap sebagai penyakit kutukan ini menimbulkan masalah sangat kompleks. Masalah yang timbul kemudian bukan hanya dari segi medis saja, tetapi meluas sampai pada masalah sosial, ekonomi, budaya hingga keamanan.

Bahkan masih banyak stigma negative yang muncul pada masyarakat, bahwa mereka takut tertular apabila bersentuhan dengan penderita kusta. Sebenarnya stigma negative itu tidak seluruhnya benar, penyakit kusta memang penyakit menular tapi penularannya tidak mudah. Amat sangat disayangkan bahwa Indonesia berada diurutan ke tiga Negara yang terpapar kusta, setelah India dan Brazil. Penyebab utama dari penyakit ini karena populasi kustanya masih ada. Selagi populasi kusta masih ada, maka akan berpotensi menularkan pada yang lainnya. Sampai sejauh ini sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena pengobatannya semakin canggih. Yang terpenting jaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan makan makanan bergizi, maka tidak perlu takut bergaul dengan penderita kusta.

Kembali pada permasalahan seperti tersebut di atas, akhirnya timbul sikap diskriminasi atau pengucilan terhadap penderita kusta. Hal ini terbukti dengan adanya Kampung Kusta Sitanala yang berlokasi di wilayah Tangerang. Menempati tanah kosong di belakang RS Kusta Sitanala, mereka membentuk kelompok sendiri. Keberadaan kampung kusta ini bukan tanpa sebab, penderita kusta yang sudah dinyatakan sembuh tidak mau kembali pada keluarganya. Penyebabnya yaitu keluarganya takut akan tertular padahal mereka sudah sembuh.

Begitupula dengan masyarakat lainnya, kebanyakan masyarakat tidak mau bergaul atau berinteraksi dengan mantan penderita hanya karena takut tertular. Oleh sebab itu daripada mereka nantinya diusir, maka mereka lebih memilih pergi dan berkumpul dengan mantan penderita lainnya. Ya, sepintas saya juga melihat bahwa masyarakat lebih takut menerima mantan penderita kusta daripada mantan napi. Sungguh sebuah fenomena yang membuat ironis setiap manusia.

Perjuangan Tanpa Lelah

Masalah yang sangat kompleks tersebut bukan tidak bisa diatasi, hanya saja dibutuhkan ekstra pemikiran untuk memecahkannya. Adalah lima orang mahasiswa berprestasi Universitas Indonesia, berusaha untuk merangkul mantan penderita kusta tersebut. Hafiza Elvira Nofitariani bersama empat teman lainnya mencoba meyakinkan para mantan penderita agar mau diajak untuk bangkit. Sebagai langkah awal Hafiza mengajak mantan penderita kusta yang kemudian dikenal dengan sebutan OYPMK ( Orang Yang Pernah Menderita Kusta ) mengadakan pelatihan rutin tiap minggu. Pelatihan yang diadakan berupa membuat jilbab bermanik beserta aksesoriesnya. Sebuah awal yang cukup berat, karena OYPMK sudah lama mengalami pengucilan ditambah lagi beban hidup.

sitanala 7


Hasil karya OYPMK sh dijual online, beli yuk !

Para mahasiswa itu berbaur langsung dengan OYPMK, karena memang begitulah seharusnya. Dengan begitu OYPMK tidak merasa dikucilkan bahkan merasa diakui keberadaannya. Hafiza melihat usia OYPMK ini masih tergolong usia produktif dan sangat membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup sehari-hari. Selama ini OYPMK hanya bisa melakukan pekerjaan tidak layak, seperti penarik becak, pemulung sampah atau tidak sedikit yang menjadi pengemis.

sitanala 1


Saya berbagi motivasi dengan OYPMK

Dipandang dari sudut kacamata manusia, rasanya apa yang diterima oleh OYPMK sangat tidak pantas bahkan jauh dari kepantasan. Mereka juga manusia yang memiliki hak hidup lebih layak dan lebih baik. Jauh dari sekedar pantas, mereka juga punya hak, harga diri dan derajat yang sama di mata Allah. Saya benar-benar takjub dengan pandangan Hafiza dan teman-temannya ini. Bangga dan haru menyeruak dalam sanubari saya, ternyata saat ini masih ada akademisi yang peduli terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Mereka berani berbuat sementara masyarakat banyak yang mengucilkan OYPMK. Nampaknya secercah harapan mulai muncul di sudut Kampung Kusta Sitanala.

sitanala 12


Salah seorang ibu dengan kaki palsu

Harapan itu Selalu Ada

Melihat semangat yang dipancarkan oleh OYPMK, Hafiza akhirnya mendirikan Nalacity Foundation pada tahun 2011. Nalacity Foundation merupakan sebuah proyek sosial yang fokus pada program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan skill/keterampilan. Namun seiring berjalannya waktu, Nalacity Foundation tidak hanya fokus pada pemberdayaan semata. Hampir seluruh masalah yang dihadapi oleh OYPMK ditangani oleh Nalacity.

Seperti yang saya saksikan sendiri kemarin, pada saat pertemuan rutin setiap seminggu sekali, Hafiza dengan penuh kesabaran mendengarkan keluh kesah dari mereka. Dari mulai biaya sekolah, kesehatan bahkan pemakaian kaki palsu. Bisa dibayangkan banyak sekali problem yang dipikul oleh Hafiza dengan Nalacitynya itu. Namun semua itu tidak melunturkan semangat dan kecantikan paras perempuan peraih penghargaan MBM Challenge kategori industri kreatif tahun 2012 lalu.

sitanala 14


Hafiza tanpa lelah mengedukasi OYPMK

Saya juga melihat, bahwa tidak ada batas sama sekali antara Hafiza dan ibu-ibu itu. Wajah Hafiza yang sudah berpeluh terus menebarkan senyum dan semangat, sama sekali tidak ada guratan takut tertular. Semua dilakoni dengan penuh rasa tanggung jawab disertai dengan solusi. Bagi Hafiza proyek sosial ini sudah merupakan amanah untuk mengangkat derajat kaum OYPMK. Derajat yang selama ini hilang karena sikap diskriminasi masyarakat.

Hafiza berharap bahwa pelatihan yang telah dilakukannya ini membawa dampak positif bagi OYPMK. Kaum OYPMK ini juga ingin merasakan kembali hidup normal layaknya masyarakat yang lain. Kehidupan yang mereka jalani sudah cukup sulit, ditambah lagi dengan status yang disandangnya sebagai OYPMK. Mereka sudah sangat lama merasakan tidak dihargai atas jerih payahnya dan dianggap sebagai manusia pembawa malapetaka.

sitanala 4

Mereka bukan hanya dikucilkan oleh masyarakat tapi juga oleh keluarganya sendiri. Mereka juga tidak bisa bekerja seperti orang normal lainnya, padahal mereka bisa melakukannya. Dan yang membuat mereka semakin terpuruk bahwa hasil olahan tangan mereka jarang ada yang berminat. Jangankan berminat, dilirik saja tidak. “Produknya siapa ? Apa ? Penderita kusta ? Ah…nggak jadi deh.” Kalimat-kalimat semacam itu sudah sering sekali mereka dengar.

sitanala 5


Semangat diskusi

Dalam pertemuan kemarin, setelah Hafiza memberikan penyuluhan tentang kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan kuis inetraktif. Kuis tersebut berisi pertanyaan tentang harapan, kemampuan yang dimiliki, hambatan dan kebutuhan para OYPMK. Saya sempat tergugu, melihat mereka menuliskan kuis interaktif dengan jari tidak utuh. Butuh waktu lama untuk mengukir satu huruf, tapi semua itu tetap mereka lakukan. Saya yang masih terus mengikuti kegiatan tersebut melihat betapa mereka juga ingin disejajarkan dengan lainnya. Mereka lupa dengan keterbatasan yang mereka miliki, ada canda, ada tawa.

sitanala 3


Tulisan salah seorang OYPMK

Ini kali pertama saya menghadiri pertemuan penuh makna setelah lima tahun terakhir. Bukan di resto mewah apalagi berhawa sejuk. Kesejukan itu saya rasakan di dalam dada, mirisnya mereka berada dekat dengan saya. Ya, Kampung Sitanala di Tangerang ini hanya berjarak 30 kilometer dari Jakarta, tempat saya tinggal. Tapi mengapa yang peduli dengan mereka hanya Hafiza ? Jawabnya mudah saja, karena Hafiza memiliki Citra Cantik Indonesia. Sebuah predikat yang lebih dari pantas untuk disandangnya. Wajah cantik Hafiza, didedikasikan untuk kaum OYPMK, padahal lebih pantas bila dia berada di atas panggung dalam ajang Putri Kecantikan. Tapi itu tidak dilakukannya, tumpukan ilmu, tangan terampilnya dan rasa solidaritas semua mencuat bila dia berada di antara kaum OYPMK. Semua yang dilakukannya semata untuk mengangkat derajat kaum OYPMK, yang tersisih, yang terbuang dan nyaris tanpa harapan.

sitanala


Saya ( berdiri paling kanan ) bersama OYPMK

Saya bukan cuma kagum pada Hafiza, tapi juga iri. Aura Citra Cantik Indonesia dimiliki oleh Hafiza seutuhnya; muda, cantik, berprestasi dan jiwa sosialnya semua melebur menjadi satu dalam dirinya. Tidak takut pada opini masyarakat yang telah mendiskriminasikan OYPMK, juga jauh dari patah semangat. Setiap hari Minggu Hafiza hadir merangkul, mengayomi, mendidik, mengajarkan, menebarkan semangat dan memecahkan masalah yang dihadapi oleh OYPMK.

sitanala 11


Hafiza ( berdiri paling kanan ) bersama OYPMK

Semoga saja masih ada perempuan lain di Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap mantan penderita kusta. Yang mau dan mampu mengangkat derajat mantan penderita kusta dengan pemberdayaan diri. Mereka juga tidak mau terus menerus hidup dari uluran tangan para donatur. Mereka ingin mandiri secara utuh, baik mental maupun ekonomi. Hafiza bukan sekedar perempuan inspirasi tapi juga pejuang yang tangguh. Harapannya perjuangan tanpa lelah Hafiza dan teman-temannya bisa membawa kaum OYPMK terangkat derajatnya.

@etybudiharjo

Untuk menjadi volunteer bisa menghubungi @Nalacity

Gaya Unik Arjuna Makan Mi Kering Tropicana Slim

Kali ini saya ingin menceritakan gaya Arjuna ketika makan mi untuk pertama kalinya…

“Kakaaaaak aku mau mi,”rengek Arjuna pada kakaknya.

“Nggak boleh. Pokoknya nggak boleh makan mi instan titik,”kata kakak.

Tak lama kemudian terdengar tangisan Arjuna. Aku yang sedang menyelesaikan tulisan langsung menghampiri dua kakak beradik itu.

“Ada apa sih Kak, ko ribut-ribut,”tegurku.

“Itu loh, Arjuna minta mi instan, kita kan nggak boleh makan mi instan,”terang Si Kakak.

“Oh…itu masalahnya, ya udah besok kita beli mi instan yang baik,”kataku akhirnya.

“Emang ada mi instan baik ?”tanya si Kakak penasaran.

Saya mengangguk, lalu meninggalkan kakak adik yang masih penasaran itu.

Ya, saya memang menerapkan aturan untuk tidak makan mi instan. Aturan ini berlaku buat seluruh anggota keluarga. Namun begitu saya tetap memberi kelonggaran boleh makan mi instan hanya satu bulan sekali saja. Tapi kali ini entah kenapa tiba-tiba Arjuna ( 4 tahun ) mau makan mi instan. Saya menduga Arjuna melihat temannya makan mi instan. Namanya juga anak-anak nggak bisa melihat temannya makan atau punya sesuatu.

Keesokan harinya saya menepati janji untuk membeli mi instan baik. Kata teman saya yang sudah lebih dulu mencoba mi instan ini, memang baik. Karena proses pembuatan mi instan ini bukan digoreng seperti mi instan lainnya. Proses pembuatan mi instan ini dengan cara dipanggang. Jadi kita nggak usah takut lagi makan mi instan, apalagi mi instan yang direbus. Biasanya kebanyakan orang yang makan mi instan air rebusannya dibuang, karena diduga mengandung lemak. Tapi untuk mi instan yang baru saya beli ini tidak perlu dibuang alias bisa dimakan.

“Arjunaaaaa, ini mi nya,”panggilku.

Tak berapa lama Arjuna datang, menghampiriku. Saya menyerahkan mangkuk berisi mi padanya. Dan beberapa menit kemudian Arjuna sudah melahap mi nya dengan gaya unik. Arjuna memang tidak pernah makan mi, jadi wajar saja kalau dia memiliki gaya makan mi yang unik. Dia meletakkan dua kursi plastik saling berhadapan, kursi yang satu diduduki sedangkan kursi lainnya untuk menaruh mangkuk mi. Lalu dia melahap minya itu dengan cara membungkuk, sambil kedua tangannya disangga pada lutunya, seperti gerakan ru’ku pada sholat. Waktu saya tanya kenapa dia makan mi nya begitu, dia langsung jawab karena mi nya kepanjangan. Setelah posisi membungkuk, dia menyedot mi tersebut sampai masuk ke dalam mulutnya dan dikunyahnya. Ah, ada-ada saja gaya unik Arjuna makan mi.

Tropicana Slim 7

“Itu mi baik ya ?”tanya si Kakak melihat adiknya makan mi dengan lahap.

Merknya apa sih ? Belinya di mana ?”tanya si Kakak bertubi-tubi.

Mi Kering Tropicana Slim,”terdengar suara Kakak membaca mi yang saya letakkan di atas meja.

“Oh…ini sih Kakak juga tau, Tropicana Slim kan yang suka buat makanan untuk diet,”cerocosnya lagi.

“Aku mau ahhhhhh…,”seloroh Kakak sambil melangkah ke dapur.

Apalagi coba kalau bukan untuk memasak Mi Kering Tropicana Slim.

Yup, saya merasa senang bahwa Tropicana Slim, sebagai brand dari Nutrifood telah melahirkan terobosan baru dalam dunia kuliner. Tropicana Slim telah meluncurkan produk mi dengan mengusung nama Mi Kering Tropicana Slim yang Less Fat Noodles. Peluang yang dilirik oleh Tropicana Slim memang tidak berlebihan, mengingat mi merupakan kuliner paling populer dan sangat disukai oleh semua orang. Saking gemarnya orang makan mi, mereka tidak tau lagi mana mi yang sehat dan tidak alias tidak pilih-pilih. Akhirnya tidak sedikit dari mereka penggemar mi yang terkena berbagai macam penyakit. Seperti obesitas, gangguan lambung dan system pencernaan yang tidak lancar.

Tropikana slim 5

Jadi tidak salah kan, kalau saya mengambil sikap melarang anak-anak makan mi instan. Kalaupun mau makan mi saya selalu memasak sendiri supaya lebih terjamin sehatnya. Tapi sekarang saya sudah nggak perlu cemas lagi menyantap mi instan. Kehadiran Mi Kering Tropicana Slim menghilangkan kecemasan saya. Satu masalah terpecahkan, bukan apa-apa saya memang sangat selektif dalam memilih makanan terutama buat anak-anak. Apalagi sekarang ini marak sekali dengan pemakaian formalin dan bahan sintetis. Bayangkan aja coba, sampe beras aja ada yang terbuat dari plastik. Duh, padahal itu bahan pokok loh !

Emang sih sebelum saya mencobanya sendiri, masih ada keraguan apakah Mi Kering Tropicana Slim benar-benar Less Fat Noodles. Saya juga penasaran soal kandungan gizinya, pokoknya semua yang menyangkut per-mi an deh. Daripada terus menerus penasaran sayapun membelinya. Alhasil saya mendapatkan info dari kemasan Mi Kering Tropicana Slim menyangkut kandungan gizinya. Sebenarnya kalau dilihat brand yang memproduksinya, rasanya sudah hilang keraguan saya. Siapa sih yang nggak kenal dengan brand Tropicana Slim dari Nutrifood ? Bukankah produk yang dihasilkan oleh Nutrifood tergolong produk khusus diet atau rendah kalori. Dalam sebungkus Mi Kering Tropicana Slim ( 64 gram ) terdapat 3 kelebihan yang terkandung dalam Mi Kering Tropicana Slim, yaitu :

Tropicana Slim 1Tropicana SLim 2Tropicana Slim 3

Bagi saya, Mi Kering Tropicana Slim sudah tidak usah diragukan lagi deh. Bukan cuma nilai gizinya tapi sehat dan enak. Soalnya saya sempet mikir juga, apa bener Mi Kering Tropicana Slim bisa seenak mi instan lainnya, karena ini kan mi diet. Dari kebanyakan makanan diet yang pernah saya coba rasanya kurang enak, nggak seenak makanan biasa. Tapi, setelah saya coba sendiri, saya bener-bener pasang jempol.

Tropicana Slim 5

Mulai sekarang saya mencabut “Larangan Makan Mi” berkat Mi Kering Tropicana Slim. Namun begitu saya tetap membatasi dan mengedukasi pada anak-anak bahwa makanan yang sehat itu adalah 4 sehat 5 sempurna dan BUKAN MI. Pada intinya semua makanan yang dimakan dalam batas wajar tidak  menimbulkan masalah. Nah, sekarang bagaimana dengan Anda ?

Ke Surabaya Mengejar Ilmu


Seinget saya, rasanya sudah hampir lima tahun lebih saya tidak pernah ke Surabaya lagi, tepatnya setelah saya menikah. Namun begitu, semua kenangan sewaktu saya ke Surabaya tidak pernah hilang. Dulu, dua atau tiga kali dalam setahun saya kerap ke Surabaya, urusannya macem-macemlah. Mulai dari menghadiri pesta, seminar atau sekedar kangen dengan kulinernya. Bahkan di bulan Desember tahun lalu ( 2014 ), saya di undang oleh sebuah tabloid wanita untuk menghadiri salah satu acaranya di Surabaya. Namun, karena sesuatu hal saya batal berangkat. Padahal saya sudah booking tiket pesawat dan hotel di Traveloka loh. Praktis semuanya jadi saya cancel, dengan segala konsekuensinya. Mau tau testimoni saya setelah pake Traveloka ?

“Nggak tau kenapa sejak saya pake Traveloka untuk urusan pesan memesan tiket dan hotel, saya nggak mau pindah ke situs lain. Saya curiga jangan-jangan Traveloka pake ilmu pelet nih. Ehh…ternyata bukan, itu karena Traveloka punya fitur yang keceh badai, tulisannya juga segede gaban bikin mata nggak salah pilih apa yang dicari.”

Nah, kali ini saya beneran pengen banget ke Surabaya, alasannya karena saat ini Traveloka mengadakan giveaway bertajuk “Terbang Gratis”. Kesempatan langka ini akan saya gunakan untuk terbang ke Surabaya. Emang ngapain sih ko saya pengen banget ke Surabaya, kenapa nggak ke Bali atau ke mana kek. Setelah saya runut-runut, kayaknya bukan suatu kebetulan deh kalau kejadian di belakang hari saling sambung menyambung. Cerita komplitnya begini, dua minggu lalu, saya menghadiri acara Penganugerahan Woman Preuneur Community di Gedung Indosat Jakarta.

Acara yang dihadiri oleh para perempuan pengusaha itu merupakan ajang tahunan dari komunitas tersebut. Dan di acara itulah saya berkenalan dengan salah satu undangan yang hadir berasal dari Surabaya namanya—Devi. Usaha yang dijalankan oleh Devi yaitu membuat tas yang dijual secara online. Dengan kata lain, produk yang dijual Devi merupakan hasil buatan sendiri ( home made ). Selain menjual produk hasil buatannya sendiri, Devi juga tidak segan-segan menularkan ilmunya dengan mengadakan workshop. Sebenarnya pada saat acara penganugerahan itu, Devi juga diminta untuk mengadakan workshop. Akan tetapi karena saya harus cepat pulang, jadi saya tidak bisa mengikutinya.

defi

Devi narsis dengan Bus City Tour di Jakarta

Obrolan saya dengan Devi memang tidak berlangsung lama, karena kami sama-sama sibuk. Obrolan singkat itu kami akhiri dengan saling invite akun facebook. Dua hari kemudian kami melanjutkan obrolan lewat inbox facebook. Saya bilang ke Devi kalau saya berminat untuk mengikuti workshopnya, masalah timbul karena Devi sendiri tidak ada jadwal ke Jakarta dalam waktu dekat. Namun dia berjanji jika ada workshop di Jakarta, maka dia akan memberitahu saya.

tas defi

Salah satu tas koleksi Devi 

Perkenalan saya dengan Devi dalam ajang tersebut seperti kata pepatah “Pucuk di Cinta Ulam pun Tiba”. Mengapa ? Pasalnya dalam beberapa hari ini saya memang sedang mencari ide usaha untuk membantu satu kelompok ibu-ibu bernama OYPMK ( Orang Yang Pernah Menderita Kusta ).

sitanala

Saya ( berdiri paling kanan ) bersama kaum OYPMK di Sitanala

Karena ketidak pastian itulah saya mau ke Surabaya untuk bertemu dengan Devi. Tapi mengingat kebutuhan yang padat merayap menjelang puasa ditambah lagi ada dua anak akan masuk sekolah, jadi keinginan tersebut saya tunda. Ingat DITUNDA bukan DIBATALKAN ! Namun begitu, bukan saya namanya kalau tidak mencari jalan keluar, tetep saja saya wira wiri di websitenya Traveloka. Apalagi coba kalau bukan cari tiket promo dan hotel murah. Dari wira wiri itulah saya jadi tau kalau Traveloka sedang mengadakan give away berhadiah tiket gratis. Apa ini juga suatu kebetulan ? Rasanya tidak, karena memang tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini, melainkan semua sudah diatur oleh Allah Ta’ala. I Believe it…!

Setelah saya bertemu dengan Devi dan tujuan utama sudah terlaksana, acara selanjutnya saya sempatkan untuk kulineran atau bertemu dengan beberapa teman. Sudah menjadi kebiasaan, kalau saya mau pergi ke suatu kota pastinya saya browsing dulu di internet mencari menu-menu special beserta alamatnya. Jadi ketika saya tiba di kota tersebut saya tidak bingung lagi mau ke mana, bisa menghemat waktu. Daripada browsing sana sini, ngabis-ngabisin pulsa internet ternyata di laman Traveloka ada juga loh informasi tempat makan. Menu-menu ini ada yang sudah pernah saya coba dan ada pula yang tidak. Saya penasaran aja, apakah rasanya masih tetap sama atau sudah berubah. Melihat singkatnya waktu, saya hanya akan pergi ke satu atau dua tempat saja, mau tau kuliner yang akan saya datangi ?

1. Mie Pecun, kayaknya ini menu baru deh soalnya dulu belum ada atau saya aja yang nggak tau. Karena nggak tau jadi saya belum pernah nyoba Mie Pecun yang merupakan singkatan dari Mie Pedas Bukan Racun. Tempat mangkal Mie Pecun ini di Jalan Anjasmoro, buka mulai dari jam 18.00 sampai 02.00 pagi. Menu ini benar-benar bikin penasaran saya karena rasanya yang pedas gilaaaaa…!

Mie Pecun

2. Sate Klopo Ondomohen Ny. Asih, dari namanya saya bisa terjemahkan begini, sate dengan bumbu kelapa. Ternyata terjemahan saya ini hampir mendekati benar. Sate klopo memang dibaluri ( siram–red ) parutan kelapa saat dibakar. Waktu beberapa kali ke Surabaya saya juga belum pernah mencicipi menu ini. Jadi saya tidak akan melewati kesempatan untuk mencicipinya saat ke Surabaya nanti. Warung Sate Klopo yang terletak di Jl. Walikota Mustajab 36 ini belum ada juga di Jakarta, jadi So What gitu loh…?

sate klopo

3. Soto Lamongan Cak Har, sebenarnya Soto Lamongan sudah banyak di Jakarta, tapi saya tetep akan coba di Surabaya nanti. Katanya sih Soto Lamongan ini bukan kuliner asli Surabaya, yang bikin saya penasaran sama Soto Lamongan Cak Har ini terletak pada isiannya. Isi Soto Lamongan ini sangat beragam, ada kepala ayam, ceker, kulit dan ……. Balungan. Kalau di Jakarta Soto Ayam itu hanya berisi daging ayam atau ceker aja, kurang beragam.

soto lamongan

4. Ice Cream Zangrandi, rasanya nggak salah kalau saya sempatkan mampir ke kedai Ice Cream Zangrandi. Ice Cream yang sangat melegenda ini sangat popular di Surabaya, memiliki aneka ragam topping. Di kedai ice cream ini kita juga bisa menikmati tempatnya yang didesain seperti bangunan jaman Belanda Tempo Doeloe. Udara Surabaya yang panas sangat cocok menyantap ice cream ini.

ice krim

Saya memang tidak lama di Surabaya, hanya 2 malam 3 hari saja, karena tujuan utama saya cuma ingin mengikuti workshopnya Devi. Selain itu saya juga tidak terbiasa meninggalkan keluarga dalam waktu lama. Saya janji setelah urusan saya selesai semua, saya akan langsung pulang ke Jakarta, jadi nggak mampir ke mana-mana lagi. Maklum saya juga memiliki beberapa sanak saudara di Surabaya. Kalau mampir-manpir nanti malah tambah lama kembali ke Jakartanya. Untuk mentaati jadwal kunjungan saya ke Surabaya, saya juga sudah membuat itenary perjalanan. Maksud dibuatnya itenary ini agar saya taat pada jadwal, otomatis jika tidak tertulis dalam itenary nggak perlu diadakan.

suramadu

Jembatan Suramadu

Hal ini juga sering saya lakukan apabila saya berlibur dengan keluarga, itupun jika berliburnya memakan waktu minimal 3 malam 4 hari. Saya selalu tanyakan kepada anggota keluarga, apa-apa saja yang mereka inginkan, lalu saya buatkan itenarynya. Beruntung sekali dijaman serba internet ini, semua bisa dibrowsing lebih dulu. Dari mulai kuliner, belanja souvenir, tiket masuk tempat wisata dan banyak lagi. Berikut itenary yang saya buat untuk perjalanan ke Surabaya nanti :

Traveloka 7

Oh ya, untuk penerbangannya saya percayakan pada Citilink, meskipun belum pernah menggunakan Citilink, temen-temen atau sodara menyarankan pake Citilink aja. Berdasarkan testimoni dari mereka, Citilink pesawatnya baru-baru, tepat waktu dan pelayanan awak kabinnya ramah-ramah. Soal harga tiket jujur aja ya, sejak kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu itu saya ko lebih milih pesawat yang harga tiketnya sebanding dengan kondisinya. Saya nggak mau mempertaruhkan nyawa hanya dengan beberapa lembar uang ribuan. Ini bukan sok tau loh, tapi lebih pada pikiran realistis aja. Masak sih harga tiket murah dengan fasilitas memadai, mana bisa ?

citilink

Emang bener, urusan nyawa hanya pada Allah Ta’ala tapi sebagai manusia wajib juga untuk berusaha. Selain testimoni dari beberapa temen dan sodara, saya juga baca-baca berita dari media online, ternyata Citilink telah menambah armada pesawatnya yang semuanya baru berjenis Airbus A320. Coba aja kita bayangkan, jangankan di udara, di jalan darat aja kita nggak mau kan naik kendaraan tua yang rewel. Kendaraan yang seharusnya sudah masuk museum tapi masih dipakai, itu sih namanya cari penyakit. Urusannya bukan cuma mogok tapi bisa mengakibatkan kecelakaan. Nah kalau sudah begitu siapa yang rugi ?

Rencananya lagi saya akan berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma, karena tempat tinggal saya dekat dengan Bandara tersebut ( daerah Kramatjati ). Sayangnya setelah saya browsing di web resmi Citilink, penerbangan dari Halim PK tidak ada yang berangkat pagi, adanya sore sampe malam. Padahal saya maunya bisa berangkat pagi atau minimal sianglah. Akhirnya saya pastikan berangkat sore dari Halim PK, jadi sampe Surabaya Maghrib menjelang malam.

Traveloka 8

Seperti kebiasaan saya sebelumnya, kalau libur bareng keluarga, saya selalu memilih hotel yang nyaman dan aman buat anak-anak. Tapi karena ke Surabaya nanti saya hanya sendiri, maka saya tidak terlalu selektif memilih hotel. Lagipula saya paling cuma numpang tidur doang ko di hotel alias beberapa jam saja, selebihnya banyak kegiatan outdoor. Bagi saya yang penting asal kamar mandinya bersih, sudah cukuplah, kalau kamarnya besar atau kecil buat saya juga nggak jadi masalah. Jauh atau dekat juga sama aja, toh saya tidak membawa anak-anak. Setelah browsing di Traveloka App, pilihan saya jatuh pada Hotel 88 Embong Kenongo yang beralamat di Jl. Embong Kenongo 88 No. 11 – 17, Surabaya. Saya pilih hotel ini, karena berdasarkan testimoni tamu-tamu toiletnya bersih dan kamarnya tidak terlalu besar, cukuplah buat sendiri.

Traveloka 9

Terus terang saya belum pernah pesan tiket dan hotel lewat Traveloka App, lebih sering pesan di situsnya. Melihat salah satu iklan Traveloka App versi cewek yang sedang melakukan Bug Jumping, rasanya penasaran juga. Apa iya sih pesan hotel semudah itu ? Hanya tinggal menyentuh layar hape ( padahal cewek itu sedang Jumping dari tempat yang tinggi ) eh tau-tau sudah berada di kasur empuk hotel. Daripada terus menerus penasaran, sayapun mendownlod Traveloka App pada smartphone saya. Lalu saya coba pesan tiket pesawat dan hotel untuk perjalanan saya ke Surabaya ini.

Setelah saya coba, rasa penasaranpun hilang dan berganti menjadi takjub, betapa tidak iklan Traveloka App versi cewek Bug Jumping itu beneran, GAMPANG dan MUDAH ! Tampilannya juga simple, memudahkan orang untuk memesan tiket dan hotel dalam kondisi apapun, termasuk bila sedang terburu-buru. Kemudahan lainnya yaitu kita nggak perlu print e-tiket/voucher hotel lagi. Kita tinggal menunjukkan e-tiket/voucher hotel via Traveloka App dari smartphone saat chek-in. Dan data pemesanan via Traveloka App juga dapat dicek kapanpun bahkan tanpa koneksi internet sekalipun.

Traveloka 1


Laman muka Traveloka App

Bukan itu saja kelebihan Traveloka App, kita juga dapat melihat data booking dari berbagai perangkat. Caranya tinggal Log-in aja lalu klik Pemesanan Saya, maka tampilan data booking akan segera muncul di layar smartphone. Jadi kita nggak perlu takut data bookingnya hilang karena e-tiket/voucher hotel sudah tersinkronisasi secara otomatis. Soal harga juga berbeda, harga pada Traveloka App ternyata lebih murah daripada di situsnya. Wah…wah…benar-benar sangat menguntungkan pake Traveloka App ini, pesan tiket dan hotel jadi semudah membalikkan telapak tangan. Di manapun, kapanpun dan dalam situasi apapun Traveloka App bisa diandalkan untuk semua urusan.

* Sumber gambar menu pinjam dari sini

* Sumber Jembatan Suramadu

Bosan Dengan Menu Sehari-hari ? Pesan Bakmi GM Aja !

Bakmi GM
Hampir setiap hari dari Senin sampai Sabtu, saya selalu masak makanan sendiri. Alasannya emang tepat, murah dan sehat. Tapi lama kelamaan saya merasa bosan juga, karena saya sudah tahu cita rasa masakan yang saya buat. Seperti malam ini Sabtu malam Minggu, menu hari ini adalah nasi kuning beserta teman-temannya, ada orek tempe kering, telur dadar yang diiris tipis, bihun goreng, lalap ketimun, kerupuk, bawang goreng dan sambal. Sejatinya menu ini untuk sarapan, tapi karena kerjaan tulisan saya menumpuk jadilah nasi kuning tersebut buat makan siang juga. Akhirnya sarapan plus makan siang dengan menu yang sama yaitu Nasi Kuning.

nasi kuning

Malam pun tiba, perut sudah mulai berisik tanda minta diisi. Nasi kuning menu tadi siang tinggal sepiring, mau makan nasi goreng malas bikinnya, sate ayam bosen juga. Mau cari makan di luar, aduh maaaaak nggak kuat macetnya. Kelamaan mikir perut semakin keras bunyinya, tanpa ba bi bu, saya langsung cari handphone untuk menghubungi Bakmi GM. Mengapa Bakmi GM ? Alasannya cuma satu, bosen makan nasi. Kayaknya enak nih malam-malam makan Bakmi GM, seger dan mengenyangkan.

“Bisa dibantu ?”tanya suara diseberang telpon.

“Mau pesen Pak,”kataku.

“Kita data dulu ya Bu,”terdengar suara lagi.

Setelah beberapa pertanyaan saya jawab, operator lalu menawarkan paket-paket yang tersedia. Tapi saya menolak karena saya punya pesanan sendiri. Sayapun lalu memesan 2 porsi Bakmi GM dan setengah pangsit goreng.

“Berapa lama ya Pak ?”tanyaku.

“Kira-kira 60 menit dari sekarang Bu,”jawabnya.

“Oh…lama juga ya, ya udah saya tunggu deh Pak,”kataku menutup telepon.


Tiga puluh menit berlalu, saya masih setia menunggu pesanan Bakmi GM sambil menonton TV bersama suami. Tiba-tiba… “Ting tong, ting tong,”terdengar suara bel rumah. Saya bergegas keluar melihat siapa yang datang. Ternyata pesanan Bakmi GM saya sudah datang.

GM 4

Box Bakmi GM Delivery

“Loh…ko cepet Pak, katanya sekitar satu jam,”ujarku

“Nggak ko Bu, biasanya emang setengah jam,”kata si Pengantar

Lalu saya menyodorkan uang lembaran seratus ribu rupiah, dan si Pengantar memberikan kembaliannya.

“Mari Bu, permisi,”kata si Pengantar.

“Ya…terimakasih ya Pak,”teriakku sambil menenteng Bakmi GM ke dalam.

GM 3

Yipiiiii..pesenanku sudah datang cuma 30 menit loh !

Saya pun menyantap Bakmi GM bersama suami dengan lahap. Ah…akhirnya rasa bosan dengan menu sehari-hari dapat diatasi dengan angka 1.500.677. Ya, bagi yang belum tau, angka 1.500.677 adalah angka baru buat pelayanan BAKMI GM DELIVERY. Pelayanannya oke, Bakmi GM nya juga masih hangat waktu diterima, jadi jangan takut mienya dingin kalau pesen lewat BAKMI GM DELIVERY. Selain Bakmi GM kemarin malam saya juga pesen pangsit goreng, setelah dibuka pangsit gorengnya masih anget dan renyah. Oh ya, pelayanan BAKMI GM DELIVERY cuma sampe jam 20.30 WIB aja ya, makanya buruan pesen.

GM 1

Oke deh buat yang bosan dengan menu sehari-hari seperti saya atau jika lapar menyerang tiba-tiba tapi males ke luar karena terjebak macet, jangan panik. Telepon aja 1.500.677 dijamin 30 menit pertolongan pertama pasti datang. Selamat mencoba !

GM 2